Gotrade News - Harga emas Antam kembali turun ke level Rp 2.764.000 per gram pada Senin, 18 Mei 2026. Harga emas dunia di pasar spot juga melemah 1,17 persen ke level 4.494,7 dollar AS per ounce.
Pelemahan dipicu kekhawatiran inflasi yang makin panas dan penguatan dollar AS terhadap mata uang utama. Imbal hasil obligasi Treasury yang naik menekan emas yang tidak memberikan yield bagi investor jangka panjang.
Key Takeaways
- Harga emas Antam turun Rp 5.000 ke Rp 2.764.000 per gram pada 18 Mei 2026.
- Emas dunia melemah 1,17 persen ke 4.494,7 dollar AS per ounce di pasar spot.
- Analis melihat potensi koreksi lanjutan ke Rp 2,68 juta per gram bila tekanan berlanjut.
Menurut Kompas, harga emas Antam dirilis resmi oleh Logam Mulia setiap pagi pukul 08.30 WIB. Pelemahan sebesar Rp 5.000 per gram ini melanjutkan tren penurunan dari sesi perdagangan sebelumnya.
Pecahan terkecil 0,5 gram dipatok Rp 1.432.000 pada sesi perdagangan hari ini di seluruh gerai resmi. Ukuran 1 kilogram tercatat pada level Rp 2,704 miliar per batang menurut tabel harga harian Antam.
Untuk transaksi buyback di atas Rp 10 juta, pemegang NPWP dikenakan pajak sebesar 1,5 persen sesuai aturan berlaku. Pelaku transaksi tanpa NPWP dikenakan tarif pajak 3 persen pada porsi yang sama.
Pemicu Pelemahan Emas Dunia
Dilansir Kompas, emas spot melemah 1,17 persen ke 4.494,7 dollar AS per ounce dalam perdagangan pagi tadi. Tren mingguan menunjukkan koreksi hampir 4 persen ke bawah level support 4.550 dollar AS per ounce.
Ekspektasi inflasi makin memanas setelah lonjakan harga energi dari ketegangan Timur Tengah memicu tekanan harga lebih luas. Pasar memperkirakan bank sentral global mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari perkiraan konsensus awal tahun.
Dollar AS menguat dan imbal hasil obligasi Treasury naik tajam setelah data inflasi AS terbaru melebihi ekspektasi konsensus pasar. Investor pun mengurangi ekspektasi pemangkasan Fed Funds Rate hingga akhir tahun ini secara material.
Suku bunga tinggi mengurangi daya tarik emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi. Investor global yang mencari eksposur saham emas bisa melihat Newmont (NEM) sebagai proxy penambang emas terbesar dunia.
Skenario Koreksi ke Rp 2,68 Juta
Melansir Kompas, analis Ibrahim Assuaibi memproyeksikan support pertama di level 4.444 dollar AS per ounce. Level domestik setara Rp 2.749.000 per gram apabila tekanan dollar berlanjut hingga sesi pekan ini.
Support kedua berada di level 4.307 dollar AS per ounce atau setara Rp 2.685.000 per gram di pasar Indonesia. Faktor pemicu utama adalah dinamika geopolitik AS, Israel, dan Iran yang masih bergerak fluid.
Penutupan Selat Hormuz dan negosiasi nuklir AS-Iran menjadi variabel kunci yang dipantau pasar minggu ini. Sentimen positif berpotensi mengangkat harga ke level 4.639 dollar AS per ounce bila ketegangan mereda.
Resistensi kuat di atas berada di sekitar 4.800 dollar AS atau setara Rp 2.880.000 per gram menurut analis. Untuk eksposur tematik Indonesia, ETF iShares MSCI Indonesia (EIDO) bisa menjadi alternatif diversifikasi portofolio.
Pelaku pasar emas juga memantau riset Goldman Sachs (GS) sebagai referensi commodities desk global utama. Investor emas fisik di Indonesia cenderung menunggu sinyal pivot suku bunga sebelum menambah posisi besar.












