Gotrade News - Nvidia menyebut proyeksi pasar CPU kecerdasan buatan senilai USD200 miliar mencakup China sebagai bagian dari peluang baru. CEO Jensen Huang menegaskan pernyataan tersebut saat berbicara di Taipei pada Jumat, 23 Mei 2026.
Pernyataan ini memperkuat strategi Nvidia (NVDA) menembus pasar China meski hambatan regulasi masih membayangi pengiriman chip. Sentimen positif menyebar ke seluruh rantai pasok semikonduktor global, termasuk mitra utama di Taiwan.
Key Takeaways
- Huang menyatakan proyeksi pasar CPU AI USD200 miliar Nvidia turut memperhitungkan kontribusi dari pasar China.
- Chip H200 telah memperoleh lisensi ekspor AS namun masih menunggu persetujuan pemerintah China untuk pengiriman komersial.
- Nvidia mempercepat arsitektur Vera Rubin yang menggabungkan CPU Vera dengan GPU Rubin untuk siklus produk berikutnya.
Strategi Vera Rubin
Menurut Investing.com, Huang menjawab "I would think so" ketika ditanya apakah proyeksi USD200 miliar mencakup China. Arsitektur Vera Rubin menggabungkan CPU Vera baru dengan GPU Rubin untuk memperluas pasar di luar segmen GPU tradisional.
Permintaan agentic AI atau sistem otonom turut memperluas kebutuhan semikonduktor lintas kategori produk. Hal ini membuka peluang baru bagi pemasok komponen seperti Taiwan Semiconductor (TSM) yang menjadi mitra produksi utama Nvidia.
Dilansir Kabar Bursa, Nvidia menggambarkan paruh kedua 2026 sebagai periode menuntut bagi rantai pasok Taiwan. Huang dijadwalkan bertemu manajemen TSMC untuk membahas dukungan produksi tahap berikutnya.
Roadmap baru ini memberikan basis pertumbuhan jangka panjang bagi Nvidia menghadapi persaingan dari pesaing seperti chip Instinct buatan AMD. Investor menilai diversifikasi produk Nvidia memperkuat posisi dominan perusahaan di pasar akselerator AI.
Hambatan Pasar China
Melansir Investing.com, Huang menyebut chip H200 telah memperoleh izin ekspor untuk dikirim ke China. Namun pengiriman komersial masih menunggu persetujuan resmi dari pemerintah China meski izin AS sudah tersedia.
Huang menegaskan pasar China sangat penting bagi Nvidia untuk mempertahankan skala bisnis akselerator AI global. Sekitar 10 perusahaan China telah mendapat izin pembelian namun belum ada pengiriman aktual hingga laporan ini disusun.
Kunjungan Presiden Trump ke Beijing baru-baru ini belum menghasilkan terobosan kebijakan terkait ekspor semikonduktor canggih ke China. Ketidakpastian regulasi menjadi risiko utama bagi proyeksi pendapatan Nvidia dari pasar Tiongkok pada periode 2026.
Saham NVDA tercatat diperdagangkan pada level USD215,33 atau turun 1,90 persen ketika laporan tersebut dipublikasikan. Volatilitas mencerminkan pertarungan antara optimisme produk baru dan risiko geopolitik yang masih berlanjut.
Investor yang melacak tema semikonduktor luas dapat memanfaatkan instrumen seperti VanEck Semiconductor ETF (SMH) untuk eksposur diversifikasi sektor. ETF tersebut memuat Nvidia, TSMC, dan emiten kunci lain dalam rantai pasok chip global.
Keberhasilan Nvidia membuka pasar China secara penuh berpotensi menambah pendapatan tahunan dalam skala miliaran dolar AS. Sebaliknya, hambatan persetujuan dapat menahan momentum pertumbuhan meski permintaan struktural AI tetap kuat.












