Euro Sentuh Terendah 17 Bulan, Risiko Politik Eropa Naik

Ringkasan
-
Euro melemah ke kisaran US$1,117 pada Senin (5/10/2026), level terlemahnya sejak Mei 2025 atau terendah dalam 17 bulan terakhir.
-
Sepanjang September, euro turun hampir 2,5%, sementara indeks dolar naik ke dekat level tertingginya sejak pertengahan Mei.
-
Risiko politik di Jerman, seruan pemilu dini di Spanyol, dan yield obligasi Prancis yang menyentuh tertinggi 14 tahun menambah tekanan pada euro.
-
Inflasi zona euro naik ke 3,8% pada September, jauh di atas target ECB sebesar 2%, sehingga ECB menghadapi pilihan sulit antara meredam inflasi dan menjaga pertumbuhan.
Gotrade News - Nilai tukar euro melemah ke kisaran US$1,117 pada Senin (5/10/2026), level terlemahnya sejak Mei 2025 atau terendah dalam 17 bulan terakhir. Menurut Trading Economics, tekanan terhadap euro datang dari kekhawatiran fiskal dan politik yang terus menumpuk di kawasan euro.
Pelemahan ini melanjutkan tren sejak akhir September, ketika euro menembus di bawah US$1,13 untuk pertama kalinya sejak Mei 2025. Bagi pasar AS, euro yang lemah berarti dolar yang makin kuat, sebuah dinamika yang ikut dipengaruhi pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Euro Turun Hampir 2,5% Sepanjang September
Dilansir Kitco yang mengutip Reuters, euro sempat diperdagangkan di US$1,1291 pada 1 Oktober, turun 0,35% dalam sehari. Sepanjang September, mata uang tunggal Eropa itu sudah melemah hampir 2,5%, penurunan bulanan terbesar sejak Juli 2025.
Di sisi lain, indeks dolar naik 0,31% ke dekat level tertingginya sejak pertengahan Mei, dan dolar mencatat kenaikan kuartalan keenam secara beruntun terhadap sekeranjang mata uang utama. Laporan yang sama menyebut imbal hasil Treasury AS mencatat kenaikan kuartalan terbesar sejak 1994, faktor yang turut mendorong penguatan dolar ke level tertinggi dalam 16 bulan.
"Risiko pertumbuhan ini terus membayangi euro," ujar Jane Foley, Head of FX Strategy Rabobank, seperti dikutip Reuters. Menurutnya, meski ECB menaikkan suku bunga, euro sulit menguat karena posisi beli yang sudah besar dan kekhawatiran soal impor energi.
Ray Attrill, Head of FX Strategy National Australia Bank, menilai dolar sensitif terhadap pergerakan imbal hasil Treasury tenor 10 tahun, sehingga kenaikan yield yang berlanjut akan menopang dolar.
Pemicu Politik: Jerman, Prancis, dan Pemilu Dini Spanyol
Dari sisi politik, partai CDU pimpinan Kanselir Friedrich Merz mencatat hasil terburuk sepanjang sejarah dalam pemilu negara bagian Mecklenburg-Vorpommern dan gagal meraih satu kursi pun. Melansir Trading Economics, sejumlah anggota partai bahkan meminta Merz mundur setelah baru 16 bulan menjabat, menyusul kekalahan sebelumnya dari partai anti-imigrasi AfD di Saxony-Anhalt.
Tekanan bertambah setelah Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez menyerukan pemilu dini, usai parlemen menolak paket kebijakan untuk mengatasi krisis perumahan, menurut Trading Economics.
Yield Obligasi Prancis Sentuh Tertinggi 14 Tahun
Risiko fiskal paling terasa di Prancis. Menurut Reuters via Kitco, imbal hasil obligasi pemerintah Prancis naik ke level tertinggi dalam 14 tahun. Scope Ratings telah menurunkan peringkat kredit Prancis, sementara Morningstar DBRS mengubah prospeknya menjadi negatif, dan kekhawatiran ini diperkirakan meningkat menjelang pemilihan presiden tahun depan.
Inflasi Zona Euro 3,8% Menekan Ruang Gerak ECB
Inflasi zona euro naik ke 3,8% pada September, tertinggi sejak September 2023 dan jauh di atas target ECB sebesar 2%, menurut Trading Economics. Kondisi ini membuat ECB menghadapi pilihan sulit antara meredam inflasi dan menjaga pertumbuhan ekonomi yang melambat.
Euro sempat memantul ke US$1,126 pada 2 Oktober setelah ekonomi AS hanya menambah 29.000 lapangan kerja pada September, jauh di bawah ekspektasi 90.000, seiring data tenaga kerja AS yang lemah meredam taruhan kenaikan suku bunga Fed. Namun, pemantulan itu tidak bertahan lama karena tekanan politik dan fiskal di Eropa kembali mendominasi.
Indikator | Data |
|---|---|
EUR/USD (5 Okt 2026) | Sekitar US$1,117, terendah sejak Mei 2025 |
Pelemahan euro September | Hampir 2,5% |
Inflasi zona euro (September) | 3,8% |
Yield obligasi Prancis | Tertinggi 14 tahun |
Tambahan lapangan kerja AS (September) | 29.000 (ekspektasi 90.000) |
Sumber
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.














