Gotrade News - APBN hingga akhir Maret 2026 mengalami defisit Rp 240,1 triliun atau 0,93% dari PDB. Defisit ini lebih besar 140,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Meningkatnya realisasi belanja negara awal tahun menjadi penyebab utama.
- Defisit meningkat 140% YoY.
- Percepatan belanja menjadi strategi kunci.
- Dampak ekonomi diharapkan lebih merata.
Realisasi belanja negara hingga Maret mencapai Rp 815 triliun, meningkat 31,4% secara tahunan. Sementara itu, pendapatan negara tercatat Rp 574,9 triliun, tumbuh 10,5% YoY. Percepatan belanja ini dilakukan untuk mendorong perekonomian lebih awal di tahun anggaran.
Seiring dengan percepatan ini, penerimaan pajak juga tumbuh 20,7%. Namun, realisasi kepabeanan dan cukai turun 12,6%, serta penerimaan negara bukan pajak (PNBP) turun 3%. Upaya distribusi belanja merata ini diharapkan dapat memberikan dampak ekonomi signifikan sepanjang tahun.
Purbaya Yudhi Sadewa menekankan bahwa strategi baru ini mulai menunjukkan hasil positif. Meski belanja meningkat, pengaturan dan distribusi anggaran sejak awal tahun diharapkan dapat mendorong pertumbuhan yang lebih berkelanjutan. Pemerintah bertujuan memastikan dampak belanja negara dirasakan lebih cepat dan luas.
Target defisit APBN 2026 sebesar Rp 689,1 triliun atau 2,68% dari PDB. Purbaya menyebut, masyarakat tidak perlu kaget dengan kondisi defisit sekarang. Dengan strategi belanja baru, pemerintah berharap mempercepat dorongan fiskal dan memitigasi tantangan ekonomi yang mungkin muncul.
Referensi:
- Berita Satu, Purbaya Sebut Defisit APBN Tembus Rp 240 Triliun Per Maret 2026. Diakses 6 April 2026
- Katadata, Defisit APBN Capai Rp 240,1 T hingga Maret, Purbaya Sebut Masih Terkendali. Diakses 6 April 2026
- Kumparan, APBN Maret 2026 Defisit Rp 240,1 T, Belanja Tumbuh Lebih Cepat. Diakses 6 April 2026
Featured Image: GPT Image 1.5












