Gotrade News - Harga emas Antam turun Rp50.000 per gram menjadi Rp2.645.000 pada perdagangan 19 Agustus 2026, di saat akses menabung emas justru semakin terbuka lebar bagi investor ritel. Menurut Liputan6, harga jual emas batangan Antam terkoreksi dari level Rp2.695.000 pada sesi sebelumnya, sementara harga buyback juga turun Rp50.000 menjadi Rp2.505.000 per gram.
Koreksi ini terjadi seiring pergerakan harga emas dunia yang berada di kisaran US$4.353,81 per ounce, naik tipis 0,43 persen namun tetap tertekan setelah sesi sebelumnya anjlok hampir 2 persen. Emas kerap menjadi aset lindung nilai (safe haven), sehingga pergerakan harganya di pasar domestik menjadi acuan penting bagi investor yang memantau logam mulia sebagai bagian dari diversifikasi portofolio.
Key Takeaways
Harga emas Antam turun Rp50.000 menjadi Rp2.645.000 per gram pada 19 Agustus 2026.
Koreksi dipicu tekanan harga emas dunia di tengah kenaikan imbal hasil obligasi global.
Reksa dana ETF emas syariah XGLD memungkinkan nabung emas mulai dari 0,1 miligram.
Produk ini tercatat di BEI dan tersedia melalui platform IPOT Fund.
Pemicu Koreksi Harga Emas Antam
Dilansir Liputan6, tekanan pada harga emas global datang dari kenaikan imbal hasil obligasi (bond yield) di berbagai negara, yang terjadi di tengah kekhawatiran fiskal dan tekanan inflasi yang persisten. Ketika imbal hasil obligasi naik, daya tarik emas yang tidak memberikan bunga cenderung melemah, sehingga harga logam mulia ini tertekan.
Koreksi harga juga terlihat merata di berbagai penjual emas domestik. Berikut perbandingan harga emas 24 karat per gram pada 19 Agustus 2026:
Penjual
Harga per Gram
Antam
Rp2.645.000
Pegadaian Galeri24
Rp2.645.000
Pegadaian Antam
Rp2.685.000
Pegadaian UBS
Rp2.717.000
Hartadinata Abadi
Rp2.595.000
Bagi investor yang memantau pergerakan emas, eksposur terhadap logam mulia juga bisa diakses melalui saham tambang emas dan ETF penambang emas yang tercatat di bursa Amerika Serikat lewat Gotrade, seperti Newmont (NEM), VanEck Gold Miners ETF (GDX), dan Agnico Eagle (AEM). Instrumen ini menawarkan cara berbeda untuk memperoleh eksposur terhadap tren harga emas selain memiliki emas fisik.
Akses Nabung Emas dari 0,1 Miligram
Di tengah koreksi harga, akses menabung emas justru semakin terjangkau. Dilansir SINDOnews, PT Indo Premier Investment Management (IPIM) bersama PT Indo Premier Sekuritas meluncurkan Reksa Dana Syariah Premier ETF Gold Sharia Indonesia (XGLD). Produk ini tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan tersedia melalui platform IPOT Fund, dengan minimal pembelian 0,1 miligram yang setara dengan satu unit penyertaan. Komposisi portofolionya berisi maksimal 5 persen kas dan sisanya berupa emas murni.
Menurut Direktur PT Indo Premier Investment Management Noviono Darmosusilo, hambatan modal besar untuk menabung emas kini dianggap runtuh. "Melalui inovasi produk PFS XGLD ini batas modal besar itu runtuh. Siapa pun kini bisa mulai menabung emas hanya mulai dari 0,1 milligram," ujarnya sebagaimana dikutip SINDOnews. Produk ini disusun berdasarkan Fatwa DSN-MUI No. 163/DSN-MUI/VIII/2025, sementara potensi pasar ETF emas Indonesia disebut Airlangga mencapai Rp357 triliun.
Melansir Kompas, satu unit penyertaan setara 0,1 miligram emas atau bernilai ratusan rupiah. Emas fisik yang menjadi dasar produk disediakan dan disimpan oleh PT Pegadaian sebagai kustodi, dengan Deutsche Bank AG Jakarta bertindak sebagai bank kustodian, serta emas berstandar internasional LBMA dan SNI. Skema ini disebut menghilangkan kekhawatiran seputar penyimpanan fisik, pencurian, appraisal, hingga proses buyback yang selama ini menjadi pertimbangan investor emas ritel.
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.
Setya Mahardika memimpin editorial untuk konten pasar AS dan berita Gotrade. Dengan pengalaman 4+ tahun di fintech dan industri terkait lainnya, ia memverifikasi setiap artikel terhadap sumber primer, laporan keuangan perusahaan, data bursa, dan rilis resmi sebelum tayang. Fokusnya adalah akurasi dan kejelasan sumber, agar investor Indonesia dapat mempercayai apa yang mereka baca sebelum berinvestasi.
Hendrie Saputra adalah lulusan Master of Business Administration (MBA) dengan konsentrasi Business Risk & Finance, serta memiliki latar belakang profesional di bidang finance, marketing, dan manajemen proyek. Ia memiliki izin Securities Broker-Dealer Representative (WPPE) yang di awasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan terbiasa menganalisis data pasar serta menyusun strategi bisnis berbasis riset.