Jakarta, Gotrade News - Meskipun data tenaga kerja Amerika Serikat terlihat kuat, sentimen konsumen terhadap biaya hidup kemungkinan belum akan membaik dalam waktu dekat.
Steve Hanke, Profesor Ekonomi Terapan di Johns Hopkins University, memperingatkan bahwa harga barang akan mencapai rekor tertinggi pada 2026.
Menurut Hanke dalam wawancaranya dengan David Lin, angka pengangguran yang rendah gagal menangkap keresahan ekonomi yang sebenarnya dirasakan warga AS.
Hanke menilai Jepang masih menghadapi kondisi moneter yang sangat ketat dengan pertumbuhan produktivitas yang datar.
Sementara itu, China menghadapi tantangan berat dalam mencapai target pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) nominalnya.
Hanke memperkirakan negara dengan pasar saham yang sering tercermin dalam iShares China Large-Cap ETF ini akan mengalami resesi de facto karena gagal memenuhi target pertumbuhan.
Di sisi lain, Jerman dan Inggris juga sudah menunjukkan dinamika menyerupai resesi yang dapat menekan sentimen global.
Dalam skenario ini, Dolar AS mungkin tetap kuat bukan karena ekonomi AS sempurna, melainkan karena ekonomi negara maju lainnya berkinerja lebih buruk.