IHSG Diproyeksi Rebound, Diuji Inflasi AS Jelang FOMC

Setya MahardikaSetya MahardikaHendrie Saputra
Ditinjau oleh Hendrie Saputra
AI-powered contentSome parts of this article are powered by AI.

Bagikan artikel

IHSG Diproyeksi Rebound, Diuji Inflasi AS Jelang FOMC

Key Takeaways

  • IHSG diproyeksi menguat ke 6.610-6.658 pada Senin (14/9) setelah ditutup di 6.541,38, ditopang rupiah yang menguat ke Rp17.641 per dolar AS.
  • CPI AS Agustus naik 0,4% bulanan dan 3,4% tahunan, mendorong peluang kenaikan Fed Funds Rate ke 86,5% menjelang FOMC 15-16 September.
  • BRI Danareksa melihat peluang technical rebound ke 6.600-6.700 selama 6.475 bertahan, sementara MNC Sekuritas mewaspadai pengujian 6.370-6.451.
  • Keputusan FOMC sekitar pukul 01.00 WIB Kamis (17/9) berpotensi menggerakkan IHSG dan saham AS searah, relevan bagi investor Gotrade yang memegang keduanya.

Gotrade News - IHSG diproyeksi menguat pada pembukaan perdagangan Senin (14/9) di rentang 6.610 hingga 6.658, ditopang penguatan rupiah, setelah ditutup turun 47,96 poin atau 0,73% ke level 6.541,38 pada Jumat (11/9). Melansir Kumparan, koreksi akhir pekan itu dinilai masih wajar karena struktur bullish IHSG belum patah. Namun, data inflasi Amerika Serikat yang lebih panas dari perkiraan menjadi ujian bagi peluang rebound tersebut menjelang rapat FOMC pada 15-16 September.

Menurut rilis resmi U.S. Bureau of Labor Statistics (BLS), indeks harga konsumen (CPI) AS naik 0,4% secara bulanan pada Agustus setelah hanya naik 0,1% pada Juli, sementara inflasi tahunan mencapai 3,4%. Inflasi inti naik 0,3% bulanan dan 2,4% tahunan. Kumparan mencatat angka tersebut berada di atas konsensus pasar dan langsung mengubah ekspektasi arah suku bunga The Fed.

Inflasi AS 3,4% Dorong Peluang Fed Rate Hike ke 86,5%

Dilansir Kumparan, probabilitas kenaikan Fed Funds Rate melonjak ke 86,5% dari sebelumnya 69% setelah rilis CPI, sementara imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun naik ke 4,975% dan tenor 2 tahun ke 4,644%. Tim riset BRI Danareksa Sekuritas, seperti dikutip Katadata, menilai kenaikan 25 bps sudah priced-in sehingga perhatian pasar bergeser ke guidance dan dot plot. Stance yang lebih hawkish berpotensi memberi tekanan pada imbal hasil UST, indeks dolar (DXY), dan aset emerging market termasuk Indonesia.

Baca juga: Akuisisi 30% Saham Bayan (BYAN) oleh Haji Isam, Saham Tembus ARA

Bagi pasar saham AS, imbal hasil obligasi yang lebih tinggi biasanya menjadi beban valuasi, terutama bagi saham teknologi berkapitalisasi besar yang mendominasi NASDAQ 100 ETF (QQQ) dan S&P 500 ETF (SPY). Di sisi lain, yield 10 tahun yang mendekati 5% menekan harga obligasi jangka panjang seperti iShares 20+ Year Treasury Bond ETF (TLT), yang bergerak berlawanan arah dengan imbal hasil. Ekspektasi menjelang rilis CPI ini sebelumnya sudah dibahas dalam Gotrade Daily edisi Jumat.

Rupiah Menguat ke Rp17.641 Jadi Bantalan IHSG

Dari sisi domestik, Kumparan mencatat rupiah menguat 0,21% ke Rp17.641 per dolar AS dan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) stabil, dua faktor yang menopang proyeksi penguatan IHSG. M. Nafan Aji Gusta, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, menyebut bahwa meskipun mengalami koreksi wajar, pergerakan IHSG sebenarnya masih membentuk struktur bullish.

Hammer di Support 6.475 Buka Peluang Technical Rebound

Menurut Katadata, tim riset BRI Danareksa Sekuritas melihat IHSG membentuk pola hammer di area support 6.475-6.375 sekaligus bertahan di sekitar MA20 6.533, yang membuka peluang technical rebound. Danareksa memperkirakan IHSG berpeluang menguji resistance terdekat 6.600 dengan 6.700 sebagai resistance berikutnya, dan selama bertahan di atas 6.475, bias jangka pendek dinilai masih konstruktif.

Baca juga: Gotrade Daily: Reli Chip Diuji Sinyal Hati-Hati

Pandangan lebih hati-hati datang dari MNC Sekuritas. Dilansir IDX Channel, IHSG terkoreksi 1,43% dalam timeframe mingguan, masih didominasi tekanan jual, dan meski ditutup di atas MA20, indeks meninggalkan gap pada rentang 6.552-6.585. Herditya Wicaksana dari MNC Sekuritas, dikutip Liputan6, memperkirakan IHSG berada pada bagian dari wave iv dari wave (c) sehingga masih rawan menguji 6.370-6.451. Pilarmas Investindo Sekuritas memproyeksikan penguatan terbatas di 6.440-6.600 dengan catatan potensi koreksi masih terbuka.

SekuritasSupportResistance
BRI Danareksa Sekuritas6.475 / 6.3756.600 / 6.700
MNC Sekuritas6.448 / 6.3186.633 / 6.705
Pilarmas Investindo Sekuritas6.4406.600







Melansir Liputan6, pada Jumat (11/9) IHSG bergerak di kisaran 6.462,96 hingga 6.552,79, LQ45 turun 0,95% ke 649,71, dan 453 saham melemah berbanding 183 yang menguat. Nilai transaksi mencapai Rp14,7 triliun dengan volume 30,5 miliar saham dan frekuensi 1.936.757 kali.

Rekomendasi Saham UNTR, BBRI, hingga ADMR dari Analis

Untuk perdagangan hari ini, Katadata melaporkan BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan UNTR, TINS, dan IMPC. Nafan Aji dari Mirae Asset memilih BBRI dengan target 3.350, 3.440, dan 3.570, ISAT dengan target 2.520, 2.590, dan 2.980, serta ERAA dengan target Rp605, Rp620, dan Rp655, meski ia mencatat Stochastic KD dan RSI masih memberi sinyal negatif dan volume menurun.

MNC Sekuritas, menurut IDX Channel dan Liputan6, menyarankan Buy on Weakness ADMR di Rp1.540-1.585 dengan target Rp1.710 dan Rp1.765 serta stoploss di bawah Rp1.500, setelah saham tersebut terkoreksi 2,74% ke Rp1.600. MNC juga merekomendasikan Buy on Weakness INET di 296-318 (target 366 dan 400) dan NCKL di 840-910 (target 980 dan 1.060), serta Sell on Strength DSNG di 1.655-1.680, sementara Pilarmas memilih INET, DSNG, dan PTBA. Seluruh rekomendasi ini merupakan pandangan masing-masing sekuritas, bukan saran investasi dari Gotrade.

Arti Pekan FOMC bagi Investor Ritel Indonesia

Bagi investor ritel Indonesia yang juga memegang saham AS secara fractional lewat Gotrade, keputusan FOMC akan diumumkan sekitar pukul 01.00 WIB Kamis (17/9). Dot plot yang lebih hawkish berpotensi menekan IHSG dan saham AS secara bersamaan sekaligus mengangkat imbal hasil Treasury, sehingga portofolio di kedua pasar bisa bergerak searah. Pergerakan rupiah di kisaran Rp17.600 per dolar AS juga menentukan nilai kepemilikan berdenominasi dolar ketika dikonversi ke rupiah.

Sumber

Tambahkan sebagai sumber pilihan di Google

Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.


Setya Mahardika
Ditulis oleh
Setya Mahardika
Setya Mahardika memimpin editorial untuk konten pasar AS dan berita Gotrade. Dengan pengalaman 4+ tahun di fintech dan industri terkait lainnya, ia memverifikasi setiap artikel terhadap sumber primer, laporan keuangan perusahaan, data bursa, dan rilis resmi sebelum tayang. Fokusnya adalah akurasi dan kejelasan sumber, agar investor Indonesia dapat mempercayai apa yang mereka baca sebelum berinvestasi.
Baca lebih lanjut
Hendrie Saputra
Ditinjau oleh
Hendrie Saputra
Expert Reviewer
Hendrie Saputra adalah lulusan Master of Business Administration (MBA) dengan konsentrasi Business Risk & Finance, serta memiliki latar belakang profesional di bidang finance, marketing, dan manajemen proyek. Ia memiliki izin Securities Broker-Dealer Representative (WPPE) yang di awasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan terbiasa menganalisis data pasar serta menyusun strategi bisnis berbasis riset.
Baca lebih lanjut

Artikel terkait

Dipercaya

lebih dari

1M+

Trader di Indonesia 🌏

Keamananmu adalah prioritas kami 🔒

Gotrade terdaftar & diawasi

KominfoOJKSOCFintech Indonesia

Penghargaan atas kinerja dan inovasi terdepan!🏅

 

Benzinga Global Fintech Awards 2024
Five Star Award 2024
Highest Trading Volume in Indonesia, 2024
Highest Combined 2022
Mockup Two Phones

Trading Lebih Cepat. Lebih Mudah. Lebih Cerdas.

#ReadyGoTrade

Gotrade Green Logo Top Left

Welcome Reward hingga $1.888

Buat akun dan trading saham AS di Gotrade

*Syarat dan ketentuan berlaku