Gotrade News - Bank sentral China membeli emas selama 17 bulan berturut-turut, mendorong kepemilikan ke rekor 2.313 ton. Aksi borong ini merupakan bagian dari strategi BRICS yang lebih luas untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS sebagai mata uang cadangan.
Harga emas melonjak melewati $4.660 per ounce pada April 2026, naik lebih dari 60% year-over-year. Reli ini mencerminkan pergeseran struktural dalam cara bank sentral memandang cadangan devisa, bukan sekadar perdagangan jangka pendek.
Key Takeaways:
- Negara-negara BRICS kini menguasai 17,4% cadangan emas resmi global, naik dari 11,2% pada 2019
- Porsi dolar AS dalam cadangan global turun ke 57%, level terendah sejak 1994
- Pembelian emas oleh bank sentral hampir dua kali lipat setelah 2022, dari 500 ton menjadi lebih dari 1.000 ton per tahun
Rusia memimpin kepemilikan emas BRICS dengan 2.336 ton, diikuti China dengan 2.298 ton. India memegang 880 ton, dan Brasil menggandakan posisi emasnya pada 2025.
Menurut Watcher Guru, negara-negara BRICS+ mengakumulasi sekitar 663 ton senilai $91 miliar hanya dalam sembilan bulan pertama 2025. Emas kini mencakup sekitar 10% dari total cadangan devisa China.
Penurunan dolar tidak terjadi mendadak, melainkan bertahap dan terus berakselerasi. Porsinya dalam cadangan global yang dialokasikan turun dari 71% pada 1999 menjadi 57% pada akhir 2025.
Mengapa Emas, Bukan Surat Utang AS
Bank sentral memilih emas karena tidak memiliki risiko counterparty dan tidak terikat yurisdiksi politik manapun. Berbeda dengan US Treasuries, emas tidak bisa dibekukan atau disanksi oleh satu pemerintah tertentu.
Survei World Gold Council menemukan 73% bankir sentral memperkirakan porsi cadangan dolar akan terus menyusut. Rekor 43% berencana meningkatkan alokasi emas mereka dalam beberapa tahun ke depan.
Michael Harris dari EBC Financial Group menjelaskan secara gamblang dalam wawancara dengan Kitco. "Pergeseran dari cadangan dolar ke emas bukan prediksi, melainkan tren yang didukung data tiga tahun."
Pembelian tahunan bank sentral hampir dua kali lipat setelah 2022, melonjak dari sekitar 500 ton menjadi lebih dari 1.000 ton per tahun. World Gold Council memproyeksikan akumulasi 750 hingga 850 ton pada 2026 saja.
Bagi investor ritel, perdagangan emas memiliki instrumen yang jelas. SPDR Gold Shares (GLD) melacak harga emas batangan secara langsung, sementara Barrick Gold (GOLD) dan Newmont (NEM) menawarkan eksposur leveraged melalui operasi pertambangan.
Deutsche Bank menetapkan target harga emas $6.000 per ounce, dan JPMorgan bahkan lebih tinggi di $6.300. Kedua target mengasumsikan pembelian bank sentral tetap berlanjut di level saat ini.
Tren akumulasi emas BRICS terlihat tahan lama karena didorong oleh kebijakan, bukan spekulasi. Selama ketegangan geopolitik berlanjut dan alternatif dolar tetap terbatas, emas terus menjadi pemenang.
Sources: Watcher Guru, China Buying Gold as BRICS Reserves Rise and Dollar Weakens, 2026. Kitco News, The Shift from Dollar Reserves to Gold Is Not a Prediction but a Trend, 2026.












