Investor mencermati arah earnings serta data tenaga kerja dan inflasi.
Pasar saham AS menguat pada Senin, dipimpin oleh rebound sektor teknologi, mendorong Dow Jones Industrial Average mencetak rekor baru sementara S&P 500 membukukan kenaikan dua hari berturut-turut. Dow Jones naik tipis 0,04% ke 50.135,87, S&P 500 menguat 0,47% ke 6.964,82, dan Nasdaq Composite memimpin dengan kenaikan 0,9% ke 23.238,67.
Sektor semikonduktor kembali menjadi penopang utama. Nvidia (NVDA) naik 2,5% dan Broadcom (AVGO) melonjak 3,3%, melanjutkan penguatan dari sesi sebelumnya. Oracle (ORCL) mencatat lonjakan 9,6% setelah dinaikkan ratingnya menjadi Buy oleh D.A. Davidson, dengan optimisme terkait eksposur ke OpenAI dan ekosistem AI.
Penguatan ini menyusul volatilitas tinggi pekan lalu, ketika aksi jual di saham software dan growth memicu pergeseran risk-off. Investor kini menimbang apakah reli terbaru memiliki daya tahan atau sekadar pantulan teknikal setelah tekanan jual mereda.
Fokus pasar selanjutnya tertuju pada kombinasi data makro dan laporan laba. Coca-Cola (KO) dan Ford Motor (F) dijadwalkan melaporkan kinerja, sementara pelaku pasar juga menantikan rilis data ekonomi AS yang sempat tertunda, termasuk laporan tenaga kerja Januari pada Rabu dan inflasi CPI pada Jumat. Konsensus memperkirakan penambahan sekitar 55.000 pekerjaan dengan inflasi tahunan di kisaran 2,5%.
Di luar saham, perhatian kembali tertuju pada logam mulia. Harga emas naik kembali ke atas US$5.000 per ons setelah koreksi tajam pekan lalu. Namun, sentimen terhadap saham-saham penambang emas mulai lebih berhati-hati. VanEck Gold Miners ETF (GDX) yang sebelumnya melonjak ke rekor tertinggi, mulai bergerak mendatar di tengah kekhawatiran valuasi, konsentrasi kepemilikan, dan sinyal teknikal yang mulai jenuh. Dalam fase konsolidasi seperti ini, sebagian investor biasanya menggunakan options untuk menyusun eksposur dengan skenario risiko yang lebih terukur, alih-alih menambah posisi spot secara agresif.
📊 Market Wrap 10 Feb 2026

🧠 Catatan Analis Hari Ini

💬 Market Highlights
Kyndryl Tertekan Setelah Tunda Laporan Keuangan dan Perubahan Manajemen
Saham Kyndryl (KD) anjlok tajam setelah perusahaan menunda pengajuan laporan keuangan, termasuk Form 10-Q, di tengah proses peninjauan praktik akuntansi dan pengendalian internal. Tekanan pasar semakin besar setelah CFO David Wyshner dan General Counsel Edward Sebold mundur secara efektif langsung, sementara perusahaan mengonfirmasi adanya permintaan dokumen sukarela dari SEC terkait manajemen kas, pelaporan arus kas, dan efektivitas internal control.
Meski kinerja operasional kuartal ketiga menunjukkan pertumbuhan pendapatan dan laba yang masih positif, hasil tersebut meleset dari ekspektasi. Pernyataan manajemen bahwa laporan sebelumnya tidak lagi dapat diandalkan dan potensi material weakness pada internal control meningkatkan kekhawatiran risiko tata kelola dan ketidakpastian laporan keuangan ke depan, yang untuk sementara membayangi visibilitas fundamental jangka menengah Kyndryl.
Alphabet Siap Terbitkan Obligasi untuk Dukung Ekspansi AI
Alphabet (GOOG, GOOGL) mengumumkan rencana penggalangan dana melalui pasar obligasi, dengan nilai penerbitan diperkirakan sekitar US$15 miliar, guna mendukung belanja modal besar-besaran untuk pengembangan infrastruktur AI. Langkah ini menyusul panduan belanja modal 2026 sebesar US$175 miliar hingga US$185 miliar, yang menegaskan komitmen Alphabet untuk mempertahankan momentum pertumbuhan AI di seluruh lini bisnisnya.
Pendanaan berbasis utang mencerminkan keyakinan manajemen terhadap kekuatan neraca dan arus kas jangka panjang, sekaligus menandai fase baru di mana ekspansi AI semakin intensif modal. Pasar cenderung melihat langkah ini sebagai strategi proaktif untuk mengamankan fleksibilitas finansial di tengah persaingan AI yang semakin ketat.
Strategy Kembali Tambah Kepemilikan Bitcoin di Tengah Volatilitas Harga
Strategy (MSTR) melanjutkan strategi akumulasi bitcoin dengan membeli 1.142 BTC senilai sekitar US$90 juta dalam sepekan terakhir, pada harga rata-rata sekitar US$79 ribu per koin. Pembelian ini dilakukan melalui hasil penjualan saham, meningkatkan total kepemilikan menjadi lebih dari 714 ribu BTC dengan biaya akumulatif sekitar US$54,35 miliar.
Langkah ini menegaskan komitmen jangka panjang manajemen terhadap strategi treasury berbasis bitcoin, meski harga BTC masih berada di bawah harga rata-rata pembelian dan volatilitas pasar kripto tetap tinggi. Bagi investor, dinamika ini memperkuat karakter MSTR sebagai proxy leveraged terhadap pergerakan bitcoin, dengan profil risiko yang semakin sensitif terhadap fluktuasi harga aset digital.
📅 Jadwal Laporan Keuangan

Pasar memasuki fase evaluasi ulang kepemimpinan sektor, di mana reli teknologi diuji oleh disiplin valuasi dan sinyal makro yang semakin penting. Dengan volatilitas yang masih terasa, perhatian investor tertuju pada apakah penguatan ini dapat meluas atau justru berujung pada seleksi aset yang lebih ketat dalam beberapa pekan ke depan.
Saham apa yang sedang kamu ikuti hari ini?











