1. Saham melalui Broker Luar Negeri
Jika kamu memilih skema ini, kamu akan membuka rekening di broker yang menyediakan akses ke bursa luar negeri. Pencatatan dan penyimpanan sahamnya dilakukan melalui broker serta kustodian sesuai aturan pasar yang digunakan.
Sebelum membeli kamu perlu periksa lagi tentang negara tempat broker berizin, bentuk pencatatan kepemilikan, perlindungan investor, kustodian, hak suara, penanganan aksi korporasi serta prosedur jika kamu ingin memindahkan portofolio atau jika broker mengalami masalah.
2. Produk Derivatif dengan Saham Asing sebagai Aset Dasar
Akses ke saham asing di Indonesia juga bisa diberikan melalui produk derivatif keuangan.
Dalam struktur ini, kamu akan memperoleh eksposur terhadap pergerakan saham yang menjadi aset dasar tetapi bentuk produknya tidak selalu sama dengan memiliki saham secara langsung.
Menurut peraturan POJK Nomor 1 Tahun 2025 derivatif dengan aset dasar berupa efek dalam maupun luar negeri termasuk indeks dan saham asing. OJK juga mengumumkan peralihan pengawasan produk PALN dengan aset dasar berupa efek dari Bappebti ke OJK.
Karena itu kamu perlu membaca kembali spesifikasi produknya, pihak penyelenggara, mekanisme pencatatan dan penyelesaian, penggunaan leverage, perlakuan dividen dan aksi korporasi, perlindungan dana serta jalur pengaduannya.
3. ETF dan ADR
ETF memberi kamu eksposur ke sekumpulan aset melalui satu produk. Setiap unitnya mewakili bagian kepemilikan atas portofolio dana tetapi tetap memiliki biaya pengelolaan, komposisi dan juga risikonya tersendiri.
Sedangkan ADR adalah instrumen yang mewakili kepentingan atas saham perusahaan non-AS yang disimpan melalui bank depositori di AS.
ADR memiliki biaya dan risiko tambahan yang berkaitan dengan bank depositori, kurs serta pasar asal perusahaan.
Jadi saat mencari tau jangan hanya berhenti pada ticker dan nama perusahaannya. Pastikan juga kamu memahami instrumen yang sebenarnya dibeli serta hak dan risiko yang melekat di dalamnya.
Kenapa Investor Memilih Pasar Luar Negeri?
Salah satu alasannya adalah akses.
Pasar luar negeri menyediakan pilihan perusahaan dan industri yang mungkin belum banyak tersedia di Indonesia. Misalnya perusahaan semikonduktor, perangkat lunak global, bioteknologi, layanan pembayaran dan produsen peralatan industri.
Alasan lainnya adalah diversifikasi. Dalam riset Bruno H. Solnik berjudul Why Not Diversify Internationally Rather Than Domestically?, penyebaran investasi ke pasar luar negeri bisa membantu mengurangi risiko portofolio karena pergerakan antar negara tidak selalu sama.
Meski begitu diversifikasi global tidak membuat portofolio bebas dari kerugian. Saat krisis besar, beberapa pasar bisa bergerak turun bersamaan.
Perusahaan dari negara berbeda juga bisa menghadapi sumber risiko yang sama. Seperti kenaikan suku bunga, gangguan rantai pasok atau pelemahan dalam industri tertentu.
Karena itu, membeli lima saham teknologi AS belum tentu membuat portofolio kamu benar-benar beragam. Jumlah tickernya memang bertambah tetapi sumber risikonya masih bisa serupa.
Hasil Investasi dalam Rupiah Dipengaruhi Harga dan Kurs
Ketika kamu membeli aset dalam dolar AS, hasil akhirnya dalam bentuk rupiah akan dipengaruhi oleh dua hal, yaitu: perubahan harga aset dan pergerakan kurs USD/IDR.
Misalnya, kamu membeli saham saat US$1 setara Rp16.000. Harga saham kemudian naik 10%, tetapi dolar melemah 8% terhadap rupiah.
Sebelum biaya hasil investasi kamu dalam rupiah hanya naik sekitar 1,2%, bukan 10%. Sebaliknya, jika nilai saham yang tidak berubah dalam dolar bisa meningkat dalam rupiah ketika dolar menguat.
Menurut SEC perubahan kurs bisa menambah atau mengurangi hasil investasi internasional. Karena itu, aset dolar tidak selalu menjadi pelindung ketika rupiah melemah.
Pembelian berkala bisa membagi waktu konversi dan investasi tetapi tidak menghilangkan risiko kurs atau menjamin kamu mendapat rata-rata kurs yang lebih baik.
Hitung Biaya Sebelum dan Setelah Transaksi
Jika kamu menemukan abel “tanpa komisi” bukan berarti investasi kamu benar-benar bebas biaya. Supaya kamu tidak salah hitung, ikuti alur dana sejak rupiah dikonversi, aset dibeli dan disimpan hingga hasil penjualan ditarik kembali.
1. Konversi Mata Uang dan Spread
Saat menukar rupiah menjadi dolar AS, kamu biasanya akan terkena biaya konversi atau selisih antara kurs beli dan jual. Biaya serupa juga bisa muncul lagi ketika dolar dikonversi kembali menjadi rupiah.
Selain itu kamu juga perlu untuk memeriksa bid-ask spread aset yang dibeli. Selisih antara harga beli dan jual ini bisa langsung mempengaruhi posisi meskipun tidak muncul sebagai tagihan terpisah.
Setiap penyedia memiliki struktur biaya yang berbeda. Selain komisi transaksi. Biaya juga bisa muncul dari penggunaan platform, data pasar, deposit, penarikan, pemindahan akun, kustodian atau penanganan aksi korporasi.
Investor.gov mengingatkan bahwa broker bisa mengenakan biaya transaksi dan berbagai biaya terkait akun. Karena ketentuannya bisa berubah kamu bisa menggunakan tabel biaya terbaru dan jangan hanya mengandalkan materi promosi.
3. Biaya dari Produk yang Dibeli
ETF memiliki expense ratio yang dipotong dari aset dana dan bisa mengurangi hasil investasi dari waktu ke waktu. Kamu juga masih bisa menghadapi komisi atau biaya perdagangan ketika membeli dan menjual ETF.
ADR juga bisa memiliki biaya kustodian atau administrasi yang dibebankan oleh bank depositori. Sebelum membeli periksa kembali dokumen produk dan tanyakan kepada broker mengenai biaya yang berlaku.
4. Periksa Ketentuan Fractional Shares
Fractional shares membantu kamu membeli berdasarkan nominal tanpa harus memiliki satu saham penuh. Fitur ini bukanlah biaya tetapi tetap memiliki ketentuan yang perlu dipahami.
Periksa kembali apakah saham pecahan bisa dipindahkan ke broker lain, memperoleh dividen dan hak suara, diperdagangkan pada seluruh sesi atau mendapat perlakuan yang sama saat aksi korporasi.
Sebelum bertransaksi, hitung biaya dari awal sampai akhir. Selisih kecil pada kurs, spread atau biaya platform bisa terasa lebih besar jika transaksi dilakukan berulang kali.
Kamu juga bisa gunakan simulator berikut untuk memperkirakan dana yang masuk ke investasi, perubahan nilai aset dalam dolar, dampak kurs, total biaya, dan hasil akhirnya dalam rupiah.
Pajak Saham Luar Negeri Bergantung pada Jalur Investasinya
Perlakuan pajak investasi luar negeri tidak selalu sama. Hasilnya bisa bergantung pada status wajib pajak, negara sumber penghasilan, jenis instrumen, bentuk kepemilikan serta apakah penghasilan berasal dari dividen atau penjualan aset.
Bagi wajib pajak dalam negeri penghasilan dari luar Indonesia pada dasarnya termasuk dalam cakupan pelaporan pajak.
Direktorat Jenderal Pajak menjelaskan bahwa Indonesia menggunakan asas domisili untuk mengenakan pajak atas penghasilan yang diterima dari dalam maupun luar negeri.
Pajak yang sudah dibayarkan di luar negeri dalam kondisi tertentu bisa diperhitungkan sebagai kredit pajak. Ketentuannya diatur dalam PMK Nomor 192/PMK.03/2018 yang mengatur tentang pengkreditan pajak atas penghasilan dari luar negeri.
Dividen dari luar negeri juga bisa memperoleh pengecualian PPh jika memenuhi syarat investasi di Indonesia dan kewajiban pelaporan yang berlaku.
Karena syaratnya bergantung pada bentuk penghasilan dan kondisi wajib pajak jangan hanya menggunakan satu tarif atau perlakuan sebagai patokan untuk semua transaksi.
Untuk nilai yang material atau struktur investasi yang lebih kompleks konfirmasikan perlakuannya kepada DJP atau konsultan pajak.
Disclaimer: Informasi ini bersifat umum dan bukan nasihat pajak.
Langkah Memulai Investasi Saham Luar Negeri
Investasi saham luar negeri sebaiknya dimulai dengan rencana yang jelas. Jangan memilih saham karena perusahaan tersebut terkenal atau sedang ramai dibicarakan. Perhatikan beberapa hal berikut ini sebagai acuan kamu saat mulai berinvestasi:
1. Tentukan Tujuan Investasi
Tentukan alasan kamu ingin masuk ke pasar saham luar negeri. Apakah bisa untuk mengakses sektor tertentu? mengurangi konsentrasi pada pasar domestik atau karena ingin membangun portofolio yang lebih beragam?
2. Tetapkan Batas Alokasi
Tidak ada persentase khusus yang cocok untuk semua orang, semua ini disesuaikan dengan aset yang sudah kamu miliki, horizon investasi, kebutuhan dana dan juga kemampuan menghadapi penurunan nilai.
3. Pilih Jalur Akses yang Sesuai
Mulailah untuk membandingkan broker asing, produk lokal yang diatur, ETF atau instrumen lainnya. Periksa kembali struktur kepemilikan, perlindungan investor, biaya, pajak dan hak yang kamu peroleh dari setiap produk.
4. Pelajari Aset yang Akan Dibeli
Perusahaan global tetap harus dianalisis seperti saham lainnya. Cari tahu lagi tentang model bisnis, kondisi keuangan, valuasi, sumber pertumbuhan dan juga risiko yang bisa mempengaruhi kinerjanya.
5. Hitung Kurs dan Seluruh Biaya
Jangan hanya melihat harga saham. Perhitungkan kembali spread mata uang, biaya transaksi, biaya produk, pajak serta biaya penarikan agar hasil akhirnya tidak berbeda jauh dari perkiraan kamu.
6. Mulai dengan Nominal yang Bisa Kamu Kelola
Memulai dengan nominal kecil bukan berarti menghilangkan risiko. Namun, cara ini memberi kamu ruang untuk memahami proses deposit, jenis order, aksi korporasi, pembagian dividen dan cara kerja platform.
7. Simpan Catatan Transaksi
Catat tanggal transaksi, harga beli, kurs, biaya, dividen, potongan dan nilai penjualan yang kamu lakukan. Catatan ini akan membantu kamu mengevaluasi hasil investasi sekaligus menyiapkan data untuk kebutuhan pelaporan pajak nanti.
Kesimpulan
Investasi saham luar negeri bisa memberikan akses ke perusahaan, industri dan pasar yang tidak tersedia di Indonesia. Tetapi, prosesnya bukan hanya memilih ticker global.
Kamu perlu memahami apakah produk yang dibeli berupa efek langsung, derivatif dengan underlying saham asing, ETF atau ADR.
Setelah itu kamu perlu memeriksa kembali tentang regulator, biaya, hak investor, kurs, pajak serta cara order dieksekusi.
Diversifikasi lintas negara mampu membantu mengurangi konsentrasi, tetapi tidak menjamin portofolio terhindar dari kerugian. Harga saham, nilai tukar dan kondisi global tetap bisa bergerak secara berlawanan dengan perkiraan kamu.
Melalui Gotrade, kamu bisa memantau saham AS dan mempelajari detail produk sebelum menyusun rencana investasi. Sesuaikan aset dan ukuran posisi dengan tujuan serta profil risikomu.
Disclaimer: Kinerja di masa lalu tidak menjamin hasil di masa depan. Selalu lakukan riset dan pahami risikonya sebelum kamu mengambil keputusan.