Stop Limit Order: Pengertian, Cara Kerja, dan Contohnya

Ringkasan Gotrade
- Stop limit order menggabungkan stop price dan limit price. Stop price berfungsi sebagai pemicu, sedangkan limit price menentukan batas harga transaksi.
- Order berubah menjadi limit order ketika stop price tercapai. Dengan kata lain, transaksi hanya dapat dilakukan pada limit price atau harga yang lebih baik.
- Stop limit order memberikan kontrol terhadap harga, tetapi eksekusinya tidak dijamin. Order dapat tetap tidak terisi jika harga pasar melewati limit yang ditentukan.
- Ketika mengatur transaksi saham AS di Gotrade, kamu dapat memilih Stop Limit sebagai salah satu jenis order.
Misalnya, kamu memiliki saham yang diperdagangkan di harga US$100 dan ingin menjualnya jika harganya turun ke US$95. Namun, pada saat yang sama kamu tidak ingin saham tersebut terjual di bawah US$94.
Dalam situasi seperti ini, stop limit order memungkinkan kamu menetapkan dua harga sekaligus: harga yang akan mengaktifkan order dan batas harga yang masih dapat diterima untuk melakukan transaksi.
Namun, ada satu hal yang perlu dipahami. Transaksi belum tentu langsung terjadi ketika harga pemicu tercapai. Ini adalah karakteristik utama yang membedakan stop limit order dari beberapa jenis order lainnya.
Apa Itu Stop Limit Order?
Stop limit order adalah jenis order yang menggabungkan fitur stop order dan limit order untuk membeli atau menjual saham.
Dua harga utama digunakan dalam order ini. Stop price menentukan kapan order mulai aktif, sedangkan limit price menentukan batas harga transaksi setelah order aktif.
Secara sederhana, stop price menunjukkan kapan order mulai berjalan, sedangkan limit price menunjukkan pada harga berapa kamu masih bersedia melakukan transaksi.
Stop limit order berubah menjadi limit order ketika stop price tercapai. Setelah itu, transaksi hanya dapat dilakukan pada limit price yang ditentukan atau harga yang lebih baik.
Artinya, saham belum tentu langsung dibeli atau dijual setelah stop price tercapai. Order dapat tetap belum terisi jika harga pasar bergerak melewati limit yang ditentukan.
Cara Kerja Stop Limit Order
Cara kerja stop limit order lebih mudah dipahami jika dilihat sebagai proses dua tahap: trigger terlebih dahulu, kemudian eksekusi sebagai limit order.
Berikut alurnya.
1. Tentukan stop price
Pertama, tentukan harga yang akan menjadi pemicu order.
Misalnya, harga saham saat ini adalah US$100 dan kamu menetapkan stop price di US$95.
Selama saham belum mencapai stop price tersebut, stop limit order belum berubah menjadi limit order.
2. Tentukan limit price
Selanjutnya, tentukan batas harga yang masih dapat kamu terima untuk transaksi.
Misalnya, kamu menetapkan limit price di US$94. Pada sell stop limit order, harga ini menunjukkan harga minimum yang masih dapat diterima setelah order aktif.
3. Harga mencapai stop price
Ketika harga saham mencapai US$95, stop price terpicu.
Pada titik ini, fungsi stop price selesai dan order kemudian berubah menjadi limit order.
4. Limit order masuk ke pasar
Ketika order berubah menjadi limit order, transaksi hanya dapat dilakukan pada limit price atau harga yang lebih baik.
Dalam contoh sebelumnya, sell limit US$94 berarti saham dapat dijual pada US$94 atau lebih tinggi jika tersedia pembeli.
5. Order menunggu harga yang sesuai
Jika harga yang tersedia memenuhi limit tersebut, transaksi dapat terjadi.
Namun, order dapat tetap tidak terisi jika harga bergerak terlalu cepat melewati US$94.
Secara sederhana:
Harga bergerak
↓
Stop price tercapai
↓
Stop limit order aktif
↓
Berubah menjadi limit order
↓
Harga memenuhi limit?
Ya → Order dapat tereksekusi
Tidak → Order tetap belum terisi
Stop limit order menggunakan stop price untuk memicu aktivasi limit order. Karena karakteristik limit order, adanya batas harga juga berarti transaksi belum tentu dapat dilakukan.
Contoh Stop Limit Order
Untuk membuatnya lebih mudah dipahami, mari lihat bagaimana stop limit order bekerja ketika digunakan untuk menjual dan membeli saham.
Contoh Sell Stop Limit Order
Misalnya, kamu memiliki saham XYZ dengan kondisi berikut:
Harga saham saat ini: US$100
Stop price: US$95
Limit price: US$94
Sekarang ada dua kemungkinan.
