Gotrade News - Bursa Efek Indonesia (BEI) menandai 51 saham sebagai High Share Concentration (HSC), atau saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi. Menurut Katadata, jumlah tersebut melonjak dari yang sebelumnya 14 saham, dengan 37 nama saham baru.
Dari total tersebut, 12 saham terhubung dengan grup konglomerat besar Indonesia, sehingga masuk ke daftar yang oleh media disebut daftar merah. Langkah ini adalah perubahan struktur pasar yang menyoroti transparansi kepemilikan bagi investor ekuitas.
12 Saham Konglomerat Masuk Daftar HSC
Melansir Katadata, kelompok Sinar Mas menyumbang lima saham, Salim Group tiga saham, sementara Djarum, Lippo Group, Mayapada milik Dato Sri Tahir, dan CT Corp masing-masing dua saham. Grup Bakrie menyumbang satu saham, bersama sejumlah nama pengendali lain seperti Haji Isam, Hermanto Tanoko, Jusuf Hamka, Murdaya Poo, dan Low Tuck Kwong.
Saham-saham yang ditandai memiliki konsentrasi kepemilikan di kisaran 92,71% hingga 99,99% di tangan pemegang saham utama. Konsentrasi setinggi itu berarti jumlah saham yang benar-benar beredar bebas di pasar relatif kecil, sehingga pergerakan harga bisa menjadi lebih tajam dan likuiditas lebih tipis.
Rasio Price Impact Jadi Kriteria Baru
BEI menambahkan rasio price impact sebagai kriteria penyaringan baru untuk saham dengan kapitalisasi pasar di atas Rp 10 triliun. Menurut Liputan6, rasio ini membandingkan rata-rata perubahan harga terhadap velocity, yakni volume transaksi rata-rata dibanding jumlah saham free float. Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyatakan pihaknya melihat ada ruang untuk penyempurnaan metodologi, sehingga rasio price impact diterapkan pada seluruh saham berkapitalisasi di atas Rp 10 triliun.
Evaluasi awal menggunakan data registrasi pemegang saham per 30 Juni 2026, dan penilaian akan dilakukan setiap tiga bulan mengikuti siklus peninjauan indeks utama BEI. Dilansir Liputan6, evaluasi berikutnya dijadwalkan pertengahan Oktober 2026 memakai data kepemilikan hingga 30 September. BEI membingkai langkah ini sebagai penyempurnaan metodologi hasil evaluasi internal serta dialog dengan MSCI dan investor global.
Bagi investor, dorongan transparansi kepemilikan sejalan dengan cara pasar yang lebih matang menilai kualitas tata kelola. Di pasar Amerika Serikat, keterbukaan struktur kepemilikan dan pengawasan pasar sudah lama menjadi standar yang mendasari kepercayaan investor terhadap nama-nama finansial besar seperti JPMorgan Chase (JPM) dan Bank of America (BAC).
Kerangka pengawasan yang jelas juga menjadi fondasi bagi bisnis jaringan pembayaran global seperti Visa (V), yang bergantung pada kepercayaan dan tata kelola pasar yang transparan. Sinyal dari BEI ini lebih banyak berbicara soal kualitas struktur pasar domestik daripada dampak langsung ke saham AS.
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.