AS Buka Ekspor Chip H200 ke China, Kirim Minim

Setya MahardikaSetya MahardikaHendrie Saputra
Ditinjau oleh Hendrie Saputra
AI-powered contentSome parts of this article are powered by AI.

Bagikan artikel

AS Buka Ekspor Chip H200 ke China, Kirim Minim

Gotrade News - Amerika Serikat sudah membuka jalur ekspor chip kecerdasan buatan (AI) Nvidia H200 ke China lewat kerangka lisensi yang dinilai kasus per kasus, namun pengiriman nyata ke pasar tersebut hingga awal September 2026 masih sangat minim. Kebijakan chip AS-China ini menjadi kisah "menunggu konfirmasi", di mana izinnya sudah ada tetapi realisasi volume ekspor belum terlihat. Bagi investor yang memegang saham semikonduktor AS, arah kebijakan ini menyentuh langsung prospek pendapatan produsen chip terbesar dunia, meski dampak konkret terhadap penjualan masih menunggu bukti pengiriman yang berjalan.

Key Takeaways

  • AS mengizinkan ekspor chip AI H200 ke China lewat lisensi kasus per kasus, tetapi jumlah pengiriman nyata masih sangat sedikit.
  • Ekspor chip ke China dikenai tarif 25 persen dan batas volume maksimal 50 persen dari penjualan domestik AS.
  • Realisasi pendapatan dari pasar China bagi produsen chip AS belum terkonfirmasi, sehingga narasi tetap kondisional.

Menurut Reuters via Investing.com, Jeffrey Kessler selaku Under Secretary of Commerce for Industry and Security menyatakan di hadapan US House Foreign Affairs Committee pada 14 Juli 2026 bahwa pengiriman chip H200 ke China sudah "dimulai", namun jumlahnya "sangat sedikit" atau tergolong ekspor minimal. Pernyataan pejabat AS ini menegaskan bahwa pembukaan jalur ekspor belum otomatis berujung pada gelombang pengiriman besar.

Masih dari laporan yang sama, sekitar 10 perusahaan China telah mendapat izin pada Mei 2026 untuk membeli chip H200. Reuters menyebut Alibaba, Tencent, ByteDance, satu unit dari ZTE Corp, dan dua perusahaan lain di antara pihak yang dibersihkan untuk membeli. Daftar pembeli ini menunjukkan permintaan potensial dari raksasa teknologi China memang ada, sekalipun eksekusi pembeliannya belum sepenuhnya berjalan.

Baca juga: Oracle (ORCL) Rilis 10 Sep, Backlog AI $638 Miliar

Tarif 25 Persen dan Batas Volume 50 Persen

Dilansir CRN Asia, AS mengenakan tarif sebesar 25 persen atas chip yang ditujukan ke China di bawah perintah keamanan nasional Section 232, hasil dari investigasi selama sembilan bulan. Selain tarif, ada batas volume yang membuat pengiriman ke China tidak boleh melebihi 50 persen dari volume yang dijual di pasar domestik AS.

Ketentuan operasionalnya tergolong ketat. Setiap pengiriman ke China wajib menjalani pengujian pihak ketiga oleh laboratorium yang berkantor pusat di AS. Chip yang diproduksi di Taiwan bahkan harus transit lebih dulu melalui AS untuk pengujian, dan proses transit inilah yang memicu pengenaan tarif tersebut. Menurut CRN Asia, Menteri Perdagangan Howard Lutnick tetap memegang kewenangan luas untuk memberikan pengecualian, yang menambah lapisan ketidakpastian atas bagaimana aturan ini diterapkan kasus per kasus.

Izin ekspor sudah terbit, tetapi tarif 25 persen, batas volume 50 persen, dan kewajiban pengujian pihak ketiga membuat realisasi pengiriman ke China berjalan lambat.

Aturan BIS dan Sikap China di Bea Cukai

Melansir Introl, Bureau of Industry and Security (BIS) menerbitkan aturan final pada 15 Januari 2026 yang mengubah peninjauan chip H200 dan AMD MI325X dari asumsi penolakan menjadi peninjauan kasus per kasus. Ambang performa yang dipakai mencakup Total Processing Performance (TPP) di bawah 21.000 dan bandwidth DRAM di bawah 6.500 GB/s. Aturan ini menetapkan empat syarat, yakni perlindungan pasokan AS, kewajiban Know Your Customer, pengujian pihak ketiga di AS, serta larangan pengalihan kapasitas foundry dari pelanggan AS.

Baca juga: Gotrade Daily: Data Kerja AS Jadi Penentu Malam Ini

Nvidia berada di pusat kebijakan ini karena H200 adalah salah satu chip AI andalannya, sehingga arah aturan ekspor menentukan seberapa besar pasar China dapat kembali dibuka bagi Nvidia (NVDA). Di sisi lain, Advanced Micro Devices turut disebut lewat chip MI325X yang masuk dalam kerangka peninjauan yang sama, membuat prospek ekspor Advanced Micro Devices (AMD) juga bergantung pada realisasi lisensi. Sebagai pemasok komponen jaringan dan solusi terkait pusat data AI, sentimen di rantai pasok chip juga kerap menjalar ke saham seperti Broadcom (AVGO).

Yang membuat narasi tetap kondisional adalah sikap dari sisi China. Masih menurut Introl, ByteDance sempat menyiapkan pesanan hingga lebih dari 14 miliar dolar AS untuk 2026, tetapi otoritas China justru memblokir atau tidak menganjurkan impor H200 di bea cukai. Artinya, hambatan tidak hanya datang dari aturan AS, melainkan juga dari kebijakan di dalam negeri China sendiri, sehingga aliran pengiriman nyata tertahan di dua sisi.

Bagi investor GTI, poin utamanya adalah membedakan antara "izin sudah ada" dan "pendapatan sudah masuk". Pembukaan jalur ekspor secara resmi merupakan sinyal positif dari sisi kebijakan, tetapi selama volume pengiriman masih minim dan gesekan tarif serta sikap bea cukai China belum reda, kontribusi konkret pasar China terhadap pendapatan produsen chip AS masih perlu dikonfirmasi lewat data pengiriman dan laporan keuangan berikutnya. Selama itu belum terlihat, prospek terkait ekspor chip ke China lebih tepat dibaca sebagai peluang yang menunggu bukti, bukan katalis yang sudah terealisasi.

Sumber

Tambahkan sebagai sumber pilihan di Google

Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.


Setya Mahardika
Ditulis oleh
Setya Mahardika
Setya Mahardika memimpin editorial untuk konten pasar AS dan berita Gotrade. Dengan pengalaman 4+ tahun di fintech dan industri terkait lainnya, ia memverifikasi setiap artikel terhadap sumber primer, laporan keuangan perusahaan, data bursa, dan rilis resmi sebelum tayang. Fokusnya adalah akurasi dan kejelasan sumber, agar investor Indonesia dapat mempercayai apa yang mereka baca sebelum berinvestasi.
Baca lebih lanjut
Hendrie Saputra
Ditinjau oleh
Hendrie Saputra
Expert Reviewer
Hendrie Saputra adalah lulusan Master of Business Administration (MBA) dengan konsentrasi Business Risk & Finance, serta memiliki latar belakang profesional di bidang finance, marketing, dan manajemen proyek. Ia memiliki izin Securities Broker-Dealer Representative (WPPE) yang di awasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan terbiasa menganalisis data pasar serta menyusun strategi bisnis berbasis riset.
Baca lebih lanjut

Artikel terkait

Dipercaya

lebih dari

1M+

Trader di Indonesia 🌏

Keamananmu adalah prioritas kami 🔒

Gotrade terdaftar & diawasi

KominfoOJKSOCFintech Indonesia

Penghargaan atas kinerja dan inovasi terdepan!🏅

 

Benzinga Global Fintech Awards 2024
Five Star Award 2024
Highest Trading Volume in Indonesia, 2024
Highest Combined 2022
Mockup Two Phones

Trading Lebih Cepat. Lebih Mudah. Lebih Cerdas.

#ReadyGoTrade

Gotrade Green Logo Top Left

Welcome Reward hingga $1.888

Buat akun dan trading saham AS di Gotrade

*Syarat dan ketentuan berlaku