Silver sering dibandingkan dengan emas, tetapi karakter keduanya sangat berbeda. Jika emas dikenal sebagai safe haven saat ketidakpastian meningkat, harga silver justru lebih sensitif terhadap industrial demand dan siklus ekonomi global. Inilah alasan mengapa silver sering disebut sebagai industrial metal, bukan aset pelindung nilai murni.
Memahami perbedaan ini penting agar kamu tidak salah ekspektasi ketika memutuskan berinvestasi atau trading silver.
Permintaan Industri vs Permintaan Investasi
Berbeda dengan emas yang sebagian besar permintaannya berasal dari investasi dan cadangan bank sentral, silver memiliki komposisi permintaan yang lebih didominasi sektor industri.
Beberapa sektor utama yang menyerap silver:
Elektronik dan semikonduktor
Panel surya
Kendaraan listrik
Peralatan medis
Industri kimia
Karena porsi industrial demand cukup besar, harga silver sangat dipengaruhi kondisi manufaktur global dan data seperti PMI. Saat ekonomi ekspansi dan produksi meningkat, silver cenderung menguat. Sebaliknya, saat ekonomi melambat, harga silver bisa turun lebih tajam dibanding emas.
Di sisi lain, permintaan investasi terhadap silver memang ada, terutama melalui ETF perak dan pembelian fisik. Namun pengaruhnya sering kali kalah besar dibanding dinamika industri.
Inilah yang membuat silver lebih siklikal daripada emas.
Jika kamu ingin memanfaatkan karakter siklikal ini, kamu bisa mengakses ETF silver atau saham terkait melalui aplikasi Gotrade Indonesia dan menyesuaikan strategi berdasarkan fase ekonomi.
Peran Sektor Solar dan EV
Dalam beberapa tahun terakhir, narasi energi terbarukan menjadi pendorong penting harga silver. Logam ini digunakan dalam panel surya karena konduktivitas listriknya yang tinggi, seperti dilansir dari Bullion Vault.
Sektor solar menyumbang permintaan signifikan terhadap silver, terutama saat investasi energi hijau meningkat. Selain itu, kendaraan listrik juga menggunakan silver dalam sistem elektronik dan komponen kelistrikan.
Namun ada dua hal penting yang perlu dipahami:
Teknologi terus berkembang dan bisa mengurangi kebutuhan silver per unit panel atau kendaraan.
Jika subsidi atau stimulus energi hijau menurun, permintaan bisa melambat.
Artinya, meskipun sektor solar dan EV mendukung narasi bullish jangka panjang, harga silver tetap bergantung pada dinamika kebijakan dan pertumbuhan global.
Risiko Oversupply Global
Seperti komoditas lain, silver tidak hanya ditentukan oleh permintaan, tetapi juga oleh silver supply.
Produksi silver berasal dari dua sumber utama:
Tambang primer silver
Produksi sampingan dari tambang tembaga, timah, atau emas
Karena sebagian besar silver dihasilkan sebagai by-product, suplai tidak selalu langsung berkurang meski harga turun. Jika harga logam lain tetap tinggi, produksi silver bisa tetap stabil atau bahkan meningkat.
Oversupply global bisa menekan harga silver meskipun permintaan investasi meningkat. Inilah alasan mengapa rally silver sering lebih volatil dan rentan koreksi tajam.
Sebagai investor, kamu perlu memantau:
Laporan produksi tambang
Inventori global
Data ekspor-impor negara produsen besar
Tanpa memahami sisi suplai, analisis silver bisa menjadi terlalu optimistis.
Setup Berbasis Siklus Industri
Karena sifatnya yang industrial, silver sering bergerak mengikuti siklus ekonomi.
Beberapa fase yang biasanya mendukung silver:
Awal ekspansi ekonomi
Stimulus fiskal besar
PMI manufaktur naik
Permintaan energi hijau meningkat
Sebaliknya, silver cenderung melemah saat:
Resesi global
PMI turun di bawah 50
Likuiditas mengetat
Risk-off ekstrem yang mendorong investor ke dolar
Setup berbasis siklus industri berarti kamu tidak hanya melihat chart, tetapi juga membaca data makro dan sektor manufaktur.
Untuk trader aktif, volatilitas silver bisa menjadi peluang jangka pendek. Namun untuk investor jangka panjang, memahami fase siklus jauh lebih penting daripada sekadar mengejar momentum.
Mengapa Silver Bukan Safe Haven Murni?
Saat terjadi krisis besar, emas biasanya menjadi pilihan utama sebagai aset perlindungan nilai. Silver kadang ikut naik, tetapi sering dengan volatilitas lebih tinggi dan koreksi lebih dalam.
Karakteristik silver:
Beta lebih tinggi dibanding emas
Sensitif terhadap pertumbuhan ekonomi
Volatilitas harian lebih besar
Lebih cocok untuk strategi taktis
Inilah alasan mengapa silver sering disebut “emas versi lebih agresif.” Ia bisa naik lebih cepat dalam fase ekspansi, tetapi juga turun lebih tajam saat perlambatan.
Kesimpulan
Harga silver lebih dipengaruhi oleh industrial demand dibanding narasi safe haven. Permintaan dari sektor solar dan EV memberi dukungan jangka panjang, tetapi risiko oversupply dan perlambatan ekonomi bisa menekan harga secara signifikan.
Silver cocok bagi investor atau trader yang memahami siklus industri dan siap menghadapi volatilitas tinggi. Jika kamu ingin mendapatkan eksposur ke silver secara fleksibel melalui ETF atau saham terkait, kamu bisa memanfaatkan aplikasi investasi seperti Gotrade Indonesia dan menyesuaikan strategi dengan fase ekonomi yang sedang berlangsung.
FAQ
Apakah silver bisa jadi safe haven seperti emas?
Silver bisa ikut naik saat krisis, tetapi volatilitasnya lebih tinggi dan tidak sekuat emas sebagai pelindung nilai.
Apa faktor utama yang memengaruhi harga silver?
Permintaan industri, data manufaktur global, suplai tambang, dan kondisi ekonomi makro.
Apakah silver cocok untuk investasi jangka panjang?
Bisa, tetapi lebih tepat bagi investor yang memahami siklus industri dan toleran terhadap fluktuasi harga.











