Gotrade News - Harga minyak melonjak tajam pada Senin setelah peringatan keras Presiden Donald Trump kepada Iran. Brent kontrak Juli naik 1,98% ke 111,42 dolar AS per barel, sementara WTI Juni menguat 2,43% ke 107,98 dolar AS.
Investor di seluruh Asia mengkhawatirkan konflik AS-Iran yang dapat mengganggu jalur pasokan utama Selat Hormuz. Selat sempit tersebut menjadi rute lalu lintas sekitar 20% suplai minyak global setiap hari.
Key Takeaways
- Brent dan WTI melonjak ke level tertinggi bulanan akibat eskalasi geopolitik.
- Selat Hormuz menjadi titik kritis pasokan global jika ketegangan berlanjut.
- Saham minyak AS berpotensi diuntungkan, sementara maskapai menghadapi tekanan biaya avtur.
Melansir Kompas.com, Trump mengirim pesan tegas kepada Iran melalui platform Truth Social pada Minggu malam waktu setempat. Ia menyatakan waktu Iran semakin sempit dan menekan Tehran untuk bergerak cepat menanggapi tuntutan AS.
Ketegangan AS-Iran tetap tinggi meskipun gencatan senjata rapuh telah berlaku sejak April lalu. Iran masih menjaga blokade parsial di Selat Hormuz, sementara AS memperketat enforcement pelabuhan kawasan.
Menurut Metrotv News, pasar Asia ikut tertekan oleh eskalasi krisis Timur Tengah pada perdagangan Senin. Indeks Nikkei melemah 1,1%, Kospi turun 0,1%, dan MSCI Asia-Pasifik tergerus sekitar 0,9%.
Serangan drone ke fasilitas nuklir Uni Emirat Arab semakin memperburuk sentimen risiko regional. Analis memperingatkan pasokan global bisa menyentuh titik kritis pada akhir Juni jika ketegangan persisten.
Pemenang Dan Korban Pasar
Lonjakan harga minyak biasanya memberikan tailwind bagi produsen besar AS. Saham seperti Exxon Mobil (XOM) dan Chevron (CVX) berpotensi diuntungkan dari harga jual lebih tinggi.
Investor yang menginginkan eksposur langsung ke crude juga melirik United States Oil Fund (USO) sebagai instrumen alternatif. ETF ini melacak pergerakan harga minyak WTI secara langsung melalui kontrak berjangka jangka pendek.
Bank UBS memproyeksikan cadangan minyak global akan mendekati level historis terendah pada akhir Mei 2026. Cadangan strategis diperkirakan menyentuh angka 7,6 miliar barel jika tingkat permintaan tetap stabil.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik ke 4,631%, level tertinggi 15 bulan. Kekhawatiran inflasi energi yang persisten mendorong investor keluar dari aset obligasi tenor panjang.
Dilansir Bloomberg Technoz, Ryanair memperingatkan biaya unit bisa naik mid-to-high single digit. Tagihan bahan bakar maskapai Irlandia tersebut sudah melonjak ratusan juta euro.
Sekitar 80% kebutuhan bahan bakar Ryanair sudah di-hedge di level 67 dolar AS per barel. Namun sisanya yang 20% terekspos langsung terhadap lonjakan harga pasar spot saat ini.
Menurut Bloomberg Technoz, sektor energi bersih dinilai relatif imun terhadap guncangan pasokan Selat Hormuz. Energy Transition Commission menyebut sistem energi terbarukan tidak bergantung pada satu titik geografis tertentu.
Investor saat ini memilih strategi barbell untuk menyeimbangkan risiko. Eksposur saham minyak menjadi hedge, sementara nama transportasi menghadapi tekanan margin.
Analis pasar menilai harga Brent bisa menyentuh 130 hingga 140 dolar AS per barel jika Selat Hormuz benar-benar tertutup. Skenario ekstrem tersebut akan memperkuat tesis saham produsen minyak AS sebagai pelindung portofolio jangka pendek.
Sumber
- Harga Minyak Melonjak, Peringatan Trump ke Iran Picu Kekhawatiran Pasokan (Kompas.com)
- Pasar Asia Melemah Akibat Krisis Timur Tengah dan Lonjakan Harga Minyak (Metrotv News)
- Energi Bersih Dipandang Kebal Terhadap Guncangan Hormuz (Bloomberg Technoz)
- Maskapai Irlandia Wanti-Wanti Lonjakan Biaya Imbas Krisis Avtur (Bloomberg Technoz)












