Opportunity Cost: Rumus, Cara Hitung, dan Contohnya dalam Investasi

Ringkasan Gotrade
- Opportunity cost adalah nilai dari alternatif terbaik yang dilepas ketika kamu memilih satu penggunaan sumber daya.
- Dalam investasi, kamu perlu membandingkan expected return, risiko, horizon, biaya, dan likuiditas dari setiap pilihan.
- Opportunity cost sebaiknya dinilai berdasarkan informasi yang tersedia saat keputusan dibuat, bukan dari hasil yang baru diketahui setelahnya.
Kamu memiliki modal US$10.000 dan harus memilih salah satu dari dua investasi. Pilihan pertama diperkirakan memberikan return 6% setahun sedangkan pilihan kedua 9%. Jika kamu memilih investasi pertama kamu bukan hanya memperoleh potensi return 6% tetapi juga akan melepas potensi hasil dari pilihan kedua.
Nilai dari alternatif terbaik yang dilepas inilah yang disebut sebagai opportunity cost atau biaya peluang. Tetapi, dalam investasi membandingkan opportunity cost saja tidaklah cukup. Kamu juga harus melihat risiko, jangka waktu, likuiditas, biaya, dan ketidakpastian hasil.
Apa Itu Opportunity Cost?
Opportunity cost adalah nilai dari alternatif terbaik yang harus dilepas ketika kamu memilih suatu pilihan. Dalam bahasa Indonesia istilah ini sering disebut sebagai biaya peluang.
Menurut OpenStax opportunity cost merupakan nilai dari next best alternative yang dilepas karena sumber daya hanya bisa digunakan pada pilihan tertentu saja.
Ada dua konsep utama dalam opportunity cost, yaitu: sumber daya yang terbatas dan pilihan. Sumber daya tersebut bisa berupa uang, waktu, tenaga kerja, kapasitas produksi, lahan atau modal investasi.
Misalnya, kamu memiliki Rp10 juta. Dana tersebut bisa digunakan untuk membeli saham, menyimpan kas, membeli obligasi, menambah modal usaha atau kebutuhan lainnya.
Ketika dana dipilih untuk satu tujuan maka kesempatan menggunakan dana yang sama pada alternatif lain bisa ikut dilepas.
Rumus dan Cara Menghitung Opportunity Cost dalam Investasi
Dalam investasi, opportunity cost bisa dihitung dengan membandingkan return dari alternatif terbaik yang dilepas dengan return dari pilihan yang diambil.
Opportunity Cost = Return Alternatif Terbaik − Return Pilihan yang Dipilih
Misalnya, kamu memiliki modal US$10.000 dengan dua pilihan:
Investasi A: expected return 6% per tahun
Investasi B: expected return 9% per tahun
Jika kamu memilih Investasi A:
Opportunity Cost = 9% − 6% = 3 poin persentase
Dengan asumsi lain yang dianggap sama maka setelah satu tahun:
Investasi A = US$10.600
Investasi B = US$10.900
Artinya akan terdapat selisih hasil yang diharapkan sebesar US$300.
Bagaimana Jika Horizon-nya 5 Tahun?
Jika return diasumsikan dan dikompaun setiap tahun, maka:
Investasi A = US$10.000 × (1,06)⁵ ≈ US$13.382
Investasi B = US$10.000 × (1,09)⁵ ≈ US$15.386
Selisihnya akan menjadi sekitar US$2.004.
Semakin panjang periode maka efek compounding bisa membuat perbedaan hasil yang diharapkan semakin besar. Tetapi, angka tersebut tetaplah sebuah skenario saja bukannya hasil yang pasti akan terjadi.
Kenapa Risiko dan Horizon Perlu Dibandingkan?
Misalnya ketika kamu dihadapkan pada dua pilihan investasi, yaitu:
Pilihan A: expected return 5% dengan volatilitas relatif rendah.
Pilihan B: expected return 10% tetapi memiliki volatilitas dan risiko penurunan yang lebih besar.
Jika hanya melihat return maka pilihan B tampak lebih menarik. Tetapi, selisih 5 poin persentase tersebut belum tentu menjadi perbandingan yang setara karena tingkat risikonya yang berbeda.
Menurut CFA Institute ekspektasi return perlu dilihat bersamaan dengan risiko investasi dan horizon investasi ketika membandingkan berbagai kelas aset.
Karena itu, sebelum menilai opportunity cost suatu investasi kamu memeriksa apakah:
Horizon investasinya sama
Tingkat risikonya sebanding
Return sudah memperhitungkan biaya
Mata uang yang digunakan sama
Tingkat likuiditasnya sebanding
Modal bisa diakses pada waktu yang sama
Membandingkan saham dengan horizon lima tahun dan deposito tiga bulan hanya berdasarkan persentase return saja akan menghasilkan perbandingan yang kurang lengkap.
Opportunity Cost Tidak Selalu Berupa Return
Dalam investasi, opportunity cost sering dikaitkan dengan return yang dilepas. Padahal, biaya peluang juga bisa berupa beberapa hal berikut ini:
1. Likuiditas
Misalnya, Investasi A menawarkan expected return lebih tinggi tetapi modal baru bisa dicairkan setelah lima tahun sementara itu, investasi B menawarkan return lebih rendah tetapi bisa dijual setiap hari.
Jika kamu membutuhkan akses dana yang fleksibel maka likuiditas juga menjadi bagian dari trade-off yang perlu kamu pertimbangkan.
2. Diversifikasi
Mengalokasikan seluruh modal ke satu saham berarti kamu juga akan melepas manfaat diversifikasi dari portofolio yang lebih luas.
Satu saham memang bisa memberikan return lebih tinggi jika thesis berjalan sesuai harapan tetapi konsentrasi juga akan membawa risiko yang lebih besar.
