Gotrade News - IHSG menutup pekan lalu di level 7.458,496, menguat 6,14% dari posisi 7.026,782 sepekan sebelumnya. Rebound tajam ini membawa optimisme memasuki awal pekan 13 April 2026, meski sejumlah risiko global masih membayangi.
Analis dari Mirae Asset Sekuritas menyebut IHSG masih berada dalam fase bullish consolidation secara teknikal. Namun investor perlu cermat membaca sinyal pasar sebelum mengambil posisi lebih agresif di awal pekan ini.
Key Takeaways:
- IHSG ditutup di 7.458,496 setelah naik 6,14% dalam sepekan, dengan resistance terdekat di 7.677.
- Investor asing tercatat net sell Rp 3,31 triliun sepekan (6-10 April), dipimpin pelepasan saham BBRI dan BMRI.
- Rekomendasi analis mencakup MBMA, MEDC, dan PTBA sebagai saham yang layak diperhatikan awal pekan ini.
Teknikal IHSG dan Potensi Penguatan
Berdasarkan data BinaArtha Sekuritas, support IHSG berada di level 7.261, 7.015, dan 6.838. Resistance terdekat ada di 7.677, dengan target lebih jauh di 7.856 dan 8.000 jika momentum berlanjut.
Indikator MACD menunjukkan momentum bullish, meski fase konsolidasi masih berjalan. Ivan Rosanova dari BinaArtha Sekuritas merekomendasikan beberapa saham pilihan untuk awal pekan ini.
MBMA masuk daftar rekomendasi beli di kisaran 660-700 dengan target harga 800, sementara MEDC direkomendasikan beli di 1.400-1.450 dengan target 1.660. Nafan Aji Gusta Utama dari Mirae Asset Sekuritas turut merekomendasikan ADRO dan PTBA dari sektor komoditas sebagai saham yang layak dicermati.
Sektor komoditas dinilai berpotensi diuntungkan oleh ketegangan geopolitik global yang masih berlangsung. Investor yang memahami macro trading dapat memanfaatkan dinamika ini untuk menyusun portofolio yang lebih defensif sekaligus oportunistik.
Tekanan Asing dan Risiko yang Masih Mengintai
Investor asing mencatat net sell sebesar Rp 3,31 triliun selama sepekan (6-10 April 2026), naik 12,58% dari pekan sebelumnya yang sebesar Rp 2,9 triliun. Secara year-to-date, total net sell asing sudah mencapai Rp 37,14 triliun, angka yang mencerminkan kekhawatiran struktural terhadap pasar saham Indonesia.
Saham yang paling banyak dilepas asing adalah BBRI senilai Rp 1,42 triliun dan BMRI senilai Rp 716,1 miliar. ANTM, BUMI, dan CUAN juga masuk dalam daftar saham yang banyak dilepas asing pekan lalu, menurut data yang dilaporkan Katadata.
Di sisi lain, asing justru masuk ke saham-saham konglomerasi seperti AADI, ADRO, UNTR, dan ASII dengan pembelian berkisar Rp 163-207 miliar. Rotasi ini mengisyaratkan bahwa asing tidak sepenuhnya keluar dari pasar Indonesia, melainkan berpindah ke segmen tertentu yang dinilai lebih aman.
Kegagalan perundingan AS-Iran turut menjadi faktor penekan sentimen pasar di awal pekan ini. Reydi Octa, market observer yang dikutip Kompas, menyarankan strategi pembelian bertahap untuk mengelola volatilitas, alih-alih masuk penuh dalam satu waktu.
Maximilianus Nico Demus dari Pilarmas Investindo Sekuritas justru merekomendasikan strategi hit and run untuk trader jangka pendek di tengah kondisi volatil ini. Ini relevan bagi investor yang belum memiliki pemahaman mendalam tentang risiko investasi dan belum menyiapkan strategi hedging yang memadai.
Dinamika geopolitik Timur Tengah juga disebut IDX Channel sebagai faktor yang akan mempengaruhi pergerakan IHSG sepanjang pekan ini. Eskalasi harga minyak akibat ketegangan di kawasan itu bisa memicu tekanan inflasi yang berdampak pada sentimen pasar secara keseluruhan.
Investor yang terpapar pasar AS juga perlu memperhatikan pergerakan ETF S&P 500 dan ETF Nasdaq 100 sebagai barometer sentimen global. Keduanya menjadi acuan penting dalam membaca arah pasar saham Indonesia di tengah ketidakpastian yang masih tinggi.
Pasar juga tengah menanti keputusan MSCI terkait rebalancing indeks, yang berpotensi mempengaruhi aliran dana asing ke saham-saham konglomerat Indonesia. Keputusan ini bisa menjadi katalis positif jika ada inklusi saham Indonesia ke dalam indeks global MSCI.
Data penjualan ritel domestik yang dijadwalkan rilis pekan ini juga menjadi perhatian pelaku pasar. Momentum Ramadan diharapkan mendorong konsumsi dan menjadi penyangga bagi pertumbuhan PDB kuartal pertama 2026.
Sumber:












