Gotrade News - Badan Pusat Statistik melaporkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,61% secara tahunan pada Kuartal I 2026. Angka ini menjadi pertumbuhan tertinggi sejak Kuartal II 2021 dan melampaui ekspektasi konsensus 5,3%.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyatakan capaian ini terjadi saat ekonomi global masih dibayangi ketidakpastian. Industri pengolahan tumbuh 5,04% dan menjadi penopang utama Produk Domestik Bruto bersama sektor konstruksi.
Key Takeaways:
- Pertumbuhan Q1 2026 di 5,61% jadi rekor tertinggi sejak periode rebound pandemi 2021.
- Konsumsi rumah tangga tumbuh 5,52%, didorong belanja Ramadan dan libur Idul Fitri.
- Investasi non-bangunan menyumbang sekitar 32% dari total PDB pada kuartal ini.
Konsumsi rumah tangga naik dari 5,11% di Kuartal IV 2025 menjadi 5,52% di Kuartal I 2026. Pengeluaran sektor rekreasi dan perjalanan jadi pendorong terbesar selama periode hari raya.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan Indonesia berhasil keluar dari kutukan pertumbuhan 5%. Ia menegaskan ekonomi kini bergerak lebih cepat dibandingkan tren stagnan beberapa tahun terakhir.
Meski tumbuh kuat secara tahunan, PDB justru terkoreksi 0,77% secara kuartalan dibandingkan Kuartal IV 2025. BPS menilai koreksi ini wajar karena pola musiman pasca puncak akhir tahun.
International Monetary Fund memproyeksikan ekonomi global tumbuh 3,1% pada April 2026. Capaian Indonesia tetap berada di atas proyeksi negara berkembang yang dipatok 3,9%.
Bagi investor, data ini memberikan sinyal bahwa permintaan domestik masih kuat menahan tekanan eksternal. Investor global juga bisa mendapat eksposur ke pertumbuhan Indonesia melalui iShares MSCI Indonesia ETF (EIDO).
Pemerintah berencana memperkuat permintaan domestik dan mendukung sektor berorientasi ekspor untuk menjaga momentum. Beberapa kebijakan fiskal jangka pendek lintas kementerian akan dijalankan dalam beberapa bulan ke depan.
BPS mencatat efek basis rendah Q1 2025 sebesar 4,87% turut memperbesar selisih pertumbuhan tahunan. Faktor musiman Ramadan dan Idul Fitri juga mendorong konsumsi rumah tangga di awal tahun.
Selasa (5/5), pasar saham domestik merespons positif dengan IHSG bertahan di level 7.029. Sektor industri pengolahan dan konstruksi jadi pendorong utama bersama investasi masuk pada kuartal ini.
Sumber:












