9 Cara Menggunakan THR untuk Rebalancing Portofolio secara Optimal

9 Cara Menggunakan THR untuk Rebalancing Portofolio secara Optimal

Share this article

Tunjangan Hari Raya atau THR adalah momen yang paling sering dimanfaatkan untuk konsumsi, belanja kebutuhan lebaran, atau sekadar dinikmati sebagai bonus tahunan. Tapi bagi investor yang sudah memiliki portofolio aktif, THR juga bisa menjadi momentum yang tepat untuk melakukan sesuatu yang sering tertunda: rebalancing portofolio.

Rebalancing bukan aktivitas yang glamor, tapi dampaknya terhadap kesehatan portofolio jangka panjang sangat nyata. Dan karena THR datang sebagai dana segar di luar arus kas bulanan, ini adalah kesempatan yang relatif lebih mudah untuk menggunakannya secara strategis tanpa mengganggu anggaran rutin.

Mengapa Rebalancing Portofolio Penting?

Sebelum masuk ke caranya, penting untuk memahami mengapa rebalancing perlu dilakukan secara berkala. Portofolio yang tidak pernah di-rebalance akan bergeser jauh dari alokasi awal seiring waktu, bukan karena kamu tidak disiplin, tapi karena aset yang berbeda tumbuh dengan kecepatan yang berbeda.

Portofolio bergeser seiring pergerakan pasar

Bayangkan kamu memulai dengan alokasi 60% saham dan 40% obligasi. Setelah satu tahun bull market yang kuat, saham tumbuh signifikan dan bobotnya di portofolio menjadi 75%. Secara otomatis, profil risiko portofoliomu sudah berubah tanpa kamu sadari, meski kamu tidak pernah mengubah strategi secara aktif.

Rebalancing menjaga profil risiko tetap sesuai tujuan

Tujuan rebalancing adalah mengembalikan alokasi aset ke proporsi yang sesuai dengan toleransi risiko dan horizon investasimu. Ini bukan tentang mengejar return tertinggi, melainkan tentang memastikan portofoliomu tetap bekerja sesuai fungsi yang sudah dirancang sejak awal.

Cara Menggunakan THR untuk Rebalancing

Evaluasi overweight dan underweight

Langkah pertama adalah memetakan kondisi portofolio saat ini secara menyeluruh. Bandingkan bobot aktual setiap aset dengan alokasi target yang sudah kamu tetapkan sebelumnya.

Aset yang bobotnya sudah melebihi target disebut overweight, sementara yang bobotnya di bawah target disebut underweight.

Jangan hanya mengandalkan intuisi, gunakan angka aktual dari nilai portofolio saat ini.

Gunakan THR untuk mengisi posisi yang underweight

Cara rebalancing yang paling efisien dari sisi pajak adalah dengan menggunakan dana segar untuk menambah posisi yang underweight, daripada menjual aset yang overweight. Dengan pendekatan ini, kamu tidak memicu capital gain dari penjualan dan portofolio bergerak menuju keseimbangan tanpa transaksi yang tidak perlu.

Realokasi ke emas jika equity sudah extended

Jika porsi saham atau ekuitas di portofoliomu sudah jauh melampaui target dan valuasi pasar sedang di level yang tinggi secara historis, ini adalah sinyal untuk mempertimbangkan realokasi sebagian dana ke aset yang lebih defensif seperti emas.

Emas secara historis bergerak tidak selalu searah dengan pasar saham, sehingga menambah bobotnya saat ekuitas extended bisa menjadi penyeimbang yang efektif.

Pertimbangkan ETF sebagai instrumen rebalancing

ETF yang melacak indeks tertentu, sektor, atau kelas aset seperti ETF emas atau ETF obligasi memungkinkan kamu menambah eksposur ke area yang underweight dengan satu transaksi dan biaya yang relatif rendah.

Lewat Gotrade, kamu bisa mengakses berbagai ETF dari pasar AS yang mencakup beragam kelas aset, mulai dari ekuitas global, komoditas, hingga instrumen defensif, semua dalam satu aplikasi!

Disiplin threshold sebagai panduan eksekusi

Salah satu jebakan rebalancing adalah melakukannya terlalu sering atau terlalu jarang. Solusinya adalah menetapkan threshold yang jelas sebagai pemicu rebalancing, misalnya ketika bobot suatu aset bergeser lebih dari 5% dari target alokasi.

