Gotrade News - Minat investasi emas di Indonesia memasuki fase akselerasi di tengah ketidakpastian geopolitik global. Kondisi ini tercermin dari lonjakan 756% pada pembiayaan Flexi Gold Bank Mega Syariah.
Survei Populix Januari 2026 menempatkan emas sebagai instrumen investasi paling dipercaya dengan tingkat 80%. Angka itu jauh melampaui kas 7%, properti 6%, saham 3%, obligasi 2%, serta kripto dan forex di 1%.
Key Takeaways:
- Pembiayaan Flexi Gold Bank Mega Syariah melonjak 756% per Maret 2026 vs Desember 2025
- Populix mencatat tingkat kepercayaan terhadap emas mencapai 80%, kas hanya 7%
- Harga emas dunia di level USD 4.670 per ons, Antam 1 gram Rp 2,8 juta
Bank Mega Syariah meluncurkan Flexi Gold sebagai produk pembiayaan syariah dengan tenor 1 hingga 5 tahun. Produk ini menawarkan emas 24 karat dalam denominasi 5 sampai 100 gram per transaksi.
Sebaran pembiayaan didominasi Jakarta dengan kontribusi 41,79% dari total nilai booking nasional. Tangerang berada di posisi kedua dengan 14,08%, diikuti Palembang sebesar 7,15%.
Benadicto Alvonzo Ferary, Digital Business & Product Management Division Head Bank Mega Syariah, menilai profil investasi emas telah bergeser signifikan. Emas kini menjadi inti strategi jangka panjang pembeli, bukan sekadar pelengkap.
Dari sisi pasar, harga emas dunia bertahan di bawah USD 4.700 per ons pada Jumat (24/04). Level penutupan mencapai USD 4.670 per ons, melemah 0,60% imbas penguatan dolar AS dan kenaikan harga minyak.
Harga emas Antam 1 gram dibanderol Rp 2.805.000, sedangkan 10 gram tersedia di Rp 27.600.000. Pegadaian menjajakan emas Antam 1 gram di Rp 2.918.000 dan UBS 1 gram di Rp 2.859.000.
Tensi Amerika Serikat dan Iran di sekitar Selat Hormuz menjadi pemicu utama volatilitas harga energi. Kondisi itu menjaga aliran dana ke emas tetap kuat sebagai lindung nilai jangka menengah.
Investor yang mencari eksposur emas di luar bentuk fisik dapat menilik ETF pertambangan emas seperti VanEck Gold Miners ETF (GDX). Instrumen ini menawarkan eksposur terhadap produsen emas global dengan likuiditas pasar saham.
Selain GDX, investor global juga memanfaatkan SPDR Gold Shares (GLD) untuk eksposur emas fisik terkelola. Kedua ETF memberi alternatif diversifikasi tanpa harus menyimpan emas batangan secara langsung.
Survei Jakpat menunjukkan 66% responden memilih logam mulia sebagai salah satu instrumen investasi utama. Kombinasi momentum ini membuka ruang bagi produk hybrid seperti ETF emas untuk memperluas pasar ritel.












