Brent Tembus US$103, Ketegangan AS-Iran Kembali Memanas

Key Takeaways
Brent ditutup di US$103,08 per barel (naik 3,86%) setelah Presiden Iran menegaskan negaranya tidak akan menyerah kepada AS.
Gedung Putih membantah laporan rencana larangan ekspor diesel 90 hari, dan Menteri Energi AS Chris Wright menilai larangan tersebut tidak akan efektif.
Pertamina Patra Niaga menyatakan tidak ada kenaikan harga BBM subsidi hingga akhir 2026, sementara BBM nonsubsidi mengikuti formula yang memperhitungkan harga minyak dunia.
Gotrade News - Harga minyak mentah Brent melonjak US$3,83 atau 3,86% ke level US$103,08 per barel pada perdagangan Rabu (23/9/2026), sementara West Texas Intermediate (WTI) naik US$1,64 atau 1,81% ke US$92,16 per barel. Menurut kumparan, reli harga minyak ini dipicu kembali memanasnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.
Pada hari yang sama, pasar diesel AS diwarnai laporan rencana larangan ekspor diesel selama 90 hari, yang kemudian dibantah Gedung Putih. Di Indonesia, harga minyak dunia di atas US$100 per barel ikut menjadi sorotan karena merupakan salah satu komponen pembentuk harga BBM nonsubsidi.
Pemicu Reli Brent: Pezeshkian Tegaskan Iran Tak Akan Menyerah
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan dalam pidatonya di Sidang Umum PBB pada 23 September bahwa Iran tidak akan pernah menyerah kepada Amerika Serikat. Pernyataan itu muncul sehari setelah Presiden AS Donald Trump memperingatkan bahwa ia dapat menghancurkan Iran, seperti dilaporkan kumparan.
Di jalur diplomasi, seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa Teheran tengah meninjau tanggapan AS atas proposal untuk mengakhiri permusuhan. Pembahasan tersebut mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz dan pencabutan blokade angkatan laut AS, meski perbedaan pendapat yang signifikan masih ada.
Kenaikan harga terjadi meski data Energy Information Administration (EIA) menunjukkan stok minyak mentah AS naik 3 juta barel menjadi 426,4 juta barel. Angka itu berlawanan dengan perkiraan analis yang memproyeksikan penurunan sebesar 641.000 barel.
Dari sisi pasokan, Arab Saudi kembali mengoperasikan pipa East-West menuju Laut Merah pada 22 September setelah sempat ditutup akibat serangan drone pada 11 September. Irak juga masih mengekspor lebih dari 3 juta barel per hari, dengan pengiriman melalui Turki diperkirakan melampaui 600.000 barel per hari.
Di sektor saham AS, arah harga minyak mentah menjadi sentimen utama yang dipantau pada emiten energi terintegrasi seperti Exxon Mobil (XOM) dan Chevron (CVX).
Gedung Putih Bantah Rencana Larangan Ekspor Diesel 90 Hari
Melansir Reuters, seorang pejabat Gedung Putih membantah laporan Politico yang menyebut AS tengah menyiapkan larangan ekspor diesel selama 90 hari. Laporan itu muncul ketika harga diesel di AS berada di level rekor di atas US$6,50 per galon, di tengah perang di Iran dan Ukraina yang membatasi pengiriman minyak dan bahan bakar.
Menteri Energi AS Chris Wright menilai larangan ekspor diesel tidak akan berhasil dan justru dapat mendorong kenaikan harga bensin serta avtur. Menurut Wright, yang dibahas pemerintah adalah cara paling efisien untuk menambah pasokan diesel di dalam negeri AS sambil menjaga aliran bensin dan avtur tetap maksimal, termasuk lewat langkah-langkah yang bersifat sukarela.
Dilansir kumparan, sejumlah analis juga mengingatkan bahwa larangan semacam itu berpotensi memperparah gangguan pasokan global. Isu kebijakan ekspor diesel ini turut menjadi sentimen yang dicermati pada saham perusahaan kilang AS seperti Valero Energy (VLO).
Harga BBM di Indonesia: BBM Subsidi Ditahan hingga Akhir 2026
Di dalam negeri, Pertamina Patra Niaga menegaskan tidak akan menaikkan harga BBM subsidi hingga akhir 2026. "Untuk BBM subsidi sesuai arahan pemerintah tidak ada kenaikan harga hingga akhir 2026," kata Kitty Andhora dari Pertamina Patra Niaga, dikutip dari Bloomberg Technoz.
Berbeda dengan BBM subsidi, harga BBM nonsubsidi disesuaikan mengikuti formula pemerintah yang memperhitungkan harga minyak mentah dunia, nilai tukar rupiah, pajak, serta faktor relevan lainnya. Menurut detikOto, per 1 September 2026 tiga jenis BBM nonsubsidi mengalami kenaikan, dengan lonjakan terbesar pada BBM jenis diesel.
Jenis BBM (wilayah Jawa) | Harga sebelumnya | Harga per 1 September 2026 | Kenaikan |
|---|---|---|---|
Pertamax Turbo | Rp18.300/liter | Rp19.600/liter | Rp1.300 |
Dexlite | Rp19.700/liter | Rp23.700/liter | Rp4.000 |
Pertamina Dex | Rp21.150/liter | Rp25.200/liter | Rp4.050 |
Sementara itu, harga Pertalite di Jawa tercatat Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter.
Dengan Brent kembali bertahan di atas US$100 per barel, perkembangan negosiasi AS-Iran terkait Selat Hormuz dan kepastian kebijakan ekspor diesel AS menjadi faktor yang patut dicermati berikutnya. Investor yang memantau saham energi AS di Gotrade perlu memperhitungkan tingginya volatilitas harga minyak di tengah ketidakpastian geopolitik tersebut.
Sumber
Harga Minyak Naik Hampir 4%, Ketegangan AS-Iran Kembali Memanas (kumparan)
White House denies report US is considering a diesel export ban (Reuters via Investing.com)
Minyak Naik di Atas US$100, Pertamina Tahan Harga BBM Subsidi (Bloomberg Technoz)
Naik, Ini Daftar Harga BBM Se-Indonesia 1 September 2026 (detikOto)
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.














