Gotrade News - Harga emas Antam naik Rp35.000 ke level Rp2,8 juta per gram pada perdagangan Kamis, 21 Mei 2026. Harga buyback turut menguat Rp35.000 ke Rp2,604 juta per gram di butik Logam Mulia Jakarta.
Kenaikan ini sejalan dengan penguatan harga emas global sebesar 1 persen ke USD 4.532,72 per ons pada sesi sebelumnya. Momentum bullion mengangkat prospek emiten tambang emas AS yang sahamnya bisa diakses investor Indonesia lewat fraksi.
Key Takeaways
- Harga emas Antam menyentuh Rp2,8 juta per gram, naik Rp35.000 dari sesi sebelumnya.
- Penguatan didukung harga emas dunia yang menembus USD 4.532 per ons.
- Saham penambang emas AS seperti Newmont dan Agnico Eagle berpotensi terdorong tren ini.
Menurut Sindo News, harga jual logam mulia Antam tercatat Rp2.800.000 per gram pada Kamis pagi. Harga buyback ikut naik ke Rp2.604.000 per gram untuk pemegang yang ingin menjual kembali.
Denominasi 0,5 gram dibanderol Rp1.450.000, sementara batangan 10 gram dipasarkan Rp27.550.000. Untuk ukuran 100 gram, harga resmi tercatat Rp274.360.000 di butik Setiabudi One Jakarta.
Pemicu Penguatan Bullion Global
Dilansir Liputan6, harga emas global menguat 1 persen ke USD 4.532,72 per ons pada 20 Mei 2026. Pelaku pasar merespons ekspektasi penyelesaian konflik Iran dan penurunan imbal hasil obligasi AS.
Yield Treasury yang melandai membuat aset tanpa imbal hasil seperti emas relatif lebih menarik bagi investor global. Sentimen ini mendorong arus dana masuk ke instrumen berbasis bullion sepanjang pekan ini.
Rekor tertinggi sepanjang sejarah Antam masih bertengger di Rp3.168.000 per gram pada 29 Januari 2026. Level sekarang berjarak sekitar 11 persen dari puncak tersebut, memberi ruang reli lanjutan jika momentum berlanjut.
Dampak ke Saham Tambang Emas AS
Kenaikan harga bullion biasanya berkorelasi positif terhadap profitabilitas penambang emas berskala global. Harga jual yang lebih tinggi langsung meningkatkan margin operasi perusahaan tambang yang biaya produksinya relatif tetap.
Investor Indonesia bisa mengakses tema ini lewat VanEck Gold Miners ETF (GDX) yang menjadi proksi kinerja sektor tambang emas AS. Produk ini memberi eksposur diversifikasi ke berbagai emiten penambang sekaligus.
Untuk eksposur tunggal, Newmont (NEM) merupakan produsen emas terbesar di dunia dengan operasi di berbagai benua. Saham ini sering menjadi acuan utama investor yang ingin memanfaatkan tren bullish bullion.
Melansir laporan IDX Channel, pembebasan PPN sesuai PP No. 49 Tahun 2022 masih berlaku untuk transaksi emas batangan. Tarif PPh 22 sebesar 0,25 persen turut dikenakan sesuai PMK No. 48 Tahun 2023.
Alternatif lain adalah Agnico Eagle Mines (AEM) yang berbasis di Kanada dengan portofolio tambang berbiaya rendah. Emiten ini dikenal disiplin dalam manajemen modal dan rutin membagikan dividen kepada pemegang saham.
Tren penguatan emas berpotensi terus didukung permintaan safe-haven dari ketidakpastian geopolitik dan kebijakan moneter AS. Pelaku pasar memantau data inflasi dan komentar pejabat The Fed sebagai penentu arah dolar dalam jangka pendek.
Korelasi historis menunjukkan saham penambang emas kerap bergerak lebih agresif dibanding harga bullion saat tren naik berlangsung. Investor jangka pendek bisa memanfaatkan volatilitas ini lewat strategi fractional investing yang lebih terjangkau.
Diversifikasi melalui ETF tetap menjadi pilihan yang lebih aman dibanding eksposur tunggal pada satu emiten penambang. Strategi ini membantu meredam risiko operasional spesifik perusahaan saat sentimen sektor sedang positif.












