Investor global tidak hanya melirik Wall Street. Ada pasar lain yang kerap menjadi sorotan karena potensi pertumbuhannya yang tinggi, yakni saham emerging market.
Penting dipahami bahwa investasi di pasar negara berkembang atau investasi saham negara berkembang memang menawarkan peluang besar, namun tetap dibayangi risiko yang tidak boleh disepelekan.
Ingin tahu negara apa saja dan bagaimana potensinya untuk investor pemula? Simak selengkapnya dalam artikel berikut ini!
Apa Itu Saham Emerging Market?
Saham emerging market adalah saham yang berasal dari negara-negara dengan perekonomian berkembang, bukan negara maju seperti Amerika Serikat atau Jepang. Menurut definisi dari MSCI Emerging Markets Index, pasar emerging biasanya ditandai oleh pertumbuhan ekonomi pesat, peningkatan konsumsi masyarakat, dan perkembangan infrastruktur yang signifikan.
Namun, pasar ini juga memiliki kelemahan, seperti sistem keuangan yang belum stabil sepenuhnya, risiko politik, hingga nilai tukar mata uang yang fluktuatif. Karena itu, meskipun menarik, investor perlu bijak menimbang plus-minusnya.
Contoh Negara yang Masuk Emerging Market
Beberapa negara yang masuk kategori emerging market antara lain:
- Brasil: salah satu ekonomi terbesar di Amerika Latin, dengan kekuatan di sektor komoditas.
- India: pasar dengan populasi besar dan pertumbuhan pesat di sektor teknologi serta farmasi.
- Tiongkok: meski sudah sangat besar, masih digolongkan emerging market oleh beberapa indeks karena struktur ekonominya yang unik.
- Indonesia: negara dengan basis konsumen luas dan kekayaan sumber daya alam.
- Turki dan Afrika Selatan: contoh negara berkembang lain dengan potensi pertumbuhan, namun juga tantangan besar di sisi stabilitas politik dan ekonomi.
Melansir laporan International Monetary Fund (IMF), kontribusi negara emerging market terhadap pertumbuhan ekonomi global kini lebih dari 50%. Artinya, potensi pertumbuhan saham dari kawasan ini memang nyata.
Perbandingan Saham Emerging Market dengan Saham AS
Agar lebih jelas, berikut perbandingan utama antara saham emerging market dan saham AS:
- Likuiditas: Saham AS jauh lebih likuid, sementara emerging market kadang memiliki volume perdagangan terbatas.
- Transparansi: Regulasi di AS lebih ketat, sedangkan di emerging market, transparansi laporan keuangan perusahaan kadang masih menjadi masalah.
- Pertumbuhan: Emerging market menawarkan potensi pertumbuhan lebih cepat karena ekonomi mereka sedang berkembang pesat.
- Stabilitas: Saham AS lebih stabil, didukung infrastruktur finansial yang matang. Emerging market lebih rentan terhadap krisis eksternal.
- Akses Investor: Saham AS mudah diakses investor global lewat platform seperti Gotrade, sementara emerging market kadang membutuhkan akses khusus ke bursa lokal.
Risiko Saham Emerging Market
Meski peluang pertumbuhan tinggi, risiko yang perlu diwaspadai antara lain:
- Risiko Nilai Tukar: fluktuasi mata uang lokal terhadap dolar AS bisa menggerus keuntungan. Misalnya, jika rupiah melemah terhadap dolar, return dalam mata uang asing bisa turun meski saham di bursa lokal naik.
- Risiko Politik: ketidakstabilan politik, seperti pergantian rezim atau kebijakan populis, dapat membuat investor global ragu menaruh modal. Contohnya di Turki, volatilitas politik berulang kali menekan pasar saham.
- Keterbatasan Infrastruktur Finansial: tidak semua pasar memiliki sistem keuangan sekuat Amerika. Hal ini dapat menyulitkan investor asing dalam hal transparansi, akses, hingga penyelesaian transaksi.
- Volatilitas Tinggi: harga saham di emerging market lebih sensitif terhadap faktor eksternal. Saat The Fed menaikkan suku bunga, sering kali terjadi arus keluar dana dari emerging market ke aset yang dianggap lebih aman.
- Risiko Regulasi: kebijakan pemerintah bisa berubah mendadak. Misalnya, pembatasan ekspor atau perubahan pajak mendadak dapat mengurangi profitabilitas perusahaan.
- Risiko Likuiditas: beberapa saham di emerging market memiliki volume perdagangan yang tipis sehingga sulit untuk keluar masuk posisi besar tanpa menggerakkan harga.
Peluang Saham Emerging Market
Meski penuh risiko, peluang di pasar negara berkembang tetap menarik:
- Pertumbuhan Ekonomi Cepat: negara seperti India dan Indonesia mencatatkan pertumbuhan PDB lebih tinggi daripada negara maju.
- Bonus Demografi: mayoritas penduduk di emerging market masih muda dan produktif. Hal ini meningkatkan konsumsi domestik, terutama untuk produk teknologi, layanan keuangan, dan kebutuhan gaya hidup.
- Diversifikasi: memasukkan saham emerging market ke portofolio bisa menambah variasi dan peluang keuntungan.
- Tren Globalisasi: perusahaan di negara berkembang semakin banyak dilibatkan dalam rantai pasok global. Misalnya, Vietnam kini menjadi salah satu pusat manufaktur elektronik dunia setelah banyak perusahaan memindahkan pabrik dari Tiongkok.
- Inovasi Lokal: startup teknologi dari India atau Tiongkok menunjukkan kemampuan bersaing dengan perusahaan global. Dari dalam negeri sendiri juga tidak kalah, beberapa bahkan mampu melahirkan unicorn baru.
Bagi investor yang siap mengambil risiko, saham emerging market bisa memberikan return signifikan, terutama jika mampu memilih sektor yang tepat seperti teknologi, komoditas, atau konsumer.
Kesimpulan
Saham emerging market adalah instrumen dari negara-negara berkembang dengan potensi pertumbuhan tinggi, namun penuh risiko. Dibandingkan saham AS, emerging market menawarkan prospek ekspansi lebih besar tetapi dengan volatilitas lebih tajam.
Bagi investor Indonesia, investasi saham negara berkembang bisa menjadi opsi diversifikasi. Namun, tetap penting untuk memahami risiko kurs, regulasi, dan kondisi politik di negara tujuan.
Kalau kamu ingin mulai berinvestasi global dengan cara yang lebih aman dan transparan, cobalah mulai dari saham AS. Melalui aplikasi Gotrade, kamu bisa membeli saham perusahaan besar seperti Apple, Tesla, dan Microsoft hanya mulai dari 1 Dolar AS. Unduh aplikasi Android atau iOS untuk portofolio investasimu dengan lebih percaya diri.
FAQ
1. Apakah saham emerging market lebih menguntungkan daripada saham AS?
Tidak selalu. Emerging market bisa memberi return tinggi saat ekonomi mereka tumbuh, tetapi risikonya juga lebih besar. Saham AS lebih stabil dan cocok untuk pemula.
2. Apakah investasi saham negara berkembang cocok untuk diversifikasi portofolio?
Ya, emerging market bisa menjadi alat diversifikasi. Namun, alokasinya sebaiknya kecil dan dikombinasikan dengan saham negara maju untuk mengurangi risiko.
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.











