Gotrade News - Harga minyak Brent tembus USD 126,10 per barel pada Rabu (30/04), level tertinggi sejak awal 2022. Lonjakan ini didorong ketegangan geopolitik AS-Iran dan penutupan jalur Selat Hormuz.
West Texas Intermediate (WTI) ikut menguat ke USD 110,24 per barel pada hari yang sama. Kedua kontrak acuan mencatatkan kenaikan signifikan akibat krisis pasokan global, menurut laporan Liputan6.
Key Takeaways:
- Brent tembus USD 126,10 per barel, tertinggi dalam 4 tahun
- Selat Hormuz hanya beroperasi 4% dari kapasitas normal
- Harga RON 92 di Indonesia diproyeksi naik ke Rp16.550 pada Mei
Selat Hormuz menjadi titik panas utama bagi pasar energi global. Goldman Sachs memperkirakan ekspor minyak melalui jalur ini hanya mencapai 4% dari kapasitas normal, menurut Liputan6.
Militer AS dilaporkan tengah menyiapkan opsi tindakan terhadap Iran. Presiden Trump juga mengeluarkan pernyataan agresif via Truth Social yang menambah ketidakpastian pasar.
Analis Bill Perkins dari Skylar Capital Management menilai pergerakan saat ini mencerminkan disrupsi fisik dan psikologi investor. Ia memprediksi harga minyak berpotensi tembus USD 140 hingga USD 150 per barel jika gangguan berlanjut.
Konsumsi minyak global justru turun sekitar 3,6 juta barel per hari pada April. Goldman Sachs mencatat penurunan ini terjadi di sektor bahan bakar jet dan petrokimia, menurut Liputan6.
Dampak ke Harga BBM Indonesia
Harga bensin RON 92 setara Pertamax diproyeksi melonjak pada Mei mendatang. Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong memperkirakan harga bisa tembus Rp16.550 per liter dari posisi saat ini Rp12.300 per liter.
Proyeksi tersebut mengasumsikan harga minyak mentah bertahan di atas USD 100 per barel. Lukman Leong mencatat harga minyak telah naik sekitar 54% dari level pra-konflik di kisaran USD 65 per barel, menurut Bloomberg Technoz.
Pergerakan harga minyak biasanya menyumbang 60% hingga 70% dari biaya akhir BBM. Sisanya berasal dari komponen logistik dan transportasi yang menambah beban harga jual.
Reaksi Bursa Asia
Bursa saham Asia tertekan signifikan akibat lonjakan harga energi. Nikkei 225 Jepang turun 1,4% sementara Hang Seng Hong Kong terkoreksi 1,5% pada Rabu (30/04), menurut Kabar Bursa.
Indeks Nifty 50 India ikut melemah 1,1% pada sesi pagi. Hanya Straits Times Singapura yang menguat 0,5% di tengah tekanan regional yang merata.
Ketua The Fed Jerome Powell memperingatkan risiko inflasi tetap tinggi akibat kenaikan harga energi. Pernyataan ini menambah kekhawatiran investor terhadap arah suku bunga global.
Lonjakan harga minyak biasanya menggerakkan saham produsen energi AS seperti Exxon Mobil dan Chevron. Investor ritel juga bisa memantau pergerakan ETF berbasis minyak seperti USO sebagai acuan eksposur sektor.
Sumber:












