Eskalasi AS-Iran Guncang Pasar Global, Minyak Naik
Rendy Andriyanto
Gotrade Team
Ditinjau oleh Analis Internal Gotrade
Share this article
Gotrade News - Eskalasi militer AS-Iran mengguncang pasar global setelah AS melancarkan serangan ke Iran pada Selasa malam. Serangan terjadi setelah Iran menembak jatuh helikopter AS di Selat Hormuz, dan Iran kini menyasar negara-negara Teluk.
Ketegangan ini memicu aksi jual berbasis penghindaran risiko di seluruh bursa Asia. Bagi pasar saham AS, risiko pasokan Timur Tengah cenderung menguntungkan emiten energi dan pertahanan, sementara ekuitas luas tertekan.
Key Takeaways
Serangan AS ke Iran pada Selasa malam memicu aksi jual risk-off di bursa Asia.
Harga minyak rebound akibat risiko jalur pasokan melalui Selat Hormuz.
Emiten energi dan pertahanan AS berpotensi diuntungkan oleh risiko konflik Timur Tengah.
Bursa Asia kompak melemah pada perdagangan menyusul kabar eskalasi tersebut. Menurut Investing.com, KOSPI Korea Selatan anjlok sekitar 4 persen sebagai pelemahan terdalam.
Indeks Nikkei 225 Jepang turun 1,1 persen, sementara CSI 300 China melemah 1 persen. Hang Seng Hong Kong tergelincir 1,1 persen dan Straits Times Singapura terkoreksi 1 persen.
Pelemahan KOSPI yang mencapai sekitar 4 persen menjadi yang paling tajam di antara bursa utama Asia. Tekanan terhadap saham chip turut memperberat penurunan indeks di kawasan ini.
Saham-saham teknologi besar ikut tertekan di tengah sentimen negatif ini. SoftBank dan Lenovo masing-masing terjun hampir 10 persen sebagai penggerak utama pelemahan bursa.
Harga minyak mentah rebound seiring kekhawatiran atas jalur pasokan melalui Selat Hormuz. Selat ini merupakan jalur transit minyak global yang krusial, sehingga gangguan kecil pun dapat mengerek harga.
Iran yang kini menyasar negara-negara Teluk menambah kekhawatiran atas stabilitas pasokan energi kawasan. Pasar mengantisipasi potensi gangguan lebih lanjut pada arus minyak yang melewati selat strategis tersebut.
Kenaikan harga minyak ini berpotensi menguntungkan emiten energi besar di AS yang fokus pada eksplorasi. Saham seperti Exxon Mobil (XOM) dan Chevron (CVX) kerap diuntungkan ketika risiko pasokan Timur Tengah meningkat tajam.
Sebaliknya, komoditas logam justru tertekan oleh prospek suku bunga AS. Menurut Bloomberg, aluminium meluncur ke level terendah satu bulan di tengah ketegangan ini.
Emas pun tidak luput dari tekanan meski biasanya menjadi aset lindung nilai. Kontrak berjangka emas turun 1,21 persen ke kisaran 4.234 dolar AS per ons, tergerus oleh prospek suku bunga.
Pergerakan emas dan minyak yang berlawanan menunjukkan dominasi prospek suku bunga AS atas premi geopolitik saat ini. Investor menimbang risiko eskalasi konflik di satu sisi dan tekanan kebijakan moneter ketat di sisi lain.
Dampak bagi Saham Pertahanan
Selain energi, emiten pertahanan AS juga berada dalam sorotan investor selama periode ketegangan ini. Konflik militer Timur Tengah secara historis meningkatkan permintaan terhadap kontraktor pertahanan dan sistem persenjataan canggih.
Saham seperti Lockheed Martin (LMT) kerap menguat saat ketegangan geopolitik memuncak. Namun, ekuitas AS secara keseluruhan tetap menghadapi tekanan risk-off jika eskalasi berlanjut.
Dilansir Seeking Alpha, Iran kini menyasar negara-negara Teluk setelah serangan balasan AS. Eskalasi lebih lanjut berpotensi memperdalam volatilitas pasar dalam beberapa hari ke depan.
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.