Mengandalkan satu kelas aset saja, sekuat apapun performanya, adalah risiko yang sering tidak disadari. Portofolio yang hanya berisi saham AS bisa terasa menguntungkan saat bull market, tapi sangat rentan saat koreksi besar terjadi.
Portofolio multi-asset yang menggabungkan saham AS, emas, dan silver menawarkan kombinasi pertumbuhan, perlindungan, dan diversifikasi yang saling melengkapi. Tapi menggabungkan tiga kelas aset ini bukan sekadar membeli ketiganya. Perlu framework alokasi yang jelas, strategi rebalancing yang disiplin, dan pemahaman tentang bagaimana korelasi antar aset bekerja.
Framework Alokasi: Menentukan Proporsi yang Tepat
Langkah pertama mengelola portofolio multi-asset adalah menentukan berapa besar alokasi untuk masing-masing kelas aset. Tidak ada formula universal, tapi berikut framework yang bisa disesuaikan berdasarkan profil risiko:
- Agresif (usia muda, horizon 15+ tahun): 75-80% saham AS, 10-15% emas, 5-10% silver.
- Moderat (mid-career, horizon 7-15 tahun): 60-65% saham AS, 20-25% emas, 10-15% silver.
- Konservatif (mendekati pensiun, horizon <7 tahun): 45-50% saham AS, 30-35% emas, 15-20% silver.
Beberapa prinsip di balik framework ini. Saham AS tetap menjadi mesin pertumbuhan utama. S&P 500 secara historis menghasilkan rata-rata return sekitar 10% per tahun. Tidak ada kelas aset lain yang secara konsisten mengalahkan return ini dalam jangka panjang.
Emas berfungsi sebagai safe haven dan hedge inflasi. Menurut World Gold Council, emas menunjukkan korelasi negatif atau mendekati nol terhadap saham dalam jangka panjang, menjadikannya diversifier yang efektif terutama saat pasar bergejolak.
Silver berperan sebagai high-beta complement. Pergerakannya mengikuti arah emas tapi dengan amplitudo lebih besar. Saat emas naik 5%, silver bisa naik 10-15%. Ini memberi potensi upside tambahan, tapi juga berarti alokasinya harus lebih kecil dari emas karena volatilitasnya yang lebih tinggi.
Correlation Management: Kunci Portofolio Multi-Asset
Menambahkan aset ke portofolio hanya bernilai jika aset tersebut tidak bergerak searah dengan aset yang sudah ada. Di sinilah correlation management menjadi krusial.
Korelasi Saham-Emas
Secara historis, korelasi saham AS dan emas berada di kisaran -0,1 hingga 0,2. Artinya, keduanya cenderung bergerak secara independen atau bahkan berlawanan. Ini yang membuat emas efektif sebagai pelindung portofolio.
Di tahun 2022, saat S&P 500 turun 19%, emas relatif stabil dan bahkan sempat rally di Q1. Sebaliknya, saat saham naik kencang di 2023-2024, emas tetap memberikan return positif meski lebih moderat.
Dinamika ini menunjukkan bahwa emas tidak sekadar "naik saat saham turun", tapi benar-benar bergerak dengan logika tersendiri.
Korelasi Emas-Silver
Gold-silver ratio menunjukkan hubungan relatif keduanya. Korelasi emas-silver secara umum tinggi (0,7-0,9), artinya keduanya bergerak searah. Tapi silver punya komponen permintaan industri yang membuat pergerakannya bisa menyimpang dari emas saat siklus ekonomi berubah.
Implikasi untuk Portofolio
Karena korelasi emas-silver tinggi, jangan perlakukan keduanya sebagai diversifikasi terpisah. Gabungan emas dan silver bersama-sama membentuk satu blok "komoditas logam mulia" yang berperan sebagai diversifier terhadap saham. Total blok komoditas ini idealnya 20-35% portofolio, tergantung profil risiko. Selebihnya tetap di saham dan ETF AS sebagai mesin pertumbuhan.
Strategi Rebalancing untuk Tiga Kelas Aset
Portofolio multi-asset akan mengalami drift seiring waktu karena masing-masing aset bergerak dengan kecepatan berbeda. Saham yang rally kuat bisa membuat porsi komoditas menyusut di bawah target. Sebaliknya, emas yang naik tajam bisa membuat portofolio terlalu defensif.
Dua pendekatan rebalancing yang efektif:
Threshold-based rebalancing. Tetapkan band toleransi ±5% dari target alokasi. Jika target saham 65% dan naik menjadi 71%, lakukan rebalancing. Pendekatan ini lebih responsif terhadap pergerakan pasar dibanding rebalancing berdasarkan kalender.
Rebalancing via kontribusi. Alih-alih menjual aset yang sudah overweight (yang memicu pajak capital gain), arahkan investasi baru ke aset yang underweight. Jika saham sudah di atas target dan emas di bawah, DCA bulanan selanjutnya masuk ke ETF emas sampai proporsi kembali seimbang. Cara ini lebih tax-efficient dan menghindari biaya transaksi yang tidak perlu.
Frekuensi review idealnya setiap kuartal. Bukan untuk selalu rebalancing, tapi untuk memastikan tidak ada satu kelas aset yang drift terlalu jauh dari rencana awal.
Implementasi Praktis: ETF sebagai Building Block
Untuk investor retail, ETF adalah cara paling efisien membangun portofolio multi-asset:
- Saham AS: SPY (S&P 500) atau QQQ (Nasdaq 100) sebagai core holding.
- Emas: GDX yang melacak harga emas spot secara langsung.
- Silver: SLV sebagai eksposur utama ke harga silver spot.
ETF menghilangkan kebutuhan memilih saham individual atau membeli logam fisik. Likuiditasnya tinggi, biaya pengelolaannya rendah, dan semuanya bisa dibeli dalam satu platform. Dengan fractional shares, kamu bahkan bisa membangun portofolio multi-asset yang terdiversifikasi meskipun modal masih terbatas.
Satu catatan penting: hindari over-diversifikasi. Tiga sampai empat ETF sudah cukup untuk membangun portofolio multi-asset yang solid. Menambah terlalu banyak instrumen justru membuat monitoring dan rebalancing semakin rumit tanpa menambah manfaat diversifikasi yang signifikan.
Yang juga perlu diperhatikan: jangan tergoda menambah alokasi silver hanya karena harganya sedang naik. Keputusan alokasi harus berdasarkan framework dan profil risiko, bukan momentum harga jangka pendek. Komoditas dalam portofolio paling berharga justru saat dibeli secara disiplin dan konsisten, bukan saat dikejar karena FOMO.
Kesimpulan
Portofolio multi-asset yang menggabungkan saham AS, emas, dan silver memberikan kombinasi pertumbuhan, perlindungan, dan fleksibilitas yang sulit didapat dari satu kelas aset saja. Kuncinya ada pada tiga hal: framework alokasi yang sesuai profil risiko, pemahaman korelasi antar aset agar diversifikasi benar-benar bekerja, dan disiplin rebalancing agar portofolio tidak drift dari rencana awal. Mulai dari framework yang sederhana, eksekusi dengan konsisten, dan evaluasi berkala.
Mulai bangun portofolio multi-asset dengan beli fractional shares saham, ETF emas, dan ETF silver AS di Gotrade mulai dari $1.
FAQ
Berapa total alokasi ideal untuk komoditas (emas + silver) dalam portofolio?
Umumnya 20-35% tergantung profil risiko. Konservatif di batas atas, agresif di batas bawah.
Apakah silver bisa menggantikan emas dalam portofolio?
Tidak. Silver lebih volatil dan punya karakter berbeda. Keduanya saling melengkapi, bukan substitusi.
Seberapa sering harus rebalancing portofolio multi-asset?
Review setiap kuartal, rebalancing saat ada aset yang drift lebih dari 5% dari target alokasi.











