The Fed Tahan Suku Bunga, Risiko Inflasi Meningkat

Rendy Andriyanto
Rendy Andriyanto
Gotrade Team
Ditinjau oleh Analis Internal Gotrade
The Fed Tahan Suku Bunga, Risiko Inflasi Meningkat

Share this article

Gotrade News - Bank Sentral Amerika Serikat, The Fed, memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di tengah tekanan inflasi yang tinggi serta ketidakpastian akibat konflik geopolitik. Dengan suara 11-1, Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) memilih menahan suku bunga di kisaran 3,5% hingga 3,75%. Keputusan ini berdampak luas pada kredit konsumen dan dunia usaha.

Keputusan tersebut penting karena mempengaruhi ekspektasi pasar dan stabilitas ekonomi global. Di tengah inflasi dan geopolitik, investor kini mencermati peluang pemangkasan suku bunga di masa depan.

  • Risiko inflasi meningkat akibat ketidakpastian geopolitik.
  • Kebijakan suku bunga The Fed memicu pelemahan harga emas.
  • Investor harus memantau kelanjutan konflik global dan inflasi.

Menyusul keputusan ini, harga emas melemah tajam, dengan harga spot turun 2,2% menjadi USD 4.895,61 per ounce. Ini menandai penurunan selama enam hari berturut-turut. Ketua The Fed, Jerome Powell, menyoroti risiko inflasi dari kenaikan harga energi akibat ketegangan di Timur Tengah.

Sementara itu, Gubernur Stephen Miran dan Christopher Waller memiliki pandangan berbeda tentang kebijakan suku bunga. Miran mendukung pemangkasan sementara Waller memilih menahan. Proyeksi terbaru menunjukkan ekonomi AS akan tumbuh 2,4% tahun ini, tetapi inflasi diperkirakan naik menjadi 2,7%.

The Fed menilai ketidakpastian global, terutama dari konflik di Timur Tengah, dapat mempengaruhi perekonomian AS. Pernyataan ini menimbulkan kewaspadaan di kalangan investor, mengingat dampak perang di Selat Hormuz pada harga minyak.

Meningkatnya ketegangan Iran-Israel juga membawa ketidakpastian baru. Risiko inflasi dari harga energi dapat mempermenyit dan memperkeruh prospek pasar, sementara kebijakan The Fed dipertanyakan untuk jangka pendek.

Harga emas sebagai aset safe haven dapat terpengaruh oleh konflik ini. Di satu sisi, peningkatan risiko geopolitik biasanya mendorong permintaan akan emas, sementara kebijakan ketat The Fed bisa menekan harga emas lebih lanjut.

Pasar kini menunggu langkah The Fed berikutnya serta perkembangan konflik di Timur Tengah. Apakah ketegangan geopolitik ini akan terus mendominasi prospek inflasi dan kebijakan suku bunga, serta bagaimana dampaknya terhadap investasi?

Dengan situasi ini, The Fed menghadapi dilema kebijakan untuk menjaga stabilitas ekonomi sembari mengatasi tekanan eksternal. Langkah selanjutnya akan sangat kritis dalam menetapkan arah pasar dan inflasi di masa depan.


Referensi:

Featured Image: GPT Image 1.5

Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.


Artikel terkait

Dipercaya

lebih dari

1M+

Trader di Indonesia 🌏

Keamananmu adalah prioritas kami 🔒

Gotrade terdaftar & diawasi

KominfoOJKSOCFintech Indonesia

Penghargaan atas kinerja dan inovasi terdepan!🏅

 

Benzinga Global Fintech Awards 2024
Five Star Award 2024
Highest Trading Volume in Indonesia, 2024
Highest Combined 2022
Mockup Two Phones

Trading Lebih Cepat. Lebih Mudah. Lebih Cerdas.

#ReadyGoTrade

Gotrade Green Logo Top Left
AppLogo

Gotrade