Gotrade News - SK Hynix mencatat laba kuartalan rekor namun meleset dari perkiraan analis, menekan sahamnya tajam pada Rabu (29/7/2026). Laba yang meleset itu memicu aksi jual sektor semikonduktor Asia yang menyeret indeks KOSPI Korea Selatan anjlok 12,3%.
Investor membaca kegagalan memenuhi ekspektasi ini sebagai tanda bahwa permintaan memori AI yang sedang booming pun belum tentu terus melampaui ekspektasi yang sudah sangat tinggi. Bagi investor saham chip AS, aksi jual ini menekan peer memori seperti Micron dan SanDisk serta menyeret Nvidia.
Key Takeaways
Laba operasional SK Hynix melonjak 557% secara tahunan ke rekor 60,54 triliun won, tetapi tetap di bawah konsensus sekitar 64 triliun won.
Sahamnya turun 8,98% pada sesi reguler dan sempat terjun hingga 20% intraday saat aksi jual meluas.
KOSPI anjlok 12,3% ke 5.283,12, dengan perdagangan dihentikan circuit breaker untuk sesi kedua berturut-turut.
Saham memori tercatat di AS ikut tertekan: Micron turun 8,85% dan SanDisk 14,25%, sementara Nvidia juga melemah.
Kuartal Rekor yang Tetap Mengecewakan Pasar
SK Hynix membukukan kuartal terbaik sepanjang sejarahnya, namun tetap gagal memuaskan pasar. Melansir Investing.com, pendapatan mencapai rekor 79,32 triliun won, naik 257% secara tahunan dan 51% dari kuartal sebelumnya, sementara laba operasional melonjak 557% ke 60,54 triliun won dengan margin operasional 76%. Persoalannya ada pada ekspektasi: menurut Investing.com, angka tersebut masih di bawah konsensus analis yang memperkirakan sekitar 64 triliun won laba operasional dan 84 triliun won pendapatan. Perusahaan menyebut telah mulai mengirim memori generasi berikutnya HBM4 pada kuartal ini dan berencana menaikkan belanja modal 2026 ke kisaran atas 40 triliun won, naik dari 30,2 triliun won pada 2025, sinyal bahwa pembangunan kapasitas memori AI belum usai meski investor mencemaskan lajunya.
Ada tiga tekanan yang menumpuk di atas laba yang meleset. Pertama, kelelahan atas belanja AI: investor makin mempertanyakan apakah laju belanja pusat data yang begitu cepat dapat dipertahankan. Melansir Investing.com, Lee Min-hee dari BNK Investment & Securities menyoroti "kekhawatiran bahwa perusahaan teknologi akan mengerem belanja infrastruktur." Kedua, laporan bahwa Nvidia (NVDA) bisa memberikan dukungan finansial sekitar $250 miliar untuk proyek pusat data OpenAI, yang menghidupkan lagi kekhawatiran atas circular financing, saat produsen chip membantu mendanai pelanggan yang kemudian membeli chip darinya.
SK perlu menyusun kebijakan pengembalian ke pemegang saham yang konkret untuk membalikkan sentimen investor. (Greg Roh, Hyundai Motor Securities)
Tekanan ketiga datang dari China. Menurut Investing.com, debut pasar yang kuat dari produsen memori China ChangXin Memory Technologies (CXMT), ditambah kemajuan alat manufaktur chip domestik China, menghidupkan kembali kekhawatiran kelebihan pasokan di segmen memori yang justru didominasi SK Hynix dan Samsung. Bursa Korea dua kali mengaktifkan circuit breaker saat KOSPI turun melewati 8%, menghentikan perdagangan selama 20 menit untuk sesi kedua berturut-turut.
Apa Artinya bagi Saham Chip AS yang Bisa Diakses
Samsung dan SK Hynix bukan saham yang tersedia untuk diperdagangkan secara fraksional di Gotrade, sehingga read-through paling jernih justru melalui peer mereka yang tercatat di AS. Di segmen memori, Micron Technology (MU) merupakan pembanding tercatat terdekat SK Hynix dan turun 8,85%, bergerak dalam tema permintaan HBM versus risiko oversupply yang sama, sementara nama penyimpanan SanDisk anjlok 14,25%. Nvidia berada di pusat cerita, baik sebagai pelanggan HBM terbesar maupun sumber katalis pendanaan $250 miliar. Di sisi manufaktur, Taiwan Semiconductor (TSM), foundry terbesar dunia, tetap menjadi barometer sentimen atas siklus produksi chip global.
Bagi investor, episode ini adalah pengingat bahwa semikonduktor bergerak sebagai satu ekosistem yang saling terkait, dari pemasok memori Asia hingga perancang chip dan foundry di AS. Keraguan atas keberlanjutan belanja AI di Seoul menjalar ke seluruh rantai. Memahami keterkaitan itu membantu menempatkan koreksi tajam satu hari dalam konteksnya, tanpa menjadikan aksi jual satu sesi sebagai penentu akhir arah sektor.
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.
Kholida Qothrunnada adalah konten strategis dan editor lulusan Ilmu Komunikasi dengan konsentrasi Multimedia Jurnalistik. Memiliki pengalaman lebih dari 4 tahun bekerja di media nasional sebagai penulis dan reporter di bidang ekonomi dan bisnis, termasuk menulis konten seputar fintech.