Saham AS Pertama yang Biasanya Dipilih Investor Besar

Erwanto Khusuma
Erwanto Khusuma
Tim Gotrade
Ditinjau oleh Analis Internal Gotrade

Ringkasan

  • Investor besar biasanya memulai dari big tech, ETF broad market, atau dividend stocks.
  • ETF sering jadi pilihan awal karena memberi fondasi diversifikasi yang lebih rapi.
  • Ketiga kategori ini bisa digabung karena masing-masing punya peran yang berbeda.
Saham AS Pertama yang Biasanya Dipilih Investor Besar

Share this article

Saat mulai masuk ke pasar global, investor besar biasanya tidak langsung mengejar saham yang paling ramai. Mereka lebih sering mulai dari aset yang besar, likuid, dan mudah dipahami. Itu sebabnya pembahasan soal saham AS terbaik untuk langkah awal biasanya berputar di tiga area: big tech, ETF broad market, dan dividend stocks.

Bagi investor besar, saham pertama bukan berarti saham yang pasti paling untung. Yang dicari biasanya adalah pijakan awal yang rapi untuk membangun portofolio, bukan sensasi cepat dari satu nama yang sedang populer.

Ini penting karena langkah awal sering menentukan arah berikutnya. Kalau fondasinya terlalu agresif, portofolio bisa cepat terasa berat. Kalau fondasinya terlalu sempit, investor juga bisa terlalu bergantung pada satu saham saja.

Artikel ini membahas pilihan saham AS yang paling sering jadi titik awal, tips memilihnya, apakah ketiganya boleh digabungkan, dan contoh struktur sederhananya.

Pilihan Saham AS

Big tech

Big tech sering jadi pilihan awal karena skalanya besar, bisnisnya jelas, dan likuiditasnya tinggi.

Nama seperti Apple (AAPL), Microsoft (MSFT), atau Alphabet (GOOG/GOOGL) biasanya terasa lebih mudah dipahami dibanding saham yang masih sangat spekulatif. Investor juga sudah mengenal produk, model bisnis, dan perannya di ekonomi global.

Selain itu, big tech memberi eksposur ke tema pertumbuhan seperti cloud, software, AI, dan digital ecosystem. Jadi, investor bisa tetap mendapat unsur growth, tetapi lewat perusahaan yang sudah lebih matang.

Bagi investor besar, ini penting. Mereka biasanya tidak hanya mencari potensi naik, tetapi juga mencari kualitas bisnis yang cukup kuat untuk dijadikan bagian awal dari portofolio.

ETF

ETF juga sangat sering jadi pilihan pertama, terutama untuk investor yang ingin langsung mendapat diversifikasi.

Instrumen seperti ETF S&P 500 (SPY) memberi eksposur ke banyak perusahaan besar AS sekaligus. Ini membuat investor tidak perlu langsung menaruh keyakinan besar pada satu saham individual.

Bagi investor besar, ETF sering dipakai sebagai fondasi awal. Setelah itu, barulah mereka menambah saham individual untuk melengkapi portofolio.

Kalau tujuannya membangun eksposur yang rapi sejak awal, ETF biasanya terasa lebih aman dan lebih praktis. Investor tidak harus langsung menebak satu nama terbaik, karena mereka sudah mendapat akses ke kumpulan perusahaan besar dalam satu instrumen.

Dividend stocks

Dividend stocks biasanya dipilih saat investor ingin kombinasi antara kualitas bisnis dan stabilitas yang lebih tinggi.

Saham seperti ini umumnya datang dari perusahaan yang sudah mapan, punya arus kas lebih kuat, dan terbiasa membagikan dividen secara konsisten.

Bagi investor besar, dividend stocks bukan cuma soal yield. Yang lebih penting adalah perannya dalam portofolio.

Biasanya saham seperti ini dipakai untuk menambah kualitas defensif, bukan untuk mengejar pertumbuhan paling agresif.

Ini membuat dividend stocks cukup menarik sebagai pelengkap. Terutama bagi investor yang ingin portofolionya tidak hanya bertumpu pada growth, tetapi juga punya bagian yang lebih stabil.

Tips Memilih Saham AS Terbaik

Kalau kamu sedang memilih saham AS terbaik untuk langkah awal, fokusnya jangan langsung ke nama yang paling ramai.

Mulailah dari fungsi aset itu di portofolio. Tanyakan dulu apakah kamu ingin fondasi yang luas, eksposur growth, atau stabilitas yang lebih tinggi.

