Harga Emas Rebound ke USD3.946, Antam dan Buyback Naik

Ringkasan
- Menurut Metrotvnews, emas spot naik 1,8 persen ke USD3.946,63 per ons pada Senin, 2 November 2026, setelah turun 6,8 persen sepanjang Oktober menurut Investing.com.
- Penguatan didukung turunnya harga minyak, pelemahan dolar AS, dan harapan diplomasi AS-Iran.
- Emas Antam naik Rp10.000 ke Rp2.541.000 per gram dan buyback naik Rp25.000 ke Rp2.311.000 per gram, sementara pasar menanti pemilu sela AS.
Gotrade News - Harga emas dunia rebound pada Senin, 2 November 2026, setelah tertekan sepanjang Oktober. Menurut Metrotvnews, yang mengutip data Investing, emas spot naik 1,8 persen ke USD3.946,63 per ons, sementara emas berjangka menguat 1,5 persen ke USD3.956,60.
Penguatan berlanjut tipis di awal perdagangan Asia pada Selasa. Dilansir Investing.com, emas spot naik 0,3 persen ke USD3.956,32 per ons setelah mencatat kenaikan harian terbesar dalam dua bulan. Harga emas Antam dan harga buyback di dalam negeri ikut naik pada Selasa pagi.
Emas Antam Naik Rp10.000, Buyback Naik Rp25.000
Melansir Investor.id, yang memantau laman Logam Mulia, harga emas Antam ukuran 1 gram pada Selasa, 3 November 2026, naik Rp10.000 ke Rp2.541.000 per gram. Harga buyback atau jual kembali naik lebih tinggi, yakni Rp25.000 ke Rp2.311.000 per gram.
Pada Senin, 2 November 2026, harga emas Antam tercatat Rp2.531.000 per gram, naik Rp5.000, menurut Investor.id. Media tersebut juga mencatat transaksi buyback dikenai potongan pajak sesuai PMK No. 34/PMK.10/2017.
| Harga | Level | Perubahan |
|---|---|---|
| Emas spot, Senin 2 November | USD3.946,63 per ons | Naik 1,8% |
| Emas berjangka, Senin 2 November | USD3.956,60 per ons | Naik 1,5% |
| Emas spot, Selasa pagi 3 November | USD3.956,32 per ons | Naik 0,3% |
| Emas Antam 1 gram, 3 November | Rp2.541.000 | Naik Rp10.000 |
| Buyback emas Antam, 3 November | Rp2.311.000 | Naik Rp25.000 |
Pemicu Rebound: Minyak Turun dan Harapan Diplomasi AS-Iran
Menurut Metrotvnews, emas didukung pelemahan dolar AS dan turunnya harga minyak. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan Presiden Donald Trump lebih memilih solusi diplomatik atas konflik dengan Iran, sehingga harapan kesepakatan meningkat dan kekhawatiran soal pasokan energi serta tekanan inflasi mereda.
Dari sisi Iran, Presiden Masoud Pezeshkian menyebut pemerintahnya mendapat kewenangan lebih besar dari pemimpin tertinggi untuk menjajaki perundingan, seperti dilaporkan Investing.com. Media yang sama mencatat harga minyak Brent anjlok lebih dari 7 persen pada Senin, sementara Indeks Dolar AS turun tipis ke 101,80.
Investing.com menulis turunnya harga minyak untuk sementara meredakan kekhawatiran soal pengetatan moneter lanjutan. Menurut media tersebut, biaya pinjaman yang lebih tinggi biasanya membebani emas karena logam mulia ini tidak menghasilkan bunga.
Yield Treasury di Atas 5% Masih Membayangi Emas
Meski rebound, emas belum lepas dari tekanan. Menurut Investing.com, harga emas turun 6,8 persen sepanjang Oktober dan sempat jatuh ke bawah USD4.000 per ons hingga menyentuh level terendah dalam setahun pada akhir bulan.
Analis ANZ, seperti dikutip Metrotvnews, menilai imbal hasil yang tinggi semakin sulit diimbangi emas. ANZ mencatat konsumsi AS tumbuh 3,8 persen secara tahunan dan imbal hasil Treasury AS melampaui 5 persen, lalu memperkirakan imbal hasil yang lebih tinggi dan dolar yang lebih kuat akan membatasi kenaikan emas dalam jangka pendek.
ANZ juga mencatat ETF berbasis emas menarik arus masuk lebih dari 50 ton pada September, yang menurut analis tersebut menunjukkan hubungan terbalik antara imbal hasil dan harga emas telah melemah. Dilansir Investing.com, ANZ menyebut permintaan fisik, terutama dari rumah tangga di China yang membeli saat harga turun, ikut menopang emas.
Di sisi lain, aksi jual saham teknologi akibat kekhawatiran atas investasi AI mendorong investor menjual emas untuk menutup kerugian di portofolio lain, menurut Metrotvnews. Investing.com menambahkan pelemahan saham chip AS yang lebih dalam turut menambah tekanan.
Harga perak, aset acuan iShares Silver Trust (SLV), naik 0,2 persen ke USD50,77 per ons pada awal perdagangan Selasa, sementara platinum naik 0,6 persen ke USD1.455,25, menurut Investing.com. Harga emas dunia juga menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pada saham perusahaan tambang emas AS seperti Newmont (NEM) serta VanEck Gold Miners ETF (GDX), yang berisi saham-saham produsen emas.
Pemilu Sela AS dan Risiko Serangan ke Iran
Menurut Metrotvnews, pasar menanti pemilu sela AS pada Selasa, 3 November 2026. Investing.com menulis hasil pemilu dapat menggeser prospek pasar dan mengembalikan perhatian pada inflasi serta defisit fiskal AS, yang berpotensi memulihkan daya tarik emas sebagai lindung nilai.
Risiko eskalasi juga belum hilang. Metrotvnews melaporkan Trump berulang kali memperingatkan Washington bisa kembali menyerang Iran setelah pemilu, sementara Teheran mengancam akan memberikan respons yang lebih luas. Sejumlah negara Teluk Persia juga menyatakan khawatir serangan lanjutan AS dapat memicu konflik regional yang lebih merusak.
Artikel ini disusun dengan bantuan AI dan diperiksa oleh tim Gotrade sebelum terbit.
Sumber
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.
Investasi saham berisiko tinggi dan tidak sesuai untuk semua orang. Lakukan analisis pribadi sebelum memutuskan.