Skenario pertama: harga turun secara bertahap
US$100 → US$98 → US$95 → US$94,80
Saat harga menyentuh US$95, stop price terpicu dan order berubah menjadi sell limit order dengan limit US$94.
Harga US$94,80 masih berada di atas batas US$94. Karena itu, jika tersedia likuiditas yang mencukupi, order dapat tereksekusi.
Skenario kedua: harga turun dengan cepat
US$100 → US$95 → US$90
Stop price tetap terpicu ketika harga mencapai US$95. Namun, sell limit order hanya memungkinkan penjualan pada US$94 atau lebih tinggi.
Ketika harga sudah berada di US$90, batas tersebut tidak terpenuhi sehingga order dapat tetap tidak terisi.
Ini adalah trade-off utama dari stop limit order: kamu memiliki kontrol lebih besar terhadap harga, tetapi kehilangan sebagian kepastian eksekusi.
Investor.gov juga menjelaskan bahwa stop limit order dapat tidak tereksekusi jika harga saham bergerak menjauh dari limit price yang telah ditentukan.
Contoh Buy Stop Limit Order
Stop limit order juga dapat digunakan untuk melakukan pembelian.
Misalnya:
Harga saham saat ini: US$100
Stop price: US$105
Limit price: US$107
Kamu ingin order beli aktif ketika saham mencapai US$105, tetapi tidak ingin membayar lebih dari US$107.
Saat harga mencapai US$105, order berubah menjadi buy limit order dengan limit US$107.
Jika harga tersedia di US$105,50, US$106, atau US$107, order dapat tereksekusi pada harga tersebut atau harga yang lebih baik.
Namun, bayangkan harga bergerak sangat cepat:
US$100 → US$105 → US$110
Stop price tetap terpicu di US$105. Namun, ketika harga sudah mencapai US$110, buy limit US$107 tidak dapat langsung dieksekusi karena harga sudah melewati batas maksimum yang ditentukan.
Order dapat tetap aktif hingga tersedia harga US$107 atau lebih rendah, selama order tersebut belum dibatalkan atau kedaluwarsa sesuai ketentuan broker.
Stop Limit Order vs Limit Order vs Stop Order
Stop limit order, limit order, dan stop order terdengar mirip karena ketiganya memungkinkan trader mengatur parameter harga. Namun, mekanisme masing-masing berbeda.
Jenis Order | Trigger | Setelah Aktif | Karakteristik Utama |
Limit Order | Tidak menggunakan stop trigger | Tetap limit order | Menentukan batas harga transaksi |
Stop Order | Stop price | Berubah menjadi market order | Mengutamakan eksekusi setelah trigger |
Stop Limit Order | Stop price | Berubah menjadi limit order | Menggabungkan trigger dengan batas harga |
Dalam limit order, kamu langsung menentukan harga maksimum untuk membeli atau harga minimum untuk menjual.
Pada stop order, order baru aktif setelah stop price tercapai dan kemudian berubah menjadi market order. Karena order mengikuti harga yang tersedia di pasar, harga transaksi akhirnya dapat berbeda dari stop price.
Sebaliknya, setelah trigger tercapai, stop limit order berubah menjadi limit order. Akibatnya, harga transaksi memiliki batas, tetapi order juga dapat tidak terisi.
Buy limit hanya dapat dieksekusi pada limit price atau lebih rendah, sedangkan sell limit hanya dapat dieksekusi pada limit price atau lebih tinggi. Limit order memiliki kemungkinan tidak tereksekusi jika pasar tidak mencapai harga yang memenuhi limit tersebut.
Dalam stop order atau stop loss, order berubah menjadi market order setelah trigger tercapai. Sementara itu, stop limit order berubah menjadi limit order. Perbedaan ini juga menjelaskan mengapa stop limit order tidak sama dengan stop loss.
Cara Menggunakan Stop Limit Order di Gotrade

Gotrade menyediakan Stop Limit sebagai salah satu jenis order untuk transaksi saham AS. Setelah stop price tercapai, stop limit order berubah menjadi limit order yang hanya dapat dieksekusi pada limit price atau harga yang lebih baik.
Berikut cara menggunakannya.
1. Tentukan saham yang ingin ditransaksikan
Buka aplikasi Gotrade, lalu cari saham yang ingin kamu transaksikan berdasarkan nama perusahaan atau ticker.
2. Pilih saham dan buka halaman Trade
Pilih saham yang kamu inginkan, kemudian tekan Trade.
