Bias Saham Murah: Penyebab dan Dampaknya bagi Investor

Erwanto Khusuma
Erwanto Khusuma
Tim Gotrade
Ditinjau oleh Analis Internal Gotrade

Ringkasan

  • Bias saham murah terjadi saat investor terlalu fokus pada harga nominal rendah.
  • Harga murah belum tentu berarti saham itu murah secara value atau layak dibeli.
  • Untuk mengurangi bias ini, investor perlu membedakan harga, valuasi, dan kualitas bisnis.
Bias Saham Murah: Penyebab dan Dampaknya bagi Investor

Share this article

Bias saham murah sering muncul saat investor melihat harga saham yang rendah lalu langsung merasa saham itu lebih menarik. Sekilas, logika ini terdengar masuk akal. Harga lebih murah terlihat seperti kesempatan yang lebih besar.

Namun dalam psikologi investasi, harga murah sering menciptakan ilusi. Investor merasa aset itu “lebih terjangkau” atau “lebih mudah naik”, padahal harga saham saja tidak cukup untuk menilai apakah sebuah perusahaan benar-benar menarik.

Artikel ini membahas kenapa investor suka harga murah, bagaimana bias ini bekerja, dan kenapa membedakan harga dengan value saham sangat penting dalam keputusan investasi.

Kenapa Investor Suka Harga Murah?

Dalam banyak kasus, investor lebih nyaman melihat saham dengan harga nominal rendah. Saham Rp200 atau $5 sering terasa lebih “ringan” dibanding saham Rp20.000 atau $500.

Masalahnya, rasa nyaman ini lebih banyak datang dari persepsi, bukan dari kualitas bisnis. Investor melihat angka kecil dan merasa risikonya juga kecil. Padahal belum tentu begitu.

Menurut Morningstar, ada beberapa alasan kenapa bias saham murah sering muncul:

  • harga rendah terasa lebih mudah dibeli
  • investor merasa potensi naiknya lebih besar
  • angka kecil terlihat lebih aman secara psikologis
  • saham mahal sering terasa “sudah ketinggian”
  • investor pemula cenderung fokus pada nominal, bukan valuasi

Di sinilah psikologi investasi mulai memengaruhi keputusan. Investor tidak lagi menilai bisnis secara utuh, tetapi mulai terpaku pada harga yang terlihat murah di permukaan.

Harga Murah Belum Tentu Murah secara Value

Ini bagian yang paling sering disalahpahami. Harga saham yang rendah tidak otomatis berarti saham itu undervalued.

Saham bisa terlihat murah karena memang bisnisnya sedang lemah, prospeknya menurun, labanya tertekan, atau market memberi valuasi rendah karena risikonya tinggi. Jadi, harga murah bisa berarti peluang. Namun bisa juga berarti peringatan.

Sebaliknya, saham dengan harga nominal tinggi belum tentu mahal. Kalau kualitas bisnisnya kuat, profit tumbuh, dan valuasinya masih masuk akal, saham itu tetap bisa menarik.

Harga dan value adalah hal yang berbeda

Harga adalah angka yang terlihat di layar saat ini.

Value adalah nilai yang coba diperkirakan investor dari kualitas bisnis, arus kas, prospek pertumbuhan, neraca, dan daya tahan perusahaan dalam jangka panjang.

Perbedaan ini sangat penting. Investor yang terlalu fokus pada harga nominal sering lupa bahwa pasar tidak memberi label “murah” atau “mahal” hanya dari angka per lembar saham.

Membandingkan Harga vs Value Saham

Agar lebih jelas, berikut perbedaan sederhana antara harga dan value saham:

Aspek Harga Saham Value Saham
Apa yang dilihat Angka per lembar saham saat ini Nilai bisnis yang diperkirakan
Sifat Terlihat langsung di market Perlu dianalisis
Dipengaruhi oleh Sentimen, supply-demand, berita Fundamental, profitabilitas, prospek
Bisa menipu? Ya, sangat mudah Tetap bisa salah, tapi lebih mendalam
Dipakai untuk Mengetahui level transaksi Menilai apakah saham layak dibeli

Tabel ini menunjukkan bahwa harga hanya titik awal. Kalau investor berhenti di harga, keputusan jadi sangat dangkal.

Kenapa Saham Murah Terlihat Lebih Menarik

Dalam psikologi investasi, manusia cenderung menyukai sesuatu yang terlihat seperti diskon. Pola pikir ini masuk akal dalam belanja sehari-hari, tetapi tidak selalu cocok di pasar saham.

Kalau harga baju turun, mungkin memang sedang lebih murah. Namun kalau harga saham turun, alasannya bisa jauh lebih kompleks.

Investor sering tertarik pada saham murah karena merasa:

  • “kalau naik sedikit saja, untungnya besar”
  • “lebih gampang naik dari 200 ke 400 daripada 2.000 ke 4.000”
  • “kalau murah, risikonya pasti kecil”

Padahal logika seperti ini sering menyesatkan. Persentase kenaikan tidak ditentukan oleh murah atau mahalnya nominal saham, tetapi oleh perubahan valuasi dan ekspektasi pasar.

Saham $5 tetap bisa turun ke $2. Saham $500 juga tetap bisa naik ke $700. Harga nominal tidak otomatis menentukan peluang atau risiko.

Dampak Bias Saham Murah ke Keputusan Investasi

Bias saham murah bisa membuat investor memilih saham berdasarkan angka yang terasa nyaman, bukan berdasarkan kualitas bisnis. Ini berbahaya karena fokus berpindah dari analisis ke ilusi harga.

Beberapa dampak yang sering muncul:

  • terlalu cepat masuk ke saham yang terlihat murah
  • mengabaikan kualitas fundamental perusahaan
  • meremehkan risiko bisnis yang sebenarnya
  • terjebak pada saham yang terus murah
  • merasa sudah “hemat” padahal belum tentu dapat value

Dalam banyak kasus, investor akhirnya memegang saham yang memang murah karena alasan yang buruk. Ini berbeda dengan membeli saham undervalued yang benar-benar punya selisih antara harga pasar dan nilai bisnis.

Sebelum membeli saham hanya karena terlihat murah, coba cek dulu kualitas bisnis dan valuasinya. Kamu juga bisa mulai riset dan trading lewat Gotrade untuk membandingkan saham AS dengan lebih praktis.

Tanda Investor Terlalu Fokus pada Harga Murah

Kadang bias ini tidak terasa jelas. Investor merasa dirinya sedang rasional, padahal keputusannya sudah sangat dipengaruhi nominal harga.

Beberapa tanda yang sering muncul:

  • lebih tertarik pada saham murah daripada bisnis bagus
  • menghindari saham mahal hanya karena nominalnya tinggi
  • merasa saham murah pasti lebih aman
  • jarang melihat rasio valuasi atau kualitas laba
  • membeli hanya karena merasa “sayang kalau tidak diambil”

Kalau pola ini sering muncul, kemungkinan masalahnya ada pada cara pandang terhadap harga, bukan pada peluang investasinya.

Cara Mengurangi Bias terhadap Harga Murah

Bias ini bisa dikurangi kalau investor membiasakan diri melihat saham sebagai bagian dari bisnis, bukan sekadar angka di layar.

Beberapa langkah sederhana yang bisa membantu:

  • lihat valuasi, bukan hanya harga nominal
  • bandingkan price-to-earnings, growth, dan profitabilitas
  • pahami alasan kenapa saham terlihat murah
  • cek apakah murahnya karena peluang atau karena masalah
  • biasakan bertanya, “ini murah secara harga, atau murah secara value?”

Pertanyaan terakhir sangat penting. Investor yang bisa membedakan harga dan value biasanya membuat keputusan yang lebih tenang dan lebih rasional.

Pelajaran Penting untuk Investor

Pelajaran terbesarnya adalah ini: saham murah tidak selalu berarti saham bagus. Dalam psikologi investasi, harga murah sering terasa menarik karena memberi ilusi kesempatan.

Namun keputusan investasi yang sehat tidak dibangun dari ilusi harga. Keputusan yang lebih baik datang dari pemahaman value, kualitas bisnis, dan alasan kenapa market memberi harga tertentu pada saham itu.

Kalau investor bisa melewati bias saham murah, kualitas analisis biasanya ikut membaik. Fokus tidak lagi pada “berapa murah nominalnya”, tetapi pada “berapa layak bisnis ini dibeli di harga sekarang.”

Kesimpulan

Bias saham murah muncul saat investor terlalu tertarik pada harga nominal rendah dan menganggapnya sebagai peluang otomatis. Padahal dalam investasi, harga dan value adalah dua hal yang berbeda.

Kalau ingin keputusan lebih sehat, jangan berhenti di angka yang terlihat murah. Lihat juga kualitas bisnis, valuasi, dan alasan kenapa market memberi harga tersebut. Download aplikasi Gotrade untuk bantu riset saham AS dan bangun proses investasi yang lebih rasional.

FAQ

Apa itu bias saham murah?
Bias saham murah adalah kecenderungan investor menganggap saham berharga rendah lebih menarik hanya karena nominalnya terlihat murah.

Apakah saham murah selalu bagus untuk dibeli?
Tidak, karena harga murah belum tentu berarti valuasinya murah atau bisnisnya berkualitas.

Apa bedanya harga dan value saham?
Harga adalah angka transaksi di market, sedangkan value adalah nilai bisnis yang diperkirakan dari fundamental dan prospeknya.

Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.


Artikel terkait

Dipercaya

lebih dari

1M+

Trader di Indonesia 🌏

Keamananmu adalah prioritas kami 🔒

Gotrade terdaftar & diawasi

KominfoOJKSOCFintech Indonesia

Penghargaan atas kinerja dan inovasi terdepan!🏅

 

Benzinga Global Fintech Awards 2024
Five Star Award 2024
Highest Trading Volume in Indonesia, 2024
Highest Combined 2022
Mockup Two Phones

Trading Lebih Cepat. Lebih Mudah. Lebih Cerdas.

#ReadyGoTrade

Gotrade Green Logo Top Left
AppLogo

Gotrade