Gotrade News - Saham Oracle melonjak 12,69% ke level $155,62 pada Senin (13/04), merespons pengumuman kemitraan besar dengan Bloom Energy. Kemitraan ini mencakup pembelian daya untuk kebutuhan AI data center skala besar milik Oracle.
Menurut laporan TechBuzz.ai, Oracle mengajukan warrant senilai $400 juta untuk pembelian saham Bloom Energy. Warrant tersebut didaftarkan secara resmi melalui pengajuan regulasi pada Senin (13/04).
Key Takeaways:
- Oracle berencana mengadopsi hingga 2,8 gigawatt kapasitas fuel cell dari Bloom Energy untuk AI data center.
- Warrant senilai $400 juta mencerminkan komitmen jangka panjang Oracle terhadap pasokan energi mandiri.
- Saham Bloom Energy melonjak 5,98% di sesi reguler dan naik 15,4% di after-hours ke $203,90.
Berdasarkan data Benzinga, Oracle berencana mengadopsi hingga 2,8 gigawatt kapasitas sistem fuel cell dari Bloom Energy. Sebelumnya, kontrak awal sebesar 1,2 gigawatt sudah berjalan dengan deployment yang berlanjut hingga tahun depan.
Bloom Energy memproduksi solid oxide fuel cells yang dapat beroperasi menggunakan gas alam maupun hidrogen. Teknologi ini menawarkan fleksibilitas pasokan daya tanpa ketergantungan penuh pada jaringan listrik konvensional.
Menurut TechBuzz.ai, salah satu keunggulan utama solusi ini adalah mengeliminasi antrean panjang peningkatan jaringan utilitas. Proses tersebut biasanya membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum kapasitas daya baru tersedia.
Saham Bloom Energy naik 5,98% ke $176,67 di sesi reguler pada Senin (13/04) menurut Benzinga. Di sesi after-hours, saham tersebut kembali melanjutkan kenaikan sebesar 15,4% hingga ke $203,90.
TechBuzz.ai melaporkan bahwa kesepakatan ini disebut sebagai salah satu deployment fuel cell komersial terbesar di industri data center. Hal ini memperkuat posisi Oracle dalam persaingan penyediaan infrastruktur AI global.
Pada hari yang sama, indeks S&P 500 naik 1,02% ke 6.886,24 dan Nasdaq menguat 1,23% ke 23.183,74 menurut Benzinga. Kenaikan Oracle jauh melampaui performa pasar secara keseluruhan.
Konteks AI dan Krisis Energi
Menurut TechBuzz.ai, hambatan utama dalam infrastruktur AI bukan lagi chip atau algoritma, melainkan ketersediaan pasokan daya. Kebutuhan daya untuk workload AI yang terus meningkat memberi tekanan besar pada jaringan listrik konvensional.
Perusahaan teknologi besar seperti Microsoft dan Google juga tengah mengeksplorasi sumber energi alternatif, termasuk reaktor nuklir modular kecil dan kontrak energi terbarukan. Oracle memilih jalur fuel cell sebagai strategi diferensiasi dalam membangun ekosistem AI-nya.
Dampak bagi Investor
Pada Senin (13/04) menurut Fool.com, analis menyebut AI sebagai "peluang lebih besar daripada ancaman" bagi model bisnis Oracle. Sentimen ini turut mendorong pembelian agresif saham ORCL yang sebelumnya terkoreksi hingga 55% dari puncak 52 minggu.
Kemitraan Oracle-Bloom Energy menunjukkan tren vertikal di mana perusahaan teknologi mulai mengendalikan rantai pasokan energinya sendiri. Tren ini berpotensi menjadi faktor diferensiasi kompetitif yang signifikan di antara penyedia cloud dan AI besar.
Benzinga mencatat, saham Bloom Energy berada di persentil ke-99 untuk momentum berdasarkan Benzinga Edge Stock Rankings. Posisi ini mencerminkan kepercayaan pasar yang kuat terhadap prospek pertumbuhan perusahaan tersebut.
Bagi investor yang memantau sektor AI infrastructure, kemitraan senilai miliaran dolar ini menjadi sinyal bahwa kompetisi pasokan energi akan semakin ketat. Perusahaan yang lebih awal mengamankan kapasitas energi mandiri dinilai memiliki keunggulan jangka panjang.
Sources:












