Gotrade News - Harga minyak dunia melonjak tajam pada Minggu (13/04/2026) setelah Amerika Serikat mengumumkan blokade angkatan laut di Selat Hormuz. Minyak mentah Brent naik sekitar 8% ke level USD 102,80 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melonjak 8,61% ke USD 104,88 per barel.
Kenaikan ini terjadi usai perundingan AS-Iran di Pakistan akhir pekan lalu berakhir tanpa kesepakatan. Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan perundingan gagal karena Iran tidak memberikan komitmen tegas untuk menghentikan pengembangan senjata nuklir, menurut laporan Liputan6.
Key Takeaways:
- Minyak Brent tembus USD 102,80 per barel, naik 7,98%, sementara WTI mencapai USD 104,88 per barel, naik 8,61% dalam satu sesi perdagangan
- Blokade AS di Selat Hormuz mulai berlaku Senin pukul 10.00 waktu New York, mencakup semua kapal yang masuk atau keluar pelabuhan Iran di seluruh kawasan
- Sekitar 20% pasokan minyak global melewati Selat Hormuz, dan jumlah kapal tanker yang melintas turun drastis dari lebih dari 100 kapal per hari menjadi hanya tiga kapal
Blokade Hormuz dan Runtuhnya Perundingan Damai
Selat Hormuz merupakan jalur maritim tersempit sekaligus terpenting bagi perdagangan energi global, menghubungkan kawasan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Samudra Hindia. Sekitar 20% dari seluruh pasokan minyak mentah dunia melewati jalur ini setiap harinya, menjadikannya titik paling rentan dalam rantai pasokan energi global.
Sejak konflik bersenjata antara AS, Israel, dan Iran memanas pada akhir Februari 2026, kapasitas lalu lintas di Selat Hormuz sudah jauh berkurang dari level sebelum perang. Bloomberg Technoz melaporkan bahwa Iran secara efektif telah membatasi pergerakan kapal di selat itu hanya pada sebagian kecil dari volume normal, memicu kekhawatiran pasar jauh sebelum pengumuman blokade resmi.
Pada Sabtu lalu, hanya tiga kapal supertanker yang berhasil melintas di selat tersebut, masing-masing berkapasitas dua juta barel. Padahal sebelumnya lebih dari 100 kapal melewati Selat Hormuz setiap harinya, sehingga penurunan drastis ini mencerminkan gangguan pasokan yang tidak bisa diabaikan oleh pasar global.
Blokade yang diumumkan Presiden Trump mulai berlaku Senin pukul 10.00 waktu New York, berlaku bagi semua kapal dari semua negara tanpa pengecualian. CENTCOM menyatakan blokade ini diterapkan tanpa pandang bulu terhadap kapal yang masuk atau keluar pelabuhan Iran, termasuk di kawasan Teluk Arabia dan Teluk Oman, menurut laporan Kompas.
Pihak Iran merespons melalui Garda Revolusi yang memperingatkan bahwa kapal-kapal militer yang mendekati selat akan dianggap melanggar syarat gencatan senjata. Pernyataan itu memperkeruh situasi dan menambah ketidakpastian bagi pelaku pasar yang sudah nervuos sejak perundingan di Pakistan buntu tanpa kesepakatan apapun.
Analis energi memperkirakan blokade ini berpotensi menahan sekitar dua juta barel minyak Iran per hari dari pasar global, menurut laporan Kompas. Angka itu cukup besar untuk memperketat pasokan global secara signifikan dan memaksa negara-negara pengimpor mencari rute atau sumber pasokan alternatif dalam waktu singkat.
Dampak bagi Investor dan Kewaspadaan Pasar
Gas alam Eropa turut melonjak hingga 18% menyusul pengumuman blokade yang sama, menunjukkan kepanikan yang merata di seluruh pasar energi global. IMF sudah memperingatkan bahwa pemulihan harga global akan membutuhkan waktu yang panjang akibat konflik AS-Iran, dan lonjakan Minggu ini mempertegas kekhawatiran tersebut.
Kenaikan harga minyak di level ini berpotensi menekan biaya produksi dan memicu gelombang inflasi baru di tingkat global, termasuk di Indonesia yang masih bergantung pada impor minyak mentah. Tekanan pada harga bahan bakar dapat berdampak langsung ke sektor transportasi, logistik, penerbangan, dan konsumsi rumah tangga secara luas.
Malaysia bahkan dilaporkan berpotensi mengalami krisis BBM pada Juni 2026 akibat gangguan pasokan akibat blokade ini, menurut laporan Kumparan. Kondisi itu menjadi sinyal kewaspadaan yang nyata bagi seluruh kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia yang secara geografis juga bergantung pada jalur distribusi energi di kawasan yang sama.
Presiden Trump sendiri mengakui bahwa harga minyak dan bensin kemungkinan akan tetap tinggi hingga pemilu sela November mendatang, menurut laporan Kompas. Pernyataan tersebut mengindikasikan bahwa tekanan harga energi bukan sekadar lonjakan sesaat, melainkan kondisi yang bisa bertahan selama berbulan-bulan ke depan.
Saham-saham perusahaan energi besar seperti saham Exxon Mobil dan saham Chevron cenderung diuntungkan dari lonjakan harga minyak dalam jangka pendek karena margin keuntungan mereka terdongkrak langsung oleh kenaikan harga jual. Namun investor perlu mencermati risiko eskalasi konflik yang dapat menciptakan volatilitas lebih lanjut bahkan pada saham-saham sektor energi sekalipun.
Saham ConocoPhillips dan produsen minyak independen lainnya berpotensi mencetak margin lebih tinggi jika harga minyak bertahan di atas USD 100 per barel dalam jangka menengah. Bagi investor yang ingin mengikuti dinamika ini tanpa memilih saham individual, ETF minyak mentah USO dan ETF sektor energi bisa menjadi alternatif yang lebih terdiversifikasi.
Namun perlu diingat bahwa lonjakan harga yang dipicu ketegangan geopolitik biasanya lebih tidak stabil dibanding kenaikan yang didorong oleh permintaan fundamental yang solid. Investor yang mempertimbangkan eksposur ke sektor energi disarankan untuk memahami risiko investasi yang melekat, terutama dalam situasi konflik yang perkembangannya sulit diprediksi dari hari ke hari.
Sumber: Bloomberg Technoz, Kompas, MetroTV, Liputan6, Kumparan












