Gotrade News - Aksi jual besar-besaran di pasar saham AS sepanjang 2026 telah menciptakan peluang yang jarang terjadi. Menurut analis Morningstar, setidaknya lima saham besar kini diperdagangkan jauh di bawah estimasi nilai wajarnya setelah tekanan dari ketakutan terhadap AI dan ketidakpastian tarif.
Dave Sekera, Chief US Market Strategist Morningstar, menilai bahwa banyak dari aksi jual ini lebih didorong oleh ketakutan dan ketidakpastian ketimbang analisis fundamental yang solid. Dalam episode The Morning Filter yang tayang Senin (23/02), Sekera memaparkan lima saham pilihan yang menurutnya mengalami pullback berlebihan.
Key Takeaways:
- Microsoft dan Palo Alto Networks masing-masing diperdagangkan di diskon 34% dari nilai wajar Morningstar setelah gelombang jual sektor software
- Morningstar menilai ketakutan AI terhadap sektor software, wealth management, dan cybersecurity sebagian besar berlebihan dalam jangka pendek
- Pertumbuhan GDP AS di 2025 jauh lebih kuat dari ekspektasi awal ekonom saat tarif pertama kali diumumkan, mengindikasikan faktor lain lebih dominan menggerakkan ekonomi
Microsoft menjadi pilihan utama Sekera dengan status 5 bintang dan diskon 34% dari nilai wajar. Saham ini telah turun sekitar 28% dari titik tertinggi 52 minggunya, sebagian besar karena asumsi pasar bahwa AI akan mengurangi kebutuhan terhadap software Microsoft secara bertahap.
Menurut Sekera, ketakutan tersebut berlebihan karena Microsoft justru memiliki kombinasi terbaik antara stabilitas bisnis langganan jangka panjang dan potensi kenaikan dari AI melalui Azure. Saham ini kini diperdagangkan di 23 kali estimasi laba 2026, jauh di bawah rata-rata 30 kali dalam lima tahun terakhir.
Cybersecurity Justru Diuntungkan AI
Pilihan kedua adalah Palo Alto Networks yang juga berada di diskon 34% dengan rating 4 bintang. Sekera berargumen bahwa sektor cybersecurity justru akan diuntungkan oleh perkembangan AI, bukan terancam olehnya.
Logikanya sederhana, penggunaan AI oleh peretas membuat kebutuhan cybersecurity semakin meningkat di masa depan. Morningstar menilai Palo Alto memiliki economic moat lebar berdasarkan network effect dan switching costs, serta diproyeksikan mencatat pertumbuhan laba tahunan di atas 30% dalam lima tahun ke depan.
Amazon menjadi pilihan ketiga dengan rating 4 bintang dan diskon 19% dari nilai wajar Morningstar. Saham ini turun sekitar 9% sepanjang tahun ini, tertekan oleh kekhawatiran pasar atas rencana belanja modal senilai 200 miliar dolar AS untuk 2026.
Namun Sekera menekankan bahwa Amazon memiliki rekam jejak panjang dalam mengeksekusi taruhan besar pada teknologi dan lini bisnis baru. Kombinasi pertumbuhan stabil dari ritel dan Prime, ditambah runway panjang dari AWS dan pendapatan iklan, menjadikannya menarik di valuasi saat ini yang berada di bawah 30 kali estimasi laba 2026.
Rotasi ke Value Stocks Mulai Terjadi
Dua pilihan terakhir Sekera adalah LPL Financial dan Thermo Fisher Scientific, keduanya dengan rating 4 bintang. LPL Financial diperdagangkan di diskon 41% dari nilai wajar setelah terseret oleh aksi jual saham-saham wealth management, sementara Thermo Fisher berada di diskon 19%.
Untuk LPL Financial, Sekera menilai ketakutan bahwa AI akan menggantikan financial advisor tidak berdasar kuat. Robo-advising sudah ada selama lebih dari satu dekade, namun belum pernah mengambil pangsa pasar yang signifikan dari financial advisor.
Sementara untuk Thermo Fisher, analis Morningstar menilai pasar bereaksi berlebihan terhadap penurunan margin operasional yang kemungkinan bersifat sementara akibat tarif. Saham ini diperdagangkan di bawah 20 kali estimasi laba 2026, dibandingkan rata-rata historis di atas 25 kali.
Sekera juga memberikan konteks penting mengenai dampak tarif terhadap ekonomi secara keseluruhan. GDP riil AS di 2025 tumbuh jauh lebih kuat dari prediksi awal, dengan pertumbuhan 3% di Q2, 4,4% di Q3, dan estimasi 2,4% di Q4 jika tanpa government shutdown.
Inflasi pun tidak melonjak seperti yang ditakutkan banyak ekonom. Menurut data yang disampaikan Sekera, CPI berada di kisaran 2,4% hingga 3,0% sepanjang periode tarif berlaku, dan tercatat di level 2,4% pada Januari lalu.
Mengenai sektor yang perlu diwaspadai, Sekera justru memperingatkan saham-saham hardware komoditas, khususnya semikonduktor memori. Micron disebut sebagai saham 1 bintang yang sangat mengkhawatirkan karena harga memori yang telah melonjak tajam kemungkinan akan terkoreksi saat pasokan baru mulai tersedia pada pertengahan 2027.
Pesan utama dari Morningstar cukup jelas, jangan bereaksi berlebihan terhadap ketakutan jangka pendek. Fundamental dan valuasi tetap menjadi faktor penentu utama, dan saat ini beberapa saham berkualitas tinggi tersedia di harga yang relatif jarang terlihat.
Itu dia rangkuman terbaru yang perlu diperhatikan pasar hari ini. Ikuti Gotrade News untuk update saham dan ETF AS, plus perkembangan makro yang relevan untuk investor Indonesia. Untuk belajar lebih terstruktur, kunjungi Panduan Gotrade agar memahami investasi saham Amerika secara lengkap.
Jika ingin merespons berita ini, pantau pergerakan aset dan cek portofolio di aplikasi Gotrade. Investasi saham dan ETF AS di Gotrade bisa dimulai dari Rp15 ribu, lalu sesuaikan langkah dengan tujuan dan profil risiko. Download dan buka aplikasi Gotrade sekarang!
Referensi:
-
Morning Star, 5 Oversold Stocks to Buy Before They Rebound. Diakses pada 24 Feb 2026
-
Featured Image: Shutterstock











