Gotrade News - Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan BI Rate di level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur 21-22 April 2026. Keputusan ini ditujukan untuk memperkuat stabilisasi rupiah di tengah memburuknya kondisi ekonomi global akibat konflik Timur Tengah.
Gubernur Perry Warjiyo menegaskan kesiapan BI menempuh langkah kebijakan moneter lebih kuat apabila diperlukan. Target inflasi 2026-2027 tetap dijaga pada kisaran 2,5% plus minus 1%.
Key Takeaways:
- BI Rate bertahan di 4,75% sejak Januari 2026, setelah dipangkas 125 bps sepanjang 2025
- Rupiah melemah ke Rp17.172/USD, turun 0,87% dari akhir Maret 2026
- Inflasi Maret turun ke 3,48% YoY dari 4,76% di Februari, masih dalam target BI
Keputusan ini merupakan kelanjutan sikap bank sentral sejak awal tahun. Sepanjang 2025, BI memangkas suku bunga lima kali dari 6% ke level 4,75% saat ini.
Suku bunga deposit facility tetap di 3,75%, sementara lending facility di 5,5%. Ketiga suku bunga acuan ini tidak berubah dari rapat periode sebelumnya.
Tekanan terhadap rupiah menjadi pertimbangan utama keputusan kali ini. Data Bloomberg menunjukkan rupiah diperdagangkan di Rp17.172/USD pada Rabu (22/04) sore.
Nilai tukar melemah sekitar 0,87% dari posisi akhir Maret 2026. BI telah melakukan pembelian Surat Berharga Negara dalam jumlah signifikan untuk menopang rupiah.
Dari sisi inflasi, tekanan harga menunjukkan tren penurunan yang positif. Inflasi headline Maret 2026 tercatat 3,48% secara tahunan, turun dari 4,76% pada Februari.
Kebijakan Makroprudensial Tetap Akomodatif
BI mempertahankan countercyclical capital buffer di 0% untuk mendukung pertumbuhan kredit. Program Percepatan Intermediasi Perbankan Indonesia (PINISI) juga dilanjutkan untuk sektor riil.
Dari perspektif global, BI merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia turun menjadi 3%. Konflik di Timur Tengah dan volatilitas pasar keuangan global menjadi faktor utama revisi tersebut.
Respons Pasar dan Implikasi Investasi
IHSG ditutup melemah 0,24% pada perdagangan Rabu (22/04) setelah pengumuman suku bunga. Investor cenderung bersikap hati-hati mengingat ketidakpastian ekonomi global.
Kebijakan suku bunga negara berkembang turut memengaruhi arus modal asing ke pasar Asia Tenggara. Saham perbankan global seperti JPMorgan Chase dan Goldman Sachs memantau perkembangan ini.












