Izin Tambang Bayan (BYAN) Terganjal, Efek ke Batu Bara AS

Setya MahardikaSetya MahardikaHendrie Saputra
Ditinjau oleh Hendrie Saputra
AI-powered contentSome parts of this article are powered by AI.

Bagikan artikel

Izin Tambang Bayan (BYAN) Terganjal, Efek ke Batu Bara AS

Key Takeaways

  • Tiga anak usaha Bayan (TA, TJ, FSP) menyatakan force majeure imbas RKAB 2026 yang belum disetujui.

  • Bloomberg melaporkan Haji Isam menawar 62% saham BYAN sekitar US$3 miliar, jauh di bawah harga pasar.

  • Pengetatan pasokan batu bara Indonesia menjadi katalis yang perlu dipantau untuk saham batu bara AS.

Gotrade News - Tiga anak usaha PT Bayan Resources Tbk (BYAN) menyatakan force majeure atas kewajiban pasok batu bara pada 11 September 2026, setelah persetujuan perubahan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 mereka tak kunjung terbit. Menurut Katadata, gangguan pasokan dari produsen batu bara termal terbesar Indonesia ini muncul bersamaan dengan manuver akuisisi pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam terhadap perusahaan.

Kombinasi kendala regulasi di Bayan dan kebijakan pemangkasan produksi batu bara nasional berpotensi mengetatkan pasokan batu bara termal dunia, sebuah dinamika yang relevan bagi eksportir batu bara berbasis AS seperti Peabody Energy (BTU) dan Core Natural Resources (CNR). Indonesia memasok sekitar sepertiga konsumsi batu bara termal global, sehingga setiap hambatan ekspornya cenderung merembet ke harga acuan internasional.

Force Majeure Tiga Anak Usaha Bayan

Menurut Katadata, tiga anak usaha Bayan, yakni PT Tiwa Abadi (TA), PT Tanur Jaya (TJ), dan PT Fajar Sakti Prima (FSP), memberi tahu pelanggan soal force majeure karena persetujuan perubahan RKAB 2026 belum terbit meski dokumen telah diajukan sesuai ketentuan. Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM, Tri Winarno, belum merespons permintaan konfirmasi hingga artikel diturunkan.

Baca juga: Akuisisi 30% Saham Bayan (BYAN) oleh Haji Isam, Saham Tembus ARA

Gangguan ini terjadi ketika kinerja operasional Bayan sedang kuat. Sepanjang 2025, produksi batu bara perseroan mencapai 68 juta ton, naik 19,6% dari 56,9 juta ton pada 2024, sementara penjualan menembus 70,8 juta ton atau tumbuh 25,9% dibanding rekor 2024, seperti dilaporkan Katadata.

Kinerja Operasional Bayan 2025

Metrik operasional (2025)

Volume

Perubahan tahunan

Produksi batu bara

68 juta ton

+19,6%

Penjualan

70,8 juta ton

+25,9%

Bongkar muat terminal (BCT & KFT)

55,9 juta ton

+18,9%

Tawaran Rendah Haji Isam untuk 62% Saham BYAN

Dilansir Kontan yang mengutip laporan Bloomberg, entitas yang dikendalikan Haji Isam menawar 62% saham BYAN senilai sekitar US$3 miliar tunai, porsi yang kini dimiliki taipan Low Tuck Kwong dan putrinya, Elaine. Menurut Katadata, nilai tawaran itu setara sekitar Rp52,65 triliun pada kurs Rp17.550 per dolar AS, atau sekitar 80% di bawah harga pasar, dengan skema pembayaran bertahap.

Manajemen Bayan menyatakan belum mengetahui adanya rencana akuisisi oleh Haji Isam, meski mengakui pemegang saham pengendali sewaktu-waktu dapat mempertimbangkan berbagai peluang untuk memaksimalkan investasi mereka, menurut Kontan. PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR), entitas terkait Grup Jhonlin milik Haji Isam, juga menyampaikan kepada Bursa Efek Indonesia bahwa pihaknya belum menerima informasi soal rencana akuisisi tersebut.

Baca juga: Gotrade Daily: Reli Chip Diuji Sinyal Hati-Hati

Pemangkasan Kuota Batu Bara Menekan Pasokan Global

Konteks yang lebih luas adalah kebijakan pemerintah memangkas kuota produksi batu bara untuk mengerek harga komoditas. Menurut Katadata, Grup Jhonlin mengajukan kuota produksi sekitar 60 juta ton per tahun, sementara sejumlah produsen besar seperti PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) disebut terhindar dari pemangkasan.

Melansir ANTARA News, Indonesia berencana menurunkan produksi batu bara pada 2026 untuk menstabilkan harga global. Harga acuan batu bara Indonesia tercatat sekitar US$103,75 per ton pada awal November 2025, turun dari US$114,43 per ton pada November 2024, sedangkan volume pemangkasan disebut Menteri ESDM Bahlil Lahadalia masih dikaji. Karena Indonesia menyumbang sekitar 33% hingga 35% konsumsi batu bara termal dunia, pengetatan pasokannya berpotensi menahan pelemahan harga acuan internasional.

Apa Artinya bagi Saham Batu Bara AS

Pasokan seaborne yang lebih ketat dari Indonesia secara teori dapat menopang harga batu bara termal global, faktor yang relevan bagi produsen AS dengan eksposur pasar ekspor. Peabody Energy (BTU) memiliki lini batu bara termal termasuk penjualan seaborne, sementara Core Natural Resources (CNR), hasil merger CONSOL Energy dan Arch Resources pada Januari 2025, memusatkan portofolionya pada pasar seaborne batu bara termal dan metalurgi. Produsen batu bara metalurgi seperti Alpha Metallurgical Resources (AMR) lebih terkait ke permintaan baja, sehingga eksposurnya terhadap dinamika batu bara termal Indonesia bersifat tidak langsung.

Perlu ditekankan bahwa keterkaitan ini bersifat tidak pasti dan bergantung pada banyak variabel, mulai dari permintaan China, pergerakan kurs, hingga durasi gangguan pasok di Indonesia. Bagi investor yang ingin menakar eksposur ke sektor ini, memahami dasar-dasar berinvestasi di saham AS menjadi langkah awal sebelum menilai sentimen komoditas terhadap masing-masing emiten.

Sumber

Tambahkan sebagai sumber pilihan di Google

Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.


Setya Mahardika
Ditulis oleh
Setya Mahardika
Setya Mahardika memimpin editorial untuk konten pasar AS dan berita Gotrade. Dengan pengalaman 4+ tahun di fintech dan industri terkait lainnya, ia memverifikasi setiap artikel terhadap sumber primer, laporan keuangan perusahaan, data bursa, dan rilis resmi sebelum tayang. Fokusnya adalah akurasi dan kejelasan sumber, agar investor Indonesia dapat mempercayai apa yang mereka baca sebelum berinvestasi.
Baca lebih lanjut
Hendrie Saputra
Ditinjau oleh
Hendrie Saputra
Expert Reviewer
Hendrie Saputra adalah lulusan Master of Business Administration (MBA) dengan konsentrasi Business Risk & Finance, serta memiliki latar belakang profesional di bidang finance, marketing, dan manajemen proyek. Ia memiliki izin Securities Broker-Dealer Representative (WPPE) yang di awasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan terbiasa menganalisis data pasar serta menyusun strategi bisnis berbasis riset.
Baca lebih lanjut

Artikel terkait

Dipercaya

lebih dari

1M+

Trader di Indonesia 🌏

Keamananmu adalah prioritas kami 🔒

Gotrade terdaftar & diawasi

KominfoOJKSOCFintech Indonesia

Penghargaan atas kinerja dan inovasi terdepan!🏅

 

Benzinga Global Fintech Awards 2024
Five Star Award 2024
Highest Trading Volume in Indonesia, 2024
Highest Combined 2022
Mockup Two Phones

Trading Lebih Cepat. Lebih Mudah. Lebih Cerdas.

#ReadyGoTrade

Gotrade Green Logo Top Left

Welcome Reward hingga $1.888

Buat akun dan trading saham AS di Gotrade

*Syarat dan ketentuan berlaku