Mengutip Morgan Stanley, dengan threshold ini, kamu tidak perlu memonitor portofolio setiap hari dan tidak akan terjebak dalam keputusan yang didorong oleh pergerakan pasar jangka pendek.

Jangan rebalancing berdasarkan sentimen pasar

Rebalancing yang efektif harus didasarkan pada pergeseran alokasi, bukan pada prediksi pasar atau rasa takut dan euforia jangka pendek. Jika saham sedang naik tinggi dan kamu tergoda untuk tetap membiarkan posisi ekuitas overweight karena merasa pasar masih akan naik, kamu sudah keluar dari disiplin rebalancing.

Sebaliknya, jika pasar sedang turun dan kamu ragu untuk menambah posisi yang underweight karena takut, itu juga kontraproduktif. Rebalancing justru sering kali mengharuskan kamu melakukan sesuatu yang terasa tidak nyaman secara psikologis di momen tertentu.

Pisahkan dana THR untuk rebalancing dan konsumsi

Sebelum menggunakan THR untuk investasi, tentukan terlebih dahulu berapa porsi yang memang dialokasikan untuk rebalancing. Jangan gunakan seluruh THR sekaligus tanpa mempertimbangkan kebutuhan lebaran dan konsumsi yang sudah ada.

Pendekatan yang praktis adalah menetapkan persentase tetap di awal, misalnya 30-40% dari THR untuk investasi dan rebalancing, sementara sisanya untuk kebutuhan hari raya dan dana darurat jika diperlukan.

Dokumentasikan setiap keputusan rebalancing

Setiap kali melakukan rebalancing, catat alasan di balik setiap keputusan alokasi, kondisi portofolio sebelum dan sesudah, serta target alokasi yang menjadi acuan. Dokumentasi ini berguna untuk evaluasi di kemudian hari, membantu kamu belajar dari keputusan yang sudah dibuat, dan memastikan proses rebalancing berikutnya lebih terstruktur.

Evaluasi ulang target alokasi aset secara berkala

Rebalancing bukan hanya tentang mengembalikan portofolio ke alokasi lama. Ini juga momen yang tepat untuk mengevaluasi apakah target alokasi aset yang kamu tetapkan sebelumnya masih relevan dengan kondisi hidupmu saat ini.

Jika ada perubahan signifikan seperti bertambahnya tanggungan, perubahan pendapatan, atau pergeseran horizon investasi, target alokasi mungkin perlu direvisi.

Kesimpulan

Di tangan investor yang disiplin, THR adalah alat yang efektif untuk mengembalikan portofolio ke jalur yang sesuai dengan tujuan dan toleransi risiko jangka panjang.

Mulai dari mengevaluasi overweight dan underweight, mengisi posisi yang kurang dengan dana segar, hingga mempertimbangkan realokasi ke aset defensif untuk memperkuat fondasi portofoliomu untuk jangka panjang.

Siap gunakan THR-mu untuk memperkuat portofolio tahun ini? Download Gotrade sekarang dan mulai akses saham serta ETF global dari pasar AS!

FAQ

Seberapa sering rebalancing portofolio idealnya dilakukan?

Satu hingga dua kali setahun, atau ketika bobot suatu aset bergeser lebih dari 5% dari target alokasi.

Apakah rebalancing selalu harus menjual aset yang overweight?

Tidak. Cara lebih efisien adalah menambah posisi yang underweight dengan dana segar seperti THR, tanpa harus menjual aset yang sudah ada.

Bagaimana cara menentukan target alokasi aset yang tepat?

Sesuaikan dengan toleransi risiko dan horizon investasimu. Semakin panjang horizon investasi, semakin besar proporsi aset berisiko seperti saham yang bisa ditoleransi.

Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.


Artikel terkait

Dipercaya

lebih dari

1M+

Trader di Indonesia 🌏

Keamananmu adalah prioritas kami 🔒

Gotrade terdaftar & diawasi

KominfoOJKSOCFintech Indonesia

Penghargaan atas kinerja dan inovasi terdepan!🏅

 

Benzinga Global Fintech Awards 2024
Five Star Award 2024
Highest Trading Volume in Indonesia, 2024
Highest Combined 2022
Mockup Two Phones

Trading Lebih Cepat. Lebih Mudah. Lebih Cerdas.

#ReadyGoTrade

Gotrade Green Logo Top Left
AppLogo

Gotrade