Gotrade News - Forbes baru saja memasukkan rupiah ke posisi kelima mata uang terlemah di dunia per 7 April 2026. Penilaian ini langsung memicu perdebatan di kalangan ekonom Indonesia yang menilai pendekatan Forbes terlalu menyederhanakan.
- Forbes menempatkan rupiah di posisi kelima dunia berdasarkan kurs nominal Rp 17.066 per USD
- Ekonom Bank Permata sebut penilaian tersebut "menyesatkan" karena mengabaikan kekuatan fundamental
- Rupiah diproyeksi bisa menyentuh Rp 17.300 jika ketegangan geopolitik di Selat Hormuz meningkat
Posisi Rupiah dalam Daftar Forbes
Kompas Money melaporkan Forbes menggunakan data Open Exchange per 7 April 2026 sebagai acuan. Rupiah tercatat di level Rp 17.066 per USD saat data tersebut dikompilasi.
Empat mata uang yang lebih lemah secara nominal adalah Rial Iran, Pound Lebanon, Dong Vietnam, dan Kip Laos. Menariknya, Dong Vietnam dan Kip Laos juga merupakan mata uang negara ASEAN.
Forbes menyebut meskipun Indonesia memiliki PDB terbesar di ASEAN, mata uangnya merosot. Kombinasi inflasi tinggi dan kekhawatiran resesi disebut sebagai faktor utama pelemahan menurut Forbes.
Detik Finance melaporkan per Jumat (17/04) kurs rupiah tercatat di Rp 17.182,45 per USD. Angka ini menunjukkan pelemahan berlanjut dibanding data Forbes yang diambil 10 hari sebelumnya.
Pada Selasa (15/04), rupiah bahkan sempat menyentuh Rp 17.130 per USD yang menjadi rekor terlemah. Tekanan dolar AS yang stabil di tengah ketidakpastian geopolitik global menjadi faktor pendorong utama.
Ekonom Bantah Narasi Forbes
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menyebut penilaian Forbes "menyesatkan" secara langsung. Menurut Josua, peringkat tersebut hanya benar dalam arti sangat sempit dari sisi nominal kurs per 1 dolar AS.
Josua menjelaskan bahwa REER atau Real Effective Exchange Rate menunjukkan rupiah justru undervalued 2-5%. Acuan ini menggunakan tahun dasar 2020 yang lebih mencerminkan daya beli riil mata uang.
Data fundamental ekonomi Indonesia memang menunjukkan ketahanan yang solid sepanjang 2025. Pertumbuhan ekonomi tercatat 5,11% sementara cadangan devisa mencapai USD 148,2 miliar menurut data Bank Indonesia.
Inflasi pada Maret 2026 tercatat 3,48% yang masih dalam koridor target Bank Indonesia. Realisasi investasi sepanjang 2025 juga melampaui target dengan capaian lebih dari Rp 1.931,2 triliun.
Dari sisi perbankan, pertumbuhan kredit tercatat positif di level 9,37% secara tahunan. Simpanan juga tumbuh 13,18% yang mengindikasikan likuiditas domestik masih sehat.
Josua menegaskan bahwa rupiah sedang tertekan sentimen global, bukan mata uang yang rusak fundamental. Perbedaan antara tekanan sementara dan kelemahan struktural menjadi kunci membaca kondisi ini.
Proyeksi terbaru menunjukkan rupiah berpotensi menyentuh level Rp 17.300 per USD dalam waktu dekat. Eskalasi ketegangan di Selat Hormuz terkait Iran menjadi risiko utama yang dipantau pelaku pasar.
Konteks pelemahan rupiah kali ini berbeda dari krisis 1998 yang disebabkan kelemahan struktural. Fundamental makroekonomi Indonesia jauh lebih kuat dibanding era tersebut menurut konsensus ekonom.