Jika kamu sudah memiliki saham tersebut, kamu dapat memilih apakah ingin membeli lebih banyak atau menjual kepemilikan yang sudah dimiliki.
3. Pilih Stop Limit sebagai jenis order
Pada halaman order, buka pilihan jenis order di bagian kanan atas, kemudian pilih Stop Limit.
Gotrade memungkinkan pengguna mengganti jenis order dari halaman transaksi sebelum memasukkan detail order.
4. Masukkan stop price
Tentukan harga yang ingin digunakan sebagai trigger.
Sebagai contoh, jika kamu ingin membuat sell stop limit:
Stop price: US$95
Ketika harga mencapai trigger tersebut, stop limit order akan berubah menjadi limit order.
5. Tentukan limit price
Selanjutnya, tentukan batas harga transaksi.
Misalnya:
Limit price: US$94
Dalam contoh sell stop limit ini, setelah stop price US$95 tercapai, saham hanya dapat dijual pada harga US$94 atau lebih tinggi.
6. Masukkan jumlah transaksi
Tentukan jumlah saham atau nilai transaksi yang ingin digunakan untuk order.
7. Periksa kembali dan konfirmasi
Periksa kembali detail seperti:
saham yang dipilih,
posisi buy atau sell,
stop price,
limit price,
jumlah transaksi.
Setelah semua detail sesuai, review dan konfirmasi order.
Perlu diingat bahwa stop price yang sudah tercapai belum menjamin order akan terisi. Gotrade menjelaskan bahwa jika limit order belum dapat dieksekusi karena kondisi harga, order dapat tetap aktif hingga dapat dieksekusi atau dibatalkan.
Risiko Stop Limit Order yang Perlu Dipertimbangkan
Salah satu karakteristik utama stop limit order adalah kontrol terhadap harga. Namun, semakin ketat batas harga yang ditentukan, semakin penting pula memahami kemungkinan order tidak terisi.
Berikut beberapa risikonya.
1. Order bisa tidak terisi
Ini merupakan risiko terbesar dari stop limit order.
Setelah stop price tercapai, stop limit order berubah menjadi limit order. Transaksi tidak akan dilakukan jika tidak tersedia harga yang memenuhi limit.
Misalnya:
Stop price: US$95
Sell limit: US$94
Jika harga langsung turun ke US$90, order tidak dapat menjual pada US$90 karena harga tersebut berada di bawah batas US$94.
2. Gap harga dapat melewati limit
Perubahan harga tidak selalu terjadi secara berurutan.
Jika muncul berita penting di luar jam perdagangan, saham dapat ditutup pada US$100 lalu dibuka pada US$90.
Dalam kondisi terdapat sell stop limit dengan stop US$95 dan limit US$94, harga pasar sudah berada di bawah keduanya ketika perdagangan dimulai. Selama harga US$94 atau lebih tinggi tidak tersedia, order tidak dapat langsung terisi.
3. Pergerakan harga singkat dapat memicu order
Harga saham juga dapat mengalami pergerakan cepat dalam satu hari.
Investor.gov menjelaskan bahwa fluktuasi harga jangka pendek dapat mengaktifkan stop limit order meskipun harga kemudian bergerak kembali. Selain itu, metode yang digunakan untuk menentukan apakah stop price telah tercapai dapat berbeda antarbroker, sehingga investor perlu memahami aturan platform yang digunakan.
Karena karakteristik tersebut, stop limit order biasanya digunakan ketika trader ingin menggabungkan trigger harga dengan kontrol terhadap batas transaksi. Konsekuensinya, kontrol harga tersebut datang bersama risiko bahwa order tidak terisi jika pasar bergerak terlalu cepat.
Kesimpulan
Stop limit order adalah jenis order yang menggunakan dua tingkat harga: stop price sebagai trigger dan limit price sebagai batas harga transaksi.
Ketika stop price tercapai, order berubah menjadi limit order. Karena itu, stop limit order memberikan kontrol lebih besar terhadap harga transaksi dibandingkan stop order biasa. Namun, transaksi belum tentu terjadi jika harga pasar bergerak melewati limit yang sudah ditentukan.
Sebelum menggunakannya, pahami cara stop price dan limit price bekerja serta pertimbangkan likuiditas, volatilitas, dan kemungkinan order tetap tidak terisi.
Di Gotrade, kamu dapat menggunakan stop limit sebagai salah satu jenis order untuk mengatur transaksi saham AS sesuai rencana tradingmu.
Cek fitur trading saham AS di Gotrade.
Referensi
Investor. ''Stop, Stop-Limit, and Trailing Stop Orders – Investor Bulletin''
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.














