Harga Minyak Lompat 2% Imbas Eskalasi Israel-Lebanon
Rendy Andriyanto
Gotrade Team
Ditinjau oleh Analis Internal Gotrade
Share this article
Gotrade News - Harga minyak melompat lebih dari 2% pada Senin (1/6) saat Israel memperluas operasi darat di Lebanon. Lonjakan ini terjadi bersamaan dengan negosiasi damai AS-Iran yang belum menunjukkan kemajuan signifikan.
Eskalasi geopolitik di Timur Tengah menggeser fokus pelaku pasar dari data manufaktur China yang lemah. Premi risiko pasokan mendorong investor berebut posisi pada saham energi dan kontrak berjangka minyak global.
Key Takeaways
WTI naik $2,17 (+2,48%) ke $89,53 per barel dan Brent menguat $1,93 (+2,12%) ke $93,05 per barel.
Israel memperluas operasi darat di Lebanon, menggagalkan gencatan senjata yang dimulai pertengahan April lalu.
Negosiasi draf damai AS-Iran terkait Selat Hormuz belum menghasilkan progres signifikan hingga Minggu (31/5).
Menurut Kabar Bursa, kontrak West Texas Intermediate ditutup di $89,53 per barel pada perdagangan Senin. Brent juga menguat ke $93,05 per barel setelah akhir pekan sebelumnya naik 1,8% dan WTI bertambah 1,7%.
Lonjakan ini melanjutkan tren kenaikan yang sudah terbentuk sejak konflik Israel-Hezbollah pecah pada 2 Maret lalu. Gencatan senjata yang disepakati pertengahan April terbukti rapuh ketika pertempuran kembali pecah dalam beberapa pekan terakhir.
Eskalasi Geopolitik dan Pasokan Minyak
Dilansir Bloomberg Technoz, AS dan Iran saling bertukar pesan akhir pekan ini terkait modifikasi draf perpanjangan gencatan. Usulan tersebut juga mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur transit sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Presiden Donald Trump menggelar pertemuan Situation Room di Gedung Putih pada 29 Mei lalu. Trump berharap dapat segera mengumumkan sebuah kesepakatan dan meminta Iran menghentikan program nuklirnya melalui media sosial.
Kantor berita semi-pemerintah Iran, Tasnim, melaporkan pada Minggu (31/5) bahwa kedua pihak masih mengusulkan amandemen. Risiko penolakan dari salah satu negara bisa membuat draf kesepakatan tersebut batal sepenuhnya.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth memperingatkan bahwa penambahan ranjau laut oleh Iran akan dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata. Pernyataan ini menambah lapisan ketidakpastian baru bagi pasar minyak global pekan ini.
Analis IG Tony Sycamore menilai bahwa meskipun kesepakatan akhirnya tercapai, pembukaan Selat Hormuz tidak akan langsung menambah pasokan ke pasar. Faktor logistik dan teknis membuat normalisasi arus minyak butuh waktu berbulan-bulan.
Implikasi untuk Pasar Saham AS
Kenaikan harga minyak biasanya menjadi katalis positif bagi saham produsen besar seperti Exxon Mobil (XOM) dan Chevron (CVX). Margin penyulingan dan profitabilitas hulu kedua perusahaan ini sangat sensitif terhadap pergerakan harga Brent.
Investor yang mencari eksposur sektoral juga dapat melirik SPDR Energy Select ETF (XLE). ETF ini menampung berbagai emiten energi terintegrasi yang biasanya merespons sentimen geopolitik secara serentak.
Pasar mengabaikan data manufaktur China yang lemah karena dominasi sentimen pasokan. Pelaku pasar menekan posisi pada aset risk-off sembari memantau perkembangan diplomatik dari Washington dan Teheran.
Risiko utama yang dipantau saat ini adalah potensi gangguan di Selat Hormuz serta penambahan ranjau laut oleh Iran. Skenario terburuk dapat mendorong Brent menembus level psikologis baru dalam jangka pendek.
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.