The Fed Terpecah, Ini Sinyal Suku Bunga AS Berikutnya

The Fed Terpecah, Ini Sinyal Suku Bunga AS Berikutnya

Share this article

Jakarta, Gotrade News - Risalah pertemuan Federal Reserve bulan Desember 2025 baru saja dirilis dan mengungkap perpecahan tajam di antara para pejabat bank sentral AS.

Kondisi ini memberi sinyal kuat bahwa siklus pemangkasan suku bunga agresif mungkin akan melambat atau berhenti sejenak di awal tahun ini.

Kamu perlu memperhatikan dinamika ini karena ketidakpastian arah kebijakan The Fed akan kembali menjadi penentu utama volatilitas pasar global dalam beberapa pekan ke depan.


Key Takeaways

  • Keputusan pemangkasan bunga Desember diwarnai perbedaan pendapat (dissent) terbanyak sejak tahun 2019.
  • Pejabat The Fed kini terbagi antara kekhawatiran pelemahan tenaga kerja dan risiko inflasi yang menetap.
  • Probabilitas suku bunga ditahan pada pertemuan Januari meningkat signifikan di kalangan pelaku pasar.

Baca Juga: BofA: AI Baru Setengah Jalan, Ini 6 Saham Chip Pilihan 2026

Perdebatan Internal Memanas

Dokumen risalah menunjukkan bahwa keputusan memangkas bunga sebesar 25 basis poin menjadi 3,50%-3,75% tidak diambil dengan kesepakatan bulat.

Terdapat tiga anggota FOMC yang menolak keputusan tersebut, dengan dua anggota memilih menahan suku bunga dan satu menginginkan pemangkasan lebih besar. Menurut laporan CNBC, ini adalah jumlah penolakan terbanyak dalam satu pertemuan sejak enam tahun terakhir.

Perbedaan pandangan ini dipicu oleh data ekonomi yang "gelap" akibat penutupan layanan pemerintah (government shutdown) pada Oktober dan November lalu.

Sebagian pejabat merasa perlu melihat data tenaga kerja dan inflasi yang lebih lengkap sebelum melanjutkan pelonggaran kebijakan. Ketidakpastian data ini membuat posisi kebijakan moneter AS menjadi sangat kondisional terhadap laporan ekonomi yang akan rilis minggu ini.

Dilema Inflasi vs Tenaga Kerja

Mayoritas pejabat menilai risiko terhadap pasar tenaga kerja kini lebih besar daripada risiko inflasi, sehingga pemangkasan dianggap perlu untuk mencegah pemburukan ekonomi.

Namun, risalah juga mencatat adanya kekhawatiran bahwa inflasi bisa kembali naik jika pelonggaran dilakukan terlalu cepat. Beberapa peserta rapat menyoroti bahwa faktor struktural seperti adopsi AI mungkin mendistorsi data produktivitas dan tenaga kerja saat ini.

Pasar bereaksi hati-hati terhadap rilis ini, dengan indeks utama seperti SPDR S&P 500 ETF Trust bergerak tipis di zona merah. Pelaku pasar menangkap sinyal bahwa The Fed tidak lagi satu suara dalam menjamin penurunan biaya pinjaman di masa depan. Narasi "higher for longer" yang sempat mereda kini kembali menjadi pertimbangan risiko bagi investor saham.

Dampak Tarif dan Rotasi Pejabat

Selain data makro, diskusi mengenai dampak tarif impor juga menjadi sorotan utama dalam pertemuan tersebut.

Banyak pejabat optimis efek inflasi dari tarif akan bersifat sementara, namun ketidakpastian mengenai seberapa besar biaya yang dibebankan ke konsumen akhir tetap tinggi. Hal ini menjadi alasan tambahan bagi kubu hawkish untuk menyarankan jeda dalam pemangkasan bunga.

Situasi ini semakin kompleks karena komposisi pemegang hak suara (voter) FOMC akan berubah pada tahun 2026 ini. Anggota baru seperti Presiden The Fed Cleveland Beth Hammack dan Presiden The Fed Dallas Lorie Logan dikenal memiliki pandangan yang lebih ketat terhadap inflasi.

Perubahan komposisi ini berpotensi membuat konsensus pemangkasan bunga menjadi lebih sulit dicapai di pertemuan mendatang.

Prediksi Pasar ke Depan

Respons pasar obligasi terlihat langsung, dengan imbal hasil Treasury 10-tahun bergerak naik tipis pasca rilis risalah tersebut.

Kenaikan yield ini biasanya menjadi sentimen negatif bagi instrumen sensitif bunga seperti iShares 7-10 Year Treasury Bond ETF. Pedagang kini bertaruh bahwa The Fed akan memilih untuk "wait and see" pada pertemuan Januari nanti.

Data dari CME FedWatch Tool menunjukkan probabilitas suku bunga ditahan di level 3,50%-3,75% pada Januari telah naik menjadi 84,5 persen. Bagi investor, ini berarti fokus pasar akan beralih total pada rilis data tenaga kerja (NFP) dan inflasi (CPI) mendatang sebagai satu-satunya kompas arah pasar.

Baca Juga: ETF Emas Melesat 200% di 2025, Tren Berlanjut?

Referensi:


Disclaimer

PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.


Artikel terkait

Dipercaya

lebih dari

1M+

Trader di Indonesia 🌏

Keamananmu adalah prioritas kami 🔒

Gotrade terdaftar & diawasi

KominfoOJKSOCFintech Indonesia

Penghargaan atas kinerja dan inovasi terdepan!🏅

 

Benzinga Global Fintech Awards 2024
Five Star Award 2024
Highest Trading Volume in Indonesia, 2024
Highest Combined 2022
Mockup Two Phones

Trading Lebih Cepat. Lebih Mudah. Lebih Cerdas.

#ReadyGoTrade

Gotrade Green Logo Top Left
AppLogo

Gotrade