Pemicu utamanya adalah keputusan ABC, yang dimiliki oleh Disney, untuk menghentikan sementara acara "Jimmy Kimmel Live!" pada bulan September.
Menurut laporan dari BBC, langkah ini diambil setelah pembawa acara Jimmy Kimmel membuat komentar terkait penembakan seorang aktivis konservatif, Charlie Kirk.
Keputusan penangguhan tersebut datang setelah adanya tekanan dari regulator penyiaran federal Amerika Serikat. Namun, langkah ini justru memicu reaksi balasan yang kuat dari para pendukung kebebasan berpendapat, serikat pekerja Hollywood, hingga American Civil Liberties Union (ACLU), yang mengkritik tindakan tersebut sebagai sensor.
Data konkret menunjukkan adanya dampak langsung terhadap jumlah pelanggan. Menurut perusahaan analisis langganan Antenna, yang dikutip oleh AP News dan BBC, angka pembatalan untuk Disney+ dan Hulu melonjak drastis pada bulan September.
AP News melaporkan bahwa total pembatalan untuk Hulu mencapai 4.1 juta dan Disney+ sebanyak 3 juta. Tingkat pembatalan bulanan atau churn rate, sebuah metrik untuk mengukur persentase pelanggan yang berhenti berlangganan, melonjak dari 4% menjadi 8% untuk Disney+ dan dari 5% menjadi 10% untuk Hulu.
Apakah Hanya Karena Satu Faktor?
Meskipun kontroversi Kimmel menjadi sorotan utama, penting untuk melihat gambaran yang lebih besar. BBC mencatat bahwa pada periode yang sama, Disney juga mengumumkan kenaikan harga langganan yang telah direncanakan sebelumnya.
Hal Ini bisa menjadi faktor lain yang mendorong pelanggan untuk membatalkan layanan.
Menariknya, kedua sumber berita juga menyebutkan bahwa jumlah pendaftar baru untuk Disney+ dan Hulu justru meningkat pada bulan September.
Hal ini sedikit menyeimbangkan jumlah pelanggan yang hilang, menunjukkan bahwa meskipun ada reaksi negatif, daya tarik konten Disney masih kuat bagi sebagian audiens lainnya.