PDB Indonesia Kuartal III 2026: Ekonomi RI Diproyeksi Melambat Jelang Rilis BPS

Ringkasan
- Sejumlah ekonom memproyeksikan ekonomi Indonesia kuartal III 2026 tumbuh 5,0% hingga 5,33% yoy, mayoritas di bawah 5,29% pada kuartal II.
- Menurut kumparan, Josua Pardede dari Bank Permata memproyeksikan investasi dan konsumsi pemerintah tumbuh lebih lambat dibanding kuartal II, sementara Indeks Kondisi Ekonomi konsumen turun ke 107,5 pada September.
- BPS dijadwalkan merilis data tersebut pada Kamis (5/11/2026), yang relevan bagi iShares MSCI Indonesia ETF (EIDO) di bursa AS.
Gotrade News - Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan merilis data pertumbuhan ekonomi kuartal III 2026 pada Kamis (5/11/2026), dan sejumlah ekonom memproyeksikan laju 5,0% hingga 5,33% secara tahunan, mayoritas di bawah 5,29% pada kuartal II seiring moderasi belanja pemerintah dan investasi. Data ini relevan bagi iShares MSCI Indonesia ETF (EIDO) di bursa AS.
Capaian kuartal II menjadi pembanding terdekat. Menurut rilis resmi Badan Pusat Statistik, ekonomi Indonesia triwulan II-2026 tumbuh 5,29% dibanding triwulan II-2025 (yoy), dengan komponen konsumsi pemerintah mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 15,97%.
Tabel berikut merangkum pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia dalam tiga kuartal terakhir, disusun dari rilis resmi BPS untuk triwulan IV-2025, triwulan I-2026 dan triwulan II-2026.
| Periode | Pertumbuhan PDB (yoy) | Tanggal rilis BPS |
|---|---|---|
| Kuartal IV 2025 | 5,39% | 5 Februari 2026 |
| Kuartal I 2026 | 5,61% | 5 Mei 2026 |
| Kuartal II 2026 | 5,29% | 5 Agustus 2026 |
Proyeksi Ekonom: PDB Kuartal III 2026 di Kisaran 5,0% hingga 5,33%
Melansir kumparan, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memperkirakan pertumbuhan ekonomi triwulan III 2026 sebesar 5,23% yoy, sedikit di bawah kuartal II. Ia memproyeksikan konsumsi rumah tangga tumbuh 5,13% (kuartal II: 5,06%), investasi atau pembentukan modal tetap bruto melambat ke 5,59% dari 6,87%, dan konsumsi pemerintah ke 9,98% dari 15,97%. Ekspor neto diperkirakan mengurangi pertumbuhan sekitar 0,51 poin persentase.
Dalam laporan yang sama, Kepala Ekonom Bank Danamon Irman Faiz memproyeksikan pertumbuhan sekitar 5,0%, dengan konsumsi diperkirakan sedikit lebih moderat dan kontribusi ekspor neto terbatas. Prasasti Center for Policy Studies memproyeksikan 5,2%, menurut Suara, sementara Waterfront Research memperkirakan 5,33%, sedikit di atas capaian kuartal II, seperti dilaporkan Investor.id.
Daya Beli Jadi Sorotan: Indeks Kondisi Ekonomi Turun ke 107,5
Menurut kumparan, Indeks Kondisi Ekonomi (IKE) konsumen turun dari 109,4 pada Agustus menjadi 107,5 pada September, sementara penjualan eceran September tumbuh sekitar 1,4% yoy setelah 1,1% pada Juli dan 1,3% pada Agustus. Kredit konsumsi tumbuh 4,86%, jauh di bawah kredit investasi yang tumbuh 23,20%, dan inflasi pangan bergejolak (volatile food) mencapai 5,03% pada September.
Di sisi lain, kumparan mencatat belanja pemerintah hingga September 2026 naik sekitar 19% yoy menjadi Rp2.660,5 triliun, atau 69,2% dari pagu anggaran. Indeks manufaktur Bank Indonesia juga naik ke 52,28 pada kuartal III dari 51,43 pada kuartal II.
Dampak Data PDB Indonesia ke Saham AS: EIDO dan SPY
Bagi investor saham AS dari Indonesia, rilis PDB ini paling dekat kaitannya dengan EIDO, ETF berisi saham perusahaan Indonesia yang mengikuti indeks MSCI Indonesia IMI 25/50 dan tercatat di NYSE Arca. Sebagai pembanding, SPDR S&P 500 ETF Trust (SPY) adalah ETF yang mengikuti indeks S&P 500.
Dari sisi moneter, menurut Suara, anggota Board of Advisors Prasasti sekaligus Gubernur Bank Indonesia periode 2003-2008 Burhanuddin Abdullah menilai BI Rate yang kini 5,75% berfungsi sebagai jangkar kepercayaan pasar.
"Pelonggaran yang terlalu dini bisa memicu tekanan pada rupiah, dan ongkosnya bagi pertumbuhan justru lebih mahal," kata Burhanuddin.
Data Pasar EIDO dan SPY
Data penutupan sesi reguler 4 November 2026 waktu New York. Harga dan perubahan: Yahoo Finance, dicek silang dengan harga penutupan di Nasdaq.com.
Jadwal Rilis BPS Kamis (5/11/2026) dan Risiko Kuartal IV
Menurut Suara, BPS dijadwalkan mengumumkan data pertumbuhan ekonomi kuartal III 2026 pada 5 November 2026. Research Director Prasasti Adhi N. Saputro menilai tekanan dari fluktuasi harga minyak, penurunan panen dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) belum sepenuhnya terasa pada kuartal III.
Prasasti mencatat harga minyak mentah Indonesia (ICP) rata-rata sekitar US$92 per barel pada Januari hingga September 2026, jauh di atas asumsi APBN sebesar US$70, sementara produksi padi turun 18,3% pada September akibat El Nino. "Dampaknya baru akan terasa penuh pada kuartal IV, tepat ketika ekonomi justru dituntut tumbuh lebih cepat," ujar Adhi.
Untuk setahun penuh, Josua Pardede memproyeksikan pertumbuhan 2026 di kisaran 5,2% hingga 5,3%, di bawah target pemerintah 5,4% yang membutuhkan pertumbuhan sekitar 5,48% pada kuartal IV, melansir kumparan.
Artikel ini disusun untuk tujuan edukasi dan informasi, bukan nasihat investasi. Keputusan investasi ada di tangan kamu setelah melakukan riset mandiri.
Artikel ini disusun dengan bantuan AI dan diperiksa oleh tim Gotrade sebelum terbit.
Sumber
- Ekonomi Indonesia Triwulan II-2026 Tumbuh 5,29 Persen (Y-on-Y) (Badan Pusat Statistik)
- Indonesia's Economic Growth in Q1-2026 was 5.61 Percent (Y-on-Y) (BPS-Statistics Indonesia)
- Ekonomi Indonesia Tahun 2025 Tumbuh 5,11 Persen (Badan Pusat Statistik)
- Ekonom Proyeksi Ekonomi RI Kuartal III 2026 Melambat, Daya Beli Jadi Sorotan (kumparan)
- Pertumbuhan Ekonomi RI Diproyeksi 5,2-5,4% Q3 2026, Namun Tekanan Baru Terasa di Akhir Tahun (Suara.com)
- Ekonomi RI Diproyeksi Tumbuh 5,33% pada Kuartal III-2026 (Investor.id)
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.
Investasi saham berisiko tinggi dan tidak sesuai untuk semua orang. Lakukan analisis pribadi sebelum memutuskan.












