Gotrade News - Bursa Efek Indonesia menghadapi tekanan berat setelah MSCI dan FTSE Russell mencoret sejumlah saham domestik dari indeks global pada Mei 2026. Net foreign sell harian mencapai Rp 1,07 triliun, sementara akumulasi sejak awal tahun menembus Rp 51,42 triliun.
Dampaknya, IHSG terkoreksi 28,74 persen secara year-to-date dan rupiah melemah ke Rp 17.717 per dolar AS. Sentimen ini turut menggerakkan minat investor ke instrumen safe-haven dan ekuitas global yang lebih likuid.
Key Takeaways
- MSCI keluarkan 5 saham dari Global Standard dan 13 saham dari Small Cap efektif 29 Mei 2026.
- FTSE Russell coret DSSA, DAAZ, HILL, dan MLIA efektif 22 Juni 2026 karena masalah free float dan likuiditas.
- BEI menyiapkan strategi agar emiten domestik kembali masuk indeks global melalui penguatan kapitalisasi dan likuiditas perdagangan.
Pemicu Rebalancing
Menurut MetroTV, MSCI pada 13 Mei 2026 mengeluarkan lima saham dari MSCI Global Standard plus tiga belas saham dari MSCI Small Cap. Rebalancing tersebut efektif berlaku pada 29 Mei 2026 dan memicu arus keluar pasif dari dana indeks.
FTSE Russell menyusul pada 23 Mei 2026 dengan mencoret empat saham Indonesia dari FTSE Global Equity Index Series. Dilansir Liputan6, DSSA dicoret karena konsentrasi kepemilikan tinggi, sementara DAAZ, HILL, dan MLIA gagal memenuhi kriteria free float dan kualitas perdagangan.
Tekanan makro turut memperburuk sentimen pasar domestik sepanjang Mei 2026. Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan 50 basis poin untuk menjaga stabilitas rupiah yang menyentuh Rp 17.717 per dolar AS.
Investor global merespons dengan rotasi portofolio ke pasar negara berkembang lain yang lebih stabil. ETF seperti Vanguard FTSE Emerging Markets ETF (VWO) menjadi alternatif eksposur emerging markets tanpa konsentrasi risiko Indonesia.
Sebagai pembanding regional, iShares MSCI Indonesia ETF (EIDO) turut mencerminkan tekanan jual asing pada ekuitas Indonesia. Investor ritel domestik dapat memantau pergerakan EIDO sebagai indikator sentimen asing yang lebih real-time.
Strategi Comeback BEI
Menurut Liputan6, Pjs Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyatakan pihaknya akan mengajak emiten berdiskusi. "Akan kami ajak diskusi, bagaimana kita bisa bersama-sama untuk bisa menambah jumlah perusahaan tercatat kita yang bisa masuk ke dalam indeks global," ujar Jeffrey.
Kriteria utama yang ditekankan BEI mencakup kapitalisasi pasar memadai dan likuiditas perdagangan yang cukup. Penguatan dua aspek ini menjadi syarat agar saham domestik kembali memenuhi standar MSCI dan FTSE Russell.
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menegaskan pasar modal Indonesia tetap menarik untuk investasi jangka panjang. Sementara Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hasan Fawzi menyebut koreksi pasar tergolong normal dan bukan sinyal kepanikan.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta memberikan pandangan teknikal yang sedikit konstruktif. "IHSG sudah dalam kondisi extremely oversold berdasarkan indikator RSI," kata Nafan, menyiratkan potensi technical rebound pada saham big caps.
Untuk eksposur global yang lebih terdiversifikasi, investor dapat melirik iShares MSCI ACWI ETF (ACWI) yang mencakup pasar maju dan berkembang. Diversifikasi lintas geografi menjadi strategi mitigasi di tengah volatilitas indeks domestik.
Melansir Liputan6, big caps Indonesia berpeluang technical rebound setelah aksi jual asing mereda pasca tanggal efektif rebalancing. Window pemulihan biasanya muncul ketika tekanan jual pasif berakhir dan valuasi tercermin lebih wajar.












