Gotrade News - Harga minyak dunia melonjak tajam menembus level psikologis USD 100 per barel. Ketegangan di Selat Hormuz memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global terbesar dalam sejarah.
Iran menyita dua kapal kontainer di selat tersebut setelah perpanjangan gencatan senjata. Setidaknya tiga kapal kontainer lainnya dilaporkan terkena tembakan di perairan yang sama.
Key Takeaways:
- Brent crude naik 3,48% ke USD 101,91 per barel, level tertinggi tahun ini
- Iran sita 2 kapal kontainer di Selat Hormuz yang menampung 20% pasokan energi dunia
- Stok bensin AS turun 4,6 juta barel, jauh melampaui ekspektasi penurunan 1,5 juta barel
Lonjakan Harga Minyak
Minyak mentah Brent ditutup naik USD 3,43 atau 3,48% di level USD 101,91 per barel, menurut data Kompas. Sementara WTI menguat USD 3,29 atau 3,67% ke USD 92,96 per barel.
Kenaikan ini terjadi setelah kedua benchmark sudah naik sekitar 3% pada sesi sebelumnya. Selama sesi perdagangan, harga minyak mentah AS sempat melonjak lebih dari USD 4 per barel, menurut IDXChannel.
Data EIA menunjukkan cadangan minyak mentah AS bertambah 1,9 juta barel menjadi 465,7 juta barel. Namun stok bensin justru turun 4,6 juta barel ke 228,4 juta barel, jauh melampaui ekspektasi penurunan 1,5 juta barel.
Stok distilat juga turun 3,4 juta barel menjadi 108,1 juta barel, menurut data Kompas. Penurunan ini melampaui ekspektasi pasar yang memperkirakan penurunan hanya 2,5 juta barel.
Krisis Selat Hormuz
Selat Hormuz menampung sekitar 20% pasokan minyak dan gas global, menjadikannya jalur energi paling krusial. Penyitaan kapal oleh Garda Revolusi Iran menciptakan gangguan pasokan terbesar dalam sejarah, menurut Liputan6.
Mohammad Baqer Qalibaf menyatakan gencatan senjata bermakna membutuhkan komitmen tanpa pelanggaran. Pembukaan kembali selat dinilai sulit selama blokade AS masih berlangsung, menurut Kompas.
Bob McNally dari Rapidan Energy menilai Iran merasa memiliki posisi negosiasi lebih kuat dibanding AS. Pasar meragukan gencatan senjata akan membuka kembali jalur pelayaran di kawasan tersebut, menurut Liputan6.
Saham perusahaan energi besar seperti Exxon Mobil (XOM) berpotensi diuntungkan dari lonjakan harga minyak. Investor juga mencermati pergerakan Chevron (CVX) dan ConocoPhillips (COP) sebagai barometer sektor energi.
Krisis ini menambah tekanan pada ekonomi negara importir minyak, termasuk Indonesia. Harga BBM bersubsidi berpotensi tertekan jika harga minyak bertahan di atas USD 100 per barel.
Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah membuat pelaku pasar mengambil posisi defensif. Volatilitas harga minyak diperkirakan tetap tinggi selama konflik di Selat Hormuz belum mereda.
Sources:
- Kompas Money, Harga Minyak Mentah Dunia Melonjak Tembus USD 100 per Barel, 2026.
- IDX Channel, Harga Minyak Dunia Melonjak di Tengah Ketegangan Selat Hormuz, 2026.
- Liputan6, Iran Sita 2 Kapal Kontainer, Harga Minyak Dunia Melonjak, 2026.












