Gotrade News - Laba per saham S&P 500 di kuartal pertama melonjak 28,4% secara tahunan ke level $80,75. Pertumbuhan ini menjadi yang tercepat sejak 2021, namun sebagian besar bersumber dari pos non-operasional.
Tiga raksasa teknologi mendominasi kontribusi tersebut lewat keuntungan akuntansi, bukan murni dari bisnis inti. Hal ini memicu pertanyaan investor soal kualitas laba dan keberlanjutan kinerja saham AS sepanjang sisa tahun.
Key Takeaways
- Laba Q1 S&P 500 naik 28,4% YoY, tertinggi sejak 2021 namun banyak ditopang faktor non-operasional.
- Alphabet, Amazon, dan Meta meraup keuntungan akuntansi besar dari Anthropic dan keringanan pajak.
- Risiko utama muncul jika valuasi aset AI dikoreksi atau aturan pajak berubah arah.
Sumber Lonjakan Laba yang Tidak Biasa
Menurut Axios, Alphabet (GOOGL) mencatat windfall senilai $37,7 miliar dari kenaikan valuasi kepemilikan investasi termasuk Anthropic. Angka tersebut melampaui laba bersih tahunan Walmart pada periode pembanding terbaru.
Dilansir Axios, Amazon (AMZN) mengantongi keuntungan akuntansi $16,8 miliar dari investasi di Anthropic. Nilai ini lebih besar dibandingkan laba tahunan Goldman Sachs.
Sementara itu, Meta Platforms (META) mencatat manfaat pajak $8 miliar dari putusan Departemen Keuangan AS. Manfaat pajak ini saja sudah melampaui total laba tahunan Costco di 2025.
Pos-pos tersebut termasuk kategori non-operasional sehingga tidak mencerminkan permintaan iklan, belanja konsumen, atau adopsi cloud secara langsung. Investor jangka panjang umumnya menilai pos seperti ini dengan diskon dibanding laba operasi.
Risiko yang Masih Membayangi
Melansir Axios, prinsip akuntansi memungkinkan keuntungan ditulis kembali (written up) ketika valuasi naik. Namun aset yang sama juga dapat dikoreksi (written down) jika valuasi perusahaan AI menurun di masa depan.
Skenario koreksi ini relevan karena valuasi Anthropic dan ekosistem AI lain sedang berada di level historis tinggi. Penurunan valuasi dapat membalik kontribusi laba menjadi kerugian akuntansi di kuartal berikutnya.
Menurut Seeking Alpha, pendapatan inti Meta di Q1 sebenarnya tumbuh 33,1% ke $56,31 miliar. Pertumbuhan ini ditopang iklan dan kenaikan pendapatan rata-rata per pengguna, khususnya di Eropa dan Asia Pasifik.
Namun unit Reality Labs telah mencatat akumulasi kerugian $70,79 miliar sejak 2022. Beban ini menjadi pengingat bahwa lini investasi jangka panjang dapat menekan profitabilitas meski bisnis inti tetap kuat.
Tekanan regulasi juga membayangi, terutama soal keamanan anak di pasar AS dan Uni Eropa. Komitmen modal untuk infrastruktur AI dan Reality Labs turut menambah beban kapital di tahun-tahun mendatang.
Bagi investor di pasar saham AS, narasi Q1 ini menggarisbawahi pentingnya memisahkan laba operasi dari pos akuntansi. Membandingkan tren pendapatan, margin operasi, dan arus kas membantu menilai kualitas kinerja yang sebenarnya.












