Gotrade News - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 93,83 poin atau 1,47% ke level 6.487,96 pada penutupan sesi I perdagangan Kamis (20/8). Penguatan ditopang aksi borong investor asing yang membukukan net buy Rp648,22 miliar di seluruh pasar. Aliran dana asing mengalir deras ke saham-saham komoditas tambang, sementara pelemahan dolar AS dan penurunan yield US Treasury turut menjadi pendorong reli.
Key Takeaways
IHSG naik 1,47% ke 6.487,96 pada penutupan sesi I Kamis (20/8).
Net buy asing seluruh pasar mencapai Rp648,22 miliar.
AMMN, BBRI, dan ANTM menjadi saham yang paling banyak diborong asing.
Sektor barang baku memimpin penguatan, didorong pelemahan dolar dan suku bunga BI yang tertahan.
Menurut Katadata, total nilai pembelian investor asing pada sesi I mencapai Rp2,52 triliun, sedangkan nilai penjualannya Rp1,88 triliun, sehingga menyisakan net buy Rp648,22 miliar. Laju penguatan indeks juga tercermin dari kondisi breadth yang positif, dengan 417 saham naik, 187 saham turun, dan 185 saham stagnan.
Aktivitas transaksi berlangsung ramai. Nilai transaksi tercatat Rp7,98 triliun dengan volume 22,46 miliar saham yang berpindah tangan dalam sekitar 1,3 juta kali transaksi. Ramainya nilai transaksi mencerminkan tingginya partisipasi pelaku pasar sepanjang sesi pertama, seiring optimisme yang menyebar ke mayoritas saham.
Investor asing memfokuskan pembelian pada saham-saham berbasis komoditas. Dilansir CNBC Indonesia, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menjadi saham dengan net foreign buy terbesar, disusul PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM). Dominasi saham tambang dan bank besar dalam daftar buruan asing memperkuat sentimen positif di bursa.
Saham
Net Foreign Buy
AMMN
Rp333,40 miliar
BBRI
Rp186,23 miliar
ANTM
Rp114,91 miliar
BRMS
Rp105,51 miliar
BUMI
Rp66,84 miliar
Di luar lima besar, aliran dana asing juga masuk ke PSAB Rp55,11 miliar, DEWA Rp38,38 miliar, MBMA Rp30,74 miliar, MDKA Rp25,39 miliar, dan INCO Rp20,80 miliar. Sebaran ini menegaskan bahwa minat asing terkonsentrasi pada emiten tambang dan sumber daya alam. Konsentrasi pembelian pada segelintir nama bermodal besar kerap menjadi penentu arah indeks, mengingat bobot saham-saham tersebut yang signifikan terhadap kapitalisasi pasar.
Pemicu Reli dari Pelemahan Dolar dan Suku Bunga BI
Penguatan indeks pada sesi I tidak lepas dari faktor eksternal. Melansir Katadata, pelemahan dolar AS dan penurunan yield US Treasury membuat aset pasar berkembang termasuk Indonesia menjadi lebih menarik bagi investor asing. Kondisi ini membuka ruang bagi aliran modal masuk ke bursa domestik.
Dari dalam negeri, keputusan Bank Indonesia menahan suku bunga acuan (BI-Rate) di level 5,75% turut menopang sentimen. Kombinasi stabilitas suku bunga dan kekuatan harga komoditas global menjadi katalis utama yang mengangkat saham-saham tambang. Penguatan pun merata di hampir seluruh sektor: sepuluh dari sebelas indeks sektoral menguat pada sesi I, dengan sektor barang baku sebagai penopang utama, sementara hanya sektor transportasi yang melemah tipis.
Meski demikian, level penutupan tersebut masih merupakan posisi sesi I dan bukan penutupan akhir perdagangan. Investor tetap mencermati kelanjutan arah aliran dana asing serta perkembangan harga komoditas dan pasar global sebagai acuan pergerakan indeks selanjutnya.
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.
Setya Mahardika memimpin editorial untuk konten pasar AS dan berita Gotrade. Dengan pengalaman 4+ tahun di fintech dan industri terkait lainnya, ia memverifikasi setiap artikel terhadap sumber primer, laporan keuangan perusahaan, data bursa, dan rilis resmi sebelum tayang. Fokusnya adalah akurasi dan kejelasan sumber, agar investor Indonesia dapat mempercayai apa yang mereka baca sebelum berinvestasi.
Hendrie Saputra adalah lulusan Master of Business Administration (MBA) dengan konsentrasi Business Risk & Finance, serta memiliki latar belakang profesional di bidang finance, marketing, dan manajemen proyek. Ia memiliki izin Securities Broker-Dealer Representative (WPPE) yang di awasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan terbiasa menganalisis data pasar serta menyusun strategi bisnis berbasis riset.