AI-powered contentSome parts of this article are powered by AI.
Bagikan artikel
Gotrade News - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 1,09% ke level 6.667 pada perdagangan Kamis (3/9), dan sejumlah sekuritas memproyeksikan indeks berpeluang melanjutkan penguatan ke area 6.681 hingga 6.714 pada Jumat (4/9). Penguatan ini berbarengan dengan kembalinya aliran dana investor asing ke pasar saham domestik.
Investor asing tercatat membukukan pembelian bersih atau net buy sekitar Rp1,11 triliun di pasar reguler, memberi sinyal pemulihan minat terhadap aset domestik. Arus masuk ini muncul saat rupiah menguat dan bursa Asia bergerak mengekor kenaikan Wall Street, sehingga sentimen risiko global turut menopang pasar Indonesia.
Key Takeaways
Net buy asing sekitar Rp1,11 triliun di pasar reguler menandai kembalinya minat investor asing ke pasar saham.
IHSG diproyeksikan menguji area 6.681 hingga 6.714, dengan support di 6.561 dan resistance di 6.705.
Penguatan rupiah dan sinyal kurang hawkish dari pejabat The Fed menjadi penopang utama sentimen pasar.
Dana Asing Kembali Masuk Setelah Net Sell Sepanjang 2026
Menurut ulasan pasar yang dilansir kumparan, arus masuk dana asing terbaru menjadi kabar positif setelah sepanjang tahun berjalan investor asing masih membukukan penjualan bersih hingga sekitar Rp96,90 triliun. Pada periode yang sama IHSG tercatat masih terkoreksi 22,89% secara year-to-date, sehingga kembalinya arus masuk asing dinilai sebagai titik balik yang masih perlu dikonfirmasi kelanjutannya.
Penguatan rupiah sebesar 0,47% ke kisaran Rp17.679 per dolar AS turut memperbaiki daya tarik aset berdenominasi rupiah, seperti dilaporkan kumparan. Di sisi global, sejumlah pejabat Federal Reserve menyampaikan nada yang cenderung kurang hawkish terkait arah suku bunga, yang menopang selera risiko di pasar negara berkembang.
Bursa Asia Mengekor Wall Street, Saham Teknologi Jadi Motor
Bursa Asia diperkirakan menguat mengikuti penutupan positif Wall Street, menurut laporan Bloomberg Technoz. Sentimen di pasar saham AS turut ditopang kinerja sektor teknologi, termasuk saham Nvidia (NVDA) dan lonjakan Snowflake (SNOW) yang menurut ulasan kumparan naik sekitar 21%.
Rekomendasi Saham dan Level Kunci IHSG
Dari sisi teknikal, analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia M. Nafan Aji Gusta menilai IHSG berpeluang menguji area 6.681 hingga 6.714, dengan support di 6.561 dan 6.476 serta resistance di 6.705 dan 6.755, seperti dilansir kumparan. Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana merekomendasikan strategi buy on weakness untuk sejumlah saham menjelang akhir pekan, menurut ulasan katadata.
Sementara itu, Phintraco Sekuritas menyoroti sejumlah saham lain untuk dicermati pelaku pasar, antara lain JPFA, PANI, CPIN, ANTM, dan ARCI, menurut katadata. Pelaku pasar juga akan mencermati pertemuan OPEC+ pada 6 September yang membahas tingkat produksi minyak, yang berpotensi memengaruhi pergerakan harga komoditas.
Meski arus masuk asing dan proyeksi penguatan memberi sentimen positif jangka pendek, analis mengingatkan pentingnya konfirmasi kelanjutan tren di tengah volatilitas global. Faktor seperti arah suku bunga The Fed, pergerakan rupiah, dan harga minyak akan menjadi penentu arah IHSG pada perdagangan berikutnya.
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.
Setya Mahardika memimpin editorial untuk konten pasar AS dan berita Gotrade. Dengan pengalaman 4+ tahun di fintech dan industri terkait lainnya, ia memverifikasi setiap artikel terhadap sumber primer, laporan keuangan perusahaan, data bursa, dan rilis resmi sebelum tayang. Fokusnya adalah akurasi dan kejelasan sumber, agar investor Indonesia dapat mempercayai apa yang mereka baca sebelum berinvestasi.
Hendrie Saputra adalah lulusan Master of Business Administration (MBA) dengan konsentrasi Business Risk & Finance, serta memiliki latar belakang profesional di bidang finance, marketing, dan manajemen proyek. Ia memiliki izin Securities Broker-Dealer Representative (WPPE) yang di awasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan terbiasa menganalisis data pasar serta menyusun strategi bisnis berbasis riset.