Guncangan Minyak Iran Tekan Pasar, Hormuz Picu Premi Risiko

Rendy Andriyanto
Rendy Andriyanto
Gotrade Team
Ditinjau oleh Analis Internal Gotrade
Guncangan Minyak Iran Tekan Pasar, Hormuz Picu Premi Risiko

Share this article

Gotrade News - Eskalasi konflik Iran dan penutupan Selat Hormuz mendorong harga minyak Brent menembus USD 107 per barel pada perdagangan Selasa. Premi risiko geopolitik kini menjalar ke pasar LNG, saham pertahanan, dan kebijakan moneter di negara-negara berkembang Asia.


Poin Utama

  • Brent menyentuh USD 107 setelah Hormuz ditutup, dengan Goldman Sachs menaikkan target harga ke kisaran lebih tinggi.
  • Bank of Thailand diperkirakan menahan suku bunga karena guncangan minyak mengancam pertumbuhan dan baht.
  • Saham pertahanan terangkat oleh rencana belanja USD 1,5 triliun Trump, sementara Qiagen jatuh ke titik terendah tujuh tahun.

Tekanan ke Oil Majors dan LNG

Lonjakan harga minyak memberi angin segar kepada Exxon Mobil, Chevron, dan Occidental Petroleum. Ketiganya menjadi pemenang langsung dari premi risiko Hormuz yang masih bertahan di atas level normal.

Woodside Energy melaporkan ekspektasi harga LNG yang lebih tinggi akan memperkuat hasil kuartalan, menurut Bloomberg. Permintaan LNG Asia ikut naik karena pembeli Jepang dan Korea Selatan mempercepat kontrak alternatif di luar jalur Teluk Persia.

Premi risiko ini, kata analis Bloomberg, dapat bertahan selama Hormuz belum dibuka kembali. Goldman Sachs sebelumnya menaikkan target Brent ke USD 90 sebelum guncangan, dan kini revisi lanjutan diperkirakan menyusul.

Tekanan ke Asia dan Defense Spillover

Bank of Thailand diperkirakan menahan suku bunga acuan pada pertemuan minggu ini, menurut laporan Bloomberg. Guncangan minyak menambah tekanan terhadap baht dan mengancam jalur pertumbuhan ekonomi Thailand tahun ini.

Inflasi impor Thailand berisiko melonjak karena ketergantungan tinggi pada minyak Timur Tengah. Pelaku pasar juga memantau Bank Indonesia dan bank sentral Filipina untuk respons serupa terhadap guncangan harga energi.

Di Washington, rencana pertahanan Donald Trump senilai USD 1,5 triliun memicu kenaikan saham Lockheed Martin dan Raytheon. Bloomberg melaporkan rencana ini menghadapi penolakan langka dari sebagian Republikan terkait beban fiskal jangka panjang.

Tidak semua sektor diuntungkan oleh ketegangan ini. Saham Qiagen anjlok 10,7 persen ke USD 34,02, level terendah tujuh tahun, setelah penjualan QuantiFERON di Timur Tengah merosot, menurut Insidermonkey.

Manajemen Qiagen memangkas panduan pertumbuhan penjualan 2026 menjadi 1-2 persen dari sebelumnya 5 persen. Pendapatan kuartal pertama tercatat USD 492 juta, hanya tumbuh 2 persen secara nominal.

Gotrade mencatat bahwa pasar Asia kini berada di persimpangan antara peluang energi dan risiko makro. Investor ritel disarankan memantau spread Brent-WTI dan respons bank sentral kawasan secara cermat.

Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.


Artikel terkait

Dipercaya

lebih dari

1M+

Trader di Indonesia 🌏

Keamananmu adalah prioritas kami 🔒

Gotrade terdaftar & diawasi

KominfoOJKSOCFintech Indonesia

Penghargaan atas kinerja dan inovasi terdepan!🏅

 

Benzinga Global Fintech Awards 2024
Five Star Award 2024
Highest Trading Volume in Indonesia, 2024
Highest Combined 2022
Mockup Two Phones

Trading Lebih Cepat. Lebih Mudah. Lebih Cerdas.

#ReadyGoTrade

Gotrade Green Logo Top Left
AppLogo

Gotrade