3. Waktu
Investasi juga tetap membutuhkan waktu untuk dianalisis dan dipantau. Dua strategi bisa saja menghasilkan return serupa tetapi memiliki opportunity cost waktu yang berbeda.
Strategi yang membutuhkan pemantauan setiap hari akan menggunakan lebih banyak waktu dibandingkan pendekatan yang lebih pasif.
4. Fleksibilitas
Menahan sebagian portofolio dalam bentuk kas berarti akan melepas potensi return dari aset lain. Tetapi, kas juga akan memberikan likuiditas dan fleksibilitas untuk kebutuhan atau kesempatan berikutnya.
Karena itu, return bukan satu-satunya hal yang perlu dibandingkan ketika menilai opportunity cost. Nilai dari waktu, fleksibilitas, likuiditas dan manfaat lain yang dilepas juga perlu untuk kamu perhitungkan.
Contoh Opportunity Cost dalam Keputusan Investor
Opportunity cost muncul setiap kali investor harus memilih bagaimana modal yang akan digunakan, bentuknya bisa berbeda tergantung alternatif yang dibandingkan, perhatikan hal berikut ini:
1. Saham A vs Saham B
Misalnya, kamu memiliki US$5.000 dan menemukan dua saham yang sama-sama sesuai dengan kriteria investasi tetapi modal kamu hanya cukup untuk dialokasikan penuh ke salah satunya saja.
Jika kamu memilih Saham A maka manfaat ekonomi dari Saham B yang dilepas akan menjadi opportunity cost.
Tetapi, jangan hanya langsung menyimpulkan:
“Saham B ternyata naik 50% berarti opportunity cost saya akan 50%.”
Cara tersebut menggunakan hindsight. Saat keputusan dibuat, kamu belum mengetahui return aktual dari kedua saham. Perbandingan yang lebih relevan bisa menggunakan informasi dan expected outcome yang tersedia pada saat keputusan dibuat.
2. Saham Individual vs ETF
Memilih saham individual bisa menawarkan potensi return yang berbeda dibandingkan ETF yang terdiversifikasi. Tetapi, perbandingannya tidak cukup hanya dengan melihat return.
Kamu juga perlu mempertimbangkan tingkat konsentrasi, diversifikasi, volatilitas, expense ratio, dan horizon investasi.
3. Mempertahankan Saham vs Beralih ke Alternatif
Opportunity cost juga muncul ketika kamu mempertimbangkan apakah modal masih layak ditempatkan pada saham yang sudah dimiliki.
Salah satu pertanyaan yang bisa digunakan adalah:
“Jika saya belum memiliki saham ini hari ini apakah saya masih akan memilihnya dibandingkan dengan alternatif lain yang tersedia?”
Tetapi, keputusan berpindah investasi juga perlu memperhitungkan biaya transaksi, pajak, spread, dan timing risk.
3. Konsumsi vs Investasi
Jika Rp10 juta digunakan untuk liburan maka kamu melepas potensi pertumbuhan apabila dana tersebut diinvestasikan. Sebaliknya, jika seluruh dana kamu diinvestasikan kamu akan melepas manfaat konsumsi atau pengalaman yang bisa dinikmati sekarang.
Karena itu, opportunity cost akan membantu kamu menunjukkan trade-off dari sebuah keputusan bukannya menentukan bahwa satu pilihan selalu lebih benar daripada pilihan lainnya.
Kenapa Opportunity Cost Sering Terlewat?
Secara teori, setiap keputusan seharusnya mempertimbangkan alternatif yang dilepas. Tetapi, dalam praktiknya opportunity cost sering tidak muncul secara spontan saat seseorang membuat pilihan.
Menurut penelitian Stephen Spiller orang lebih mungkin mempertimbangkan penggunaan alternatif dari sumber daya ketika keterbatasan yang mereka hadapi terasa lebih jelas.
Karena itu, daripada hanya menilai satu investasi secara terpisah kamu harus bandingkan juga dengan alternatif yang tersedia berdasarkan return, risiko, horizon, likuiditas, dan biaya.
Gunakan Opportunity Cost untuk Membandingkan Pilihan dengan Lebih Baik
Opportunity cost adalah nilai dari alternatif terbaik yang dilepas ketika modal, waktu atau sumber daya digunakan untuk pilihan lain.
Dalam investasi, konsep ini membantu kamu tidak hanya bertanya “Berapa return investasi ini?” tetapi juga akan mempertimbangkan risiko, manfaat, dan alternatif lain yang tersedia.
Jika perbandingan dapat dihitung dan kamu bisa melihat selisih expected return atau nilai investasi yang diharapkan. Namun kamu juga harus pastikan horizon, risiko, biaya, likuiditas, dan mata uangnya cukup sebanding.
Hindari juga menilai keputusan hanya dari hasil akhirnya. Saham yang kemudian naik paling tinggi belum tentu merupakan pilihan yang dapat diketahui sejak awal.
Kamu bisa menggunakan Gotrade untuk memantau saham dan ETF AS yang sedang dipelajari, lalu membandingkan alternatif, risiko, horizon, dan thesis sebelum menentukan bagaimana modal akan dialokasikan.
Buka akun Gotrade dan mulai pantau saham serta ETF AS yang ingin kamu analisis.
Referensi
Spiller, S. A. (2011), “Opportunity Cost Consideration.”
CFA Institute, “Capital Market Expectations, Part I: Framework and Macro Considerations.”
Fernando, J, “Opportunity Cost: Definition, Formula, and Examples.”
Greenlaw, S. A., Shapiro, D., & MacDonald, D, “Principles of Economics 3e: How Individuals Make Choices Based on Their Budget Constraint.”
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.