Melansir Schwab, beberapa prinsip yang lebih sehat, antara lain:

  • pilih bisnis yang mudah dipahami
  • utamakan likuiditas dan kualitas emiten
  • bedakan mana yang untuk growth dan mana yang untuk stabilitas
  • jangan buru-buru all-in ke satu tema
  • pastikan pilihan awal sesuai tujuan, bukan sekadar ikut tren

Kalau tujuanmu membangun fondasi, ETF atau big tech mapan biasanya lebih masuk akal.

Kalau tujuanmu menambah kestabilan, dividend stocks bisa lebih relevan.

Kalau masih bingung, jangan mulai dari terlalu banyak nama sekaligus. Investor besar pun biasanya tidak langsung membangun portofolio dari terlalu banyak ide. Mereka lebih sering mulai dari struktur yang jelas, lalu menambah lapisan berikutnya secara bertahap.

sebelum menentukan saham pertama, coba buat watchlist sederhana dulu. Kamu juga bisa mulai riset dan trading lewat Gotrade dengan struktur yang lebih rapi.

Bolehkah Digabungkan?

Boleh. Bahkan banyak investor besar justru menggabungkannya.

Masalahnya, banyak orang merasa harus memilih salah satu: growth, ETF, atau dividend. Padahal masing-masing bisa punya fungsi yang berbeda.

ETF bisa jadi fondasi, big tech bisa jadi mesin pertumbuhan, dan dividend stocks bisa jadi lapisan yang lebih defensif.

Pendekatan seperti ini biasanya lebih sehat daripada memaksa satu jenis aset untuk memenuhi semua tujuan.

Dengan kombinasi yang tepat, portofolio jadi lebih seimbang dan tidak terlalu bergantung pada satu tema saja.

Selain itu, gabungan seperti ini juga membantu dari sisi psikologis. Saat satu bagian portofolio lebih volatil, bagian lain bisa membantu menjaga ritme portofolio tetap lebih stabil. Jadi investor tidak terlalu mudah panik hanya karena satu kelompok saham sedang bergerak lebih agresif.

Contoh Pilihan Saham AS Pertama

Contoh struktur sederhana bisa seperti ini:

  • 50%–60% ETF broad market untuk fondasi
  • 20%–30% big tech untuk pertumbuhan
  • 10%–20% dividend stocks untuk stabilitas

Ini bukan formula wajib.

Namun logikanya jelas. Ada bagian inti yang luas, ada bagian growth, dan ada bagian yang lebih defensif.

Struktur seperti ini biasanya lebih mudah dikelola dibanding langsung membangun portofolio dari terlalu banyak saham individual.

Kalau investor ingin lebih konservatif, porsi ETF bisa dibuat lebih besar. Kalau ingin sedikit lebih agresif, porsi big tech bisa dinaikkan, tetapi tetap dengan batas yang sehat.

Yang paling penting bukan angka persisnya, tetapi fungsi setiap bagian portofolio. Saat fungsi itu jelas, keputusan juga biasanya jadi lebih tenang dan lebih konsisten.

Kesimpulan

Saham AS pertama yang biasanya dipilih investor besar umumnya tidak jauh dari tiga kategori: big tech, ETF broad market, dan dividend stocks.

Big tech memberi eksposur ke pertumbuhan global. ETF memberi fondasi diversifikasi. Dividend stocks menambah stabilitas.

Kalau ingin mulai dengan lebih sehat, jangan terlalu fokus mencari satu nama yang terasa paling hebat. Fokuslah pada fungsi aset di portofolio. Download aplikasi Gotrade untuk mulai akses saham AS dan susun portofolio sesuai tujuanmu.

FAQ

Apa saham AS pertama yang biasanya dipilih investor besar?
Biasanya mereka mulai dari big tech mapan, ETF broad market, atau dividend stocks, tergantung tujuan portofolionya.

Kenapa ETF sering jadi pilihan awal?
Karena ETF memberi diversifikasi langsung dan cocok sebagai fondasi awal sebelum memilih saham individual.

Bolehkah big tech, ETF, dan dividend stocks digabung?
Boleh, karena masing-masing punya fungsi berbeda dalam portofolio.

Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.


Artikel terkait

Dipercaya

lebih dari

1M+

Trader di Indonesia 🌏

Keamananmu adalah prioritas kami 🔒

Gotrade terdaftar & diawasi

KominfoOJKSOCFintech Indonesia

Penghargaan atas kinerja dan inovasi terdepan!🏅

 

Benzinga Global Fintech Awards 2024
Five Star Award 2024
Highest Trading Volume in Indonesia, 2024
Highest Combined 2022
Mockup Two Phones

Trading Lebih Cepat. Lebih Mudah. Lebih Cerdas.

#ReadyGoTrade

Gotrade Green Logo Top Left
AppLogo

Gotrade