Minyak Naik Lagi Setelah Serangan AS di Sekitar Hormuz

Rendy Andriyanto
Rendy Andriyanto
Gotrade Team
Ditinjau oleh Analis Internal Gotrade
Minyak Naik Lagi Setelah Serangan AS di Sekitar Hormuz

Share this article

Gotrade News - Harga minyak naik pada Senin (25/5) setelah pasukan AS melancarkan serangan baru di sekitar Selat Hormuz, Iran selatan. Brent futures menguat 1,65% ke 97,32 dolar AS per barel, sementara WTI terangkat 1,36% di awal sesi Asia.

Kenaikan terjadi meski optimisme kesepakatan damai AS-Iran sebelumnya menekan harga minyak hingga 7% pada sesi Senin. Pasar bereaksi campuran karena risiko geopolitik di jalur pelayaran minyak global belum sepenuhnya hilang.

Key Takeaways

  • Brent rebound 1,65% ke 97,32 dolar AS per barel setelah serangan AS di Iran selatan
  • Futures saham AS tetap menguat dengan S&P 500 naik 0,68% dan Nasdaq 0,9%
  • Emas spot turun 0,5% ke 4.545,90 dolar AS karena optimisme damai meredakan kekhawatiran inflasi

Menurut Investing.com, pasukan AS menargetkan kapal yang diduga memasang ranjau dan situs peluncuran rudal. Pentagon menggambarkan operasi tersebut sebagai tindakan defensif untuk melindungi pelayaran komersial.

Serangan itu menahan reli risk-on yang sebelumnya didorong laporan kesepakatan kerangka damai antara Washington dan Teheran. Selat Hormuz mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak mentah dunia setiap harinya.

Reaksi Pasar Minyak terhadap Risiko Hormuz

Brent sempat anjlok lebih dari 7% pada Senin menyentuh kisaran 96 dolar AS per barel di tengah ekspektasi normalisasi pasokan. WTI juga jatuh 6% di sesi perdagangan Asia sebelum sebagian terkoreksi naik kembali.

Joseph Capurso, ahli strategi Commonwealth Bank of Australia, menyatakan skeptisisme terhadap kemajuan negosiasi. Ia mengatakan pasar terus mendengar ada kesepakatan yang dekat, tetapi bentuknya masih belum jelas bagi pelaku pasar.

Volatilitas dua arah ini menyulitkan posisi taktis pada saham energi seperti Exxon Mobil (XOM). Investor yang mencari eksposur tematik biasanya melihat United States Oil Fund (USO) sebagai pelacak harga WTI.

Dilansir Investing.com, futures saham AS tetap naik berkat penurunan tekanan inflasi dari minyak. S&P 500 futures menguat 0,6% ke 7.538 poin dan Nasdaq 100 futures naik 0,9% ke 29.808 poin.

Permintaan Safe-Haven Menguat

Optimisme kesepakatan damai Iran sedikit menggerus permintaan emas sebagai aset lindung nilai. Spot gold turun 0,5% ke 4.545,90 dolar AS per ons setelah sebelumnya menguat di tengah ketidakpastian Timur Tengah.

Meski demikian, level harga emas tetap dekat rekor sehingga eksposur ke penambang emas masih relevan. Investor sering melihat VanEck Gold Miners ETF (GDX) untuk leverage terhadap pergerakan logam mulia.

Pelaku pasar kini menunggu data inflasi PCE AS pada Kamis pekan ini sebagai sinyal kebijakan The Fed. Angka inflasi yang lebih rendah akan memperkuat kasus pelonggaran suku bunga lebih lanjut.

Indeks dolar AS bergerak tipis di tengah pertarungan narasi antara risiko geopolitik dan ekspektasi pemangkasan suku bunga. Dolar yang lebih lemah biasanya menjadi pendukung tambahan untuk komoditas berdenominasi dolar.

Bagi investor jangka menengah, kombinasi risiko Hormuz dan negosiasi damai menciptakan rentang perdagangan minyak yang lebar. Strategi barbel dengan eksposur energi dan emas dapat membantu mengelola kedua sisi skenario tersebut.

Sumber


Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.


Artikel terkait

Dipercaya

lebih dari

1M+

Trader di Indonesia 🌏

Keamananmu adalah prioritas kami 🔒

Gotrade terdaftar & diawasi

KominfoOJKSOCFintech Indonesia

Penghargaan atas kinerja dan inovasi terdepan!🏅

 

Benzinga Global Fintech Awards 2024
Five Star Award 2024
Highest Trading Volume in Indonesia, 2024
Highest Combined 2022
Mockup Two Phones

Trading Lebih Cepat. Lebih Mudah. Lebih Cerdas.

#ReadyGoTrade

Gotrade Green Logo Top Left
AppLogo

Gotrade