Gotrade News - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melompat 1,26% ke level 6.482 pada penutupan sesi I perdagangan, di tengah derasnya aksi beli investor asing pada saham komoditas dan perbankan. Melansir Sindonews, indeks jeda siang di 6.482,57 atau naik 80,68 poin dari penutupan sebelumnya di 6.401,89, setelah dibuka di 6.448,83 dan bergerak dalam rentang 6.448,26 hingga 6.490,65.
Penguatan ini menonjol karena terjadi saat mayoritas bursa Asia justru melemah, menandakan arus modal yang selektif masuk ke pasar Indonesia. Sektor energi menjadi motor penguatan dengan lonjakan 2,68%, menyeret sembilan dari sebelas sektor ke zona hijau.
Net Buy Asing Rp 112,88 Miliar Angkat Indeks
Menurut Katadata, investor asing membukukan net beli bersih Rp 112,88 miliar pada sesi I, hasil dari total pembelian asing Rp 2,22 triliun dikurangi aksi jual Rp 2,11 triliun. Nilai transaksi keseluruhan mencapai Rp 8,17 triliun dengan volume 19,97 miliar saham.
Saham perbankan dan komoditas menjadi sasaran utama pemodal asing. BBCA menempati posisi teratas dengan pembelian bersih Rp 98,37 miliar, disusul saham tambang Aneka Tambang (ANTM) senilai Rp 62,35 miliar dan Bumi Resources Minerals (BRMS) Rp 56,47 miliar. Nama emiten emas Merdeka Gold Resources (EMAS) dan Bumi Resources (BUMI) turut diborong masing-masing Rp 31,27 miliar dan Rp 30,77 miliar, dengan saham BUMI naik 2,76% ke Rp 185.
Derasnya aliran dana asing ke emiten emas dan tambang lokal sejalan dengan kekuatan tema komoditas global. Bagi investor yang ingin melihat cerminan tema ini di pasar AS, saham penambang emas kelas dunia seperti Newmont (NEM), yang juga memiliki operasi di Indonesia, dan Freeport-McMoRan (FCX), operator tambang Grasberg di Papua, kerap menjadi acuan langsung atas pergerakan nama tambang seperti ANTM dan BRMS.
Sektor Energi Pimpin Sembilan Sektor Menguat
Dilansir Sindonews, sektor energi menjadi penopang utama dengan penguatan 2,68%, diikuti sektor infrastruktur yang naik 1,73% dan bahan baku 1,39%. Sektor konsumer primer menguat 1,06%, transportasi 1,00%, industri 0,91%, teknologi 0,51%, dan kesehatan 0,15%. Kepemimpinan sektor energi ini menjadikan emiten migas global seperti Exxon Mobil (XOM) sebagai perbandingan relevan atas tema energi yang sedang menguat.
Data Liputan6 menunjukkan indeks LQ45 turut menguat 0,72% ke 636,86, dengan tercatat 1.329.123 kali transaksi sepanjang sesi. Di jajaran saham unggulan, BBRI stabil di Rp 3.120 dan ASII naik 0,21% ke Rp 4.790, sementara ARCI melesat 5,31% ke Rp 1.290 dan MLPT terkoreksi 4,59% ke Rp 1.350. Hanya dua sektor yang melemah, yakni keuangan (-0,14%) dan properti (-0,62%), di tengah nilai tukar rupiah yang berada di kisaran 17.839 per dolar AS.
Penguatan Kontras di Tengah Pelemahan Bursa Asia
Rally IHSG terlihat kontras dengan pergerakan bursa kawasan yang mayoritas tertekan. Menurut Katadata, indeks Nikkei Jepang anjlok 2,18%, Shanghai Composite turun 0,37%, Hang Seng melemah 0,44%, dan Straits Times Singapura terkoreksi 1,24% pada waktu yang sama.
Dari sisi keluasan pasar, breadth perdagangan mencatat 397 saham menguat, 218 saham melemah, dan 178 saham stagnan. Dominasi saham yang naik ini memperkuat sinyal bahwa penguatan IHSG sesi I bersifat luas, tidak hanya bertumpu pada segelintir emiten berkapitalisasi besar.
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.
Setya Mahardika memimpin editorial untuk konten pasar AS dan berita Gotrade. Dengan pengalaman 4+ tahun di fintech dan industri terkait lainnya, ia memverifikasi setiap artikel terhadap sumber primer, laporan keuangan perusahaan, data bursa, dan rilis resmi sebelum tayang. Fokusnya adalah akurasi dan kejelasan sumber, agar investor Indonesia dapat mempercayai apa yang mereka baca sebelum berinvestasi.
Hendrie Saputra adalah lulusan Master of Business Administration (MBA) dengan konsentrasi Business Risk & Finance, serta memiliki latar belakang profesional di bidang finance, marketing, dan manajemen proyek. Ia memiliki izin Securities Broker-Dealer Representative (WPPE) yang di awasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan terbiasa menganalisis data pasar serta menyusun strategi bisnis berbasis riset.