Poin utama dari kemenangan Meta terletak pada definisi pasar dan kompetisi yang terjadi saat ini. Hakim James Boasberg menilai bahwa FTC gagal membuktikan bahwa Meta memiliki kekuatan monopoli di pasar media sosial yang relevan saat ini.
Menurut laporan dari AP News, Hakim Boasberg menulis dalam putusannya bahwa terlepas dari apakah Meta memiliki kekuatan monopoli di masa lalu, agensi tersebut harus menunjukkan bahwa perusahaan masih memegang kekuatan itu sekarang. Putusan pengadilan menentukan bahwa FTC belum melakukannya.
Hakim menyoroti bahwa lanskap media sosial sangat dinamis dan berubah dengan cepat. Salah satu faktor terbesar yang mengubah peta persaingan adalah kehadiran TikTok.
Seperti yang dilaporkan oleh Business Insider, Hakim Boasberg mencatat bahwa opini pengadilan sebelumnya bahkan tidak menyebut kata TikTok, padahal hari ini aplikasi tersebut memegang panggung utama sebagai saingan terberat Meta.
Argumen FTC yang mendefinisikan pasar Meta sebagai "layanan jejaring sosial pribadi" dianggap terlalu sempit karena mengecualikan platform seperti TikTok dan YouTube.
Business Insider juga menyoroti sebuah tes nyata yang terjadi saat Meta mengalami gangguan layanan atau outage pada tahun 2021. Kejadian tersebut membuktikan bahwa pengguna dengan mudah berpindah ke TikTok, Instagram, Facebook, dan YouTube, yang meruntuhkan argumen bahwa Meta menguasai pasar sendirian.
Strategi "Beli atau Kubur" Tidak Terbukti Melanggar Hukum Saat Ini
Inti dari gugatan FTC sebenarnya menyerang strategi masa lalu Mark Zuckerberg. Agensi tersebut berargumen bahwa Meta menjalankan taktik "beli atau kubur" untuk mempertahankan dominasi pasar. FTC mengutip email lama Zuckerberg dari tahun 2008 yang menyatakan bahwa lebih baik membeli daripada bersaing.
Namun, pengadilan melihat konteks yang berbeda. Pembelian Instagram senilai 1 miliar dolar AS dan WhatsApp senilai 22 miliar dolar AS telah disetujui oleh regulator pada saat transaksi terjadi lebih dari satu dekade lalu.
AP News menjelaskan bahwa jaksa hanya bisa menang jika mereka membuktikan adanya pelanggaran hukum yang terjadi saat ini atau yang akan segera terjadi, bukan sekadar meninjau ulang akuisisi masa lalu.
Pihak Meta Platforms, Inc. menyambut baik keputusan ini. Juru bicara Meta menyampaikan kepada Business Insider bahwa keputusan pengadilan mengakui Meta menghadapi persaingan yang ketat dan produk mereka bermanfaat bagi orang-orang serta bisnis.
Meskipun ini adalah kemenangan hukum yang masif, reaksi pasar saham terlihat cukup tenang. Menurut data yang dikutip dari AP News, saham perusahaan yang berbasis di Menlo Park ini turun 1,52 dolar AS menjadi 600,49 dolar AS pada perdagangan Selasa sore, sejalan dengan tren pasar yang lebih luas.
Hal ini menunjukkan bahwa investor mungkin sudah mengantisipasi hasil ini atau tidak terkejut dengan putusan tersebut.
Namun, kemenangan ini bukan berarti jalan Meta ke depan akan mulus tanpa hambatan. Minda Smiley, seorang analis dari Emarketer yang dikutip oleh AP News, mengingatkan bahwa dari sudut pandang regulasi, Meta masih jauh dari kata aman.
Tahun depan, jejaring sosial besar akan menghadapi pengadilan penting di AS terkait kesehatan mental anak-anak.
Bagi kamu sebagai investor atau pengguna, poin kuncinya adalah stabilitas operasional Meta terjaga untuk saat ini. "Kerajaan" media sosial ini tetap utuh, dan integrasi antara Facebook, Instagram, serta WhatsApp kemungkinan akan terus berlanjut tanpa ancaman pemecahan paksa dari pemerintah.
Referensi:
Disclaimer
PